Minggu, 12 Januari 2020

Bingung Pilih Penerbit Indie atau Mayor? Berikut 5 Perbedaannya Agar Kamu Semakin Mantap!



Halo, selamat pagi...!


Dari kota Mojokerto saya mau menuliskan perbedaan Penerbit indie dan mayor yang sering menjadi kebingungan sendiri bagi penulis pemula. 

Tak sedikit teman-teman penulis pemula yang menanyakan kepada saya, apa sih perbedaan penerbit indie dan penerbit mayor? 
Tak usah bingung ya, yang penting kalian udah punya naskah mau di kirim ke penerbit indie maupun mayor, boleh. Hanya saja, untuk penerbit mayor ada ketentuan khusus tiap penerbit, jadi kalian harus kepoin dulu tuh penerbitnya. Bukan harus datang ke alamat penerbitnya, lihat-lihat saja akun sosmednya. Beres, kan? 

Baca juga : 9 Penerbit Ini Siap Terbitkan Komikmu


Nah, agar kalian pilihan kalian makin mantap, saya akan jelaskan lima perbedaan penerbit Indie dan penerbit mayor versi saya tentunya : 

1. Jumlah Cetak Buku

Penerbit Mayor biasanya mencetak minimal 2000 eksempler buku dan didistribusikan ke seluruh toko buku Gramedia atau toga mas atau toko buku lainnya seluruh Indonesia. 

Penerbit Indie bisa cetak sesuai dengan permintaan atau POD = Print On Demand. Mau cetak sepuluh, dua puluh, lima puluh, seratus, terserah kalian. Untuk penerbit indie ini bukunya tidak disitribusikan ke toko buku seluruh Indonesia. Jadi, kalian harus aktif berjualan karya kalian sendiri. Saran saya, bagi yang mau ambil penerbit Indie ini harus memiliki kecakapan menjuall bukunya, agar mendapat keuntungan yang maksimal. 

2. Pemilihan Naskah

Penerbit mayor akan menyeleksi naskah kalian dengan ketat. Ada banyak penulis senior maupun junior yang mengirimkan naskahnya ke penerbit mayor yang artinya saingan kalian sangatlah banyak. Oleh karena itu, naskah kalian haruslah dipersiapkan semaksimal mungkin, memiliki tema yang menarik dan kalau bisa beda dari yang lain. Jangan lupa perhatikan kerapian tulisan dan PUEBI-nya. Editor sangat menyukai penulis yang menulis naskahnya dengan rapi. 
Di Penerbit mayor ini, tidak semua naskah diterima. Terkadang naskah kamu harus mengalami penolakan, karena berbagai alasan tentunya. Saat itu, kalian jangan bersedih. Kalian bisa mencobanya ke penerbit yang lain. Terus saja seperti itu sambil naskahnya diperbaiki lagi. 

Penerbit Indie, tanpa adanya proses seleksi. Semua naskah yang masuk pasti akan diterbitkan. Tetapi ingat, kalian harus mencari penerbit indie yang eksistensi dan kredibilitasnya tak diragukan lagi. Untuk mengetahui hal ini, kalian harus bertanya kepada penulis senior yang pengalaman. Atau, cari tahu akun medsos penerbitnya lalu baca-baca track recordnya. Dari postingannya, dari terbitannya hingga orang-orang dibaliknya. Minimal google search nama penerbit, sukur-sukur terdaftar di IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia), kalau pun tidak terdaftar juga tetap legal (yang penting bukunya ada ISBN-nya), hanya kalian perlu hati-hati saja. Semuanya harus jelas di awal, jangan sampai merasa tertipu di kemudian hari. Oh iya, untuk menerbitkan di penerbit indie harus bayar ya, biasanya ada paketannya. Pelajari dengan seksama. 


3. Lamanya Waktu Penerbitan Buku

Penerbit mayor biasanya membutuhkan waktu minimal 3 bulan untuk melakukan proses review naskahmu. Ada juga yang sudah ada kabar 2 bulan atau bahkan 6 bulan, tapi rata-rata 3 bulan itu. Jadi kalian harus bersabar menunggu, dan daripada bengong, lebih baik nulis lagi tema baru. 

Penerbit indie tentu saja lebih cepat. Nggak sampai sebulan kadang buku sudah bisa terbit. Saya menyarankan untuk yang memilih penerbit indie agar kerjasama dengan teman-teman yang ahli di bidangnya. Misalnya : kerjasama dengan editor freelance yang mumpuni, karena biasanya penerbit indie tak memiliki editor yang bertugas memeriksa konten secara mendalam, mereka hanya memiliki Proofreader saja (memeriksa teknik penulisan saja). Walau pun tak semua begitu ya. Tujuannya ya untuk menghasilkan karya yang terbaik. 

4. Royalti 

Penerbit Mayor biasanya hanya memberikan royalti maksimal 10% dari harga jual kepada penulisnya. Kecil ya, iya betul. Karena mereka juga membutuhkan biaya cetak yang tak sedikit (modal). Untuk mencetak 2000 eks kan pastiya butuh modal gede ya. 

Penerbit Indie memberikan royalti bisa sampai 100% bagi penulisnya. Kalian harus memastikan ini di awal ya. Karena tak semua penerbit indie memberikan 100 %, tapi sebenarnya kalian bisa mendapatkannya sebesar itu. Silakan dikomunikasikan dengan baik. 

5. Biaya cetak

Penerbit mayor jelas biaya cetaknya lebih mahal, karena mencetak banyak sekaligus. Walau begitu, penulisnya tidak bayar sepeser pun. Karena naskahnya kan sudah pilihan penerbit

Penerbit indie biaya cetaknya ya lebih murah, tapi dibayar sama penulisnya semua. Biasanya ada paketannya tuh. 
Oh iya, untuk proses pengajuan ISBN itu gratis ya, kecuali untuk 2 buku terbit yang harus dikirimkan ke PERPUSNAS, penulis sendiri biasanya yang tanggung. 

Nah, sudah jelas kan perbedaan penerbit Indie dan penerbit mayor? Keduanya memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Yang jelas, mau nerbitkan dimana pun tetap harus hati-hati dan mengenal penerbitnya dengan baik. Selamat mengirimkasn naskah, semoga bukunya laris manis dan berkah bagi penulisnya. Aamiin. 

Artikel Terkait

adalah seorang Ibu dari dua anak hebat dan Penulis Buku. Bisa dihubungi di Facebook atau email yetinurma82@gmail.com


EmoticonEmoticon