Senin, 13 Januari 2020

9 Penerbit Buku Ini Siap Menerbitkan Komikmu. Kuy Kirim!



Hai, teman-teman. Selamat siaaangg ...! Selamat makan siang sambil membaca postingan keren saya ini. 

Jika kamu penyuka komik dan suka nulis komik, sangat harus baca postingan saya ini. Karena postingan ini berisi informasi bermanfaat untuk kamu dan bisa juga bermanfaat untuk saudara, sohib, calon mertua, atau bahkan mantan kamu.

Kamu suka nulis komik nggak? Kalau iya, jangan cuma ditulis doang, ayo coba kirim ke penerbit agar dibaca orang lain dan komikmu bermanfaat bagi orang lain juga. Keuntungannya kamu pun bisa mendapatkan penghasilan. Apalagi jika komik kamu cetak ulang lagi, dan lagi. Wiih, sudah pasti menggiurkan bukan? 

Komik saat ini memang tak bisa dipungkiri sangat diminati baik oleh anak-anak, remaja, maupun dewasa. Hal itu tentu saja tak lepas karena gambarnya banyak dan dialog yang kerap kali lucu. Bahkan tak jarang anak-anak lebih mudah menyelesaikan baca komik, daripada baca buku yang teksnya banyak. Bahkan nih ya, pemerintah pun mulai melirik dunia komik sebagai buku pendamping pembelajaran sekolah lo. 

Belakangan ini juga tak sedikit penulis yang mulai melirik skrip komik. Memang membuat komik tak perlu harus bisa menggambar atau mengilustrasi, karena ada ilustrator atau komikus yang bisa diajak kerjasama. Nah, jika kalian sudah punya naskah skrip komik, atau bahkan komik yang udah komplit dengan gambarnya, kalian jangan bingung mencari penerbit. Karena saya membawa berita gembira tentang 9 penerbit yang menerima naskah komik kamu. Siapa tahu salah satunya cocok dengan nsakah kamu. Kuy simak deh. 

1. Pustaka Al-Kautsar

Penerbit pertama yang menerima naskah komik adalah Pustaka Al-Kautsar. Penerbit ini menerbitkan naskah komik islami. Tahu kan komik seri AL-Fatih yang terkenal itu? Penerbitnya ya imprint Pustakan Al-Kautsar ini. Oh iya, penerbit ini menerima naskah komik anak, remaja hingga dewasa lo. Baik fiksi maupun nonfiksi.

2. Penerbi Zahira

Penerbit ini aku baca dari buku  komiknya yang terkenal yaitu "Pengen Jadi Baik" yang sudah diterbitkan hingga seri ke berapa ya itu? Lima ada kali ya, saking larisnya. Cek sendiri ya di medsos : Penerbit Zahira. Nah, kamu bisa coba juga kirimkan karya komik kamu terutama yang islami.

3. BIP

Penerbi BIP memiliki banyak koleksi komiknya, dari mulai komik anak hingga young adult sepertinya. Kalian bisa mengirimkan karya komik kalian ke penerbit ini, baik islami maupun umum. Kalau Islami akan terbit di Qibla (lini Islami), kalau umum ya di BIP-nya. Oh iya, BIP juga memiliki koleksi komik terjemahan yang lucu-lucu (anak saya suka). Juga komik yang mengusung tema remaja : Teen Comic  (Kalau ini emaknya yang suka haha). Silakan kepoin Fp-nya : Bhuana Ilmu Populer
4. Gema Insani

Penerbit satu ini juga menerbitkan komik-komik islami. Jika kalian memiliki naskah komik islami boleh kirim ke penerbit ini. Lihat koleksi komik terbitannya bisa membuat kalian tahu lebih dalam  karakteristik naskah kebutuhan penerbit.

5. Muffin Graphics

Ada yang tahu komik anak Next G? Ini dia penerbitnya, Muffin Grafhics yang merupakan imprint penerbit Mizan. Untuk mengirimkan naskah ke penerbit ini sebaiknya beli dulu komik Next G, karena ada ketentuan yang berhubungan dengan buku komik yang sudah diterbitkan, terutama bagi yang mau membuat komik serial Next G. Kepoin dulu Fp : Muffin Graphics

6. GPU

Saya menyebut penerbit besar ini bisa menerima naskah komik, karena baca buku komik terbitannya. Ada beberapa komik baik terjemahan maupun asli Indonesia pernah saya baca terbitan penerbit ini. So, kalian bisa juga coba kirimkan karyanya.

7. Dar! Mizan

Dar! Mizan menerima naskah komik islami. Beberapa karya teman-teman penulis sudah terbit di penerbit ini. Cari tahu email penerbitnya dan segera kirimkan karyanya ya. Siapa tahu diterima dan diterbitkan.

8. Funtastic MNC

Funtastic MNC juga menerima naskah komik baik tema umum maupun islami. Kalau ingin tahu terbitan penerbit ini lihat saja di akun medsosnya atau di toko buku. Biar jelas sekalian aja beli bukunya hehe. Bisa juga beli atau lihat di toko buku online.

9. Elex Media Komputindo

Elex media komputindo identik dengan komik scinece Why dan si Juki. Tapi, ternyata komik science Elex ada lo yang penulisnya asli Indonesia. So, kenapa kamu juga tidak coba? Kepoin saja akun instagramnya : Elex Kidz atau Elex Media Komputindo

Lalu setelah mengetahui penerbit bidikan kalian, langkah selanjutnya buatlah naskah komik ala kamu, biar original jangan niru punya orang ya. Cara membuat naskahnya bisa belajar dari buku komik yang sedang ada di pasaran seperti saya, pada awalnya saya belajar dari banyak buku komik. Lalu kalian bisa ikut training/workshop membuat naskah/skrip komik baik online maupun offline. Kuncinya sih praktik! Iya praktik. Tak ada gunanya ikut training ini itu, kalau tidak praktik! Eman-eman duitnya,ya kan?

Komik saya alhamdulillah ada yang sudag acc di salah satu penerbit besar di atas, dan bahkan mintanya komik serial. Doakan saya lancar mengerjakannya ya, karena dulu pengajuannya hanya dua bab saja sebagai contohnya.

Oke, itu saja secuil info dari saya. Bukan berarti yang terima komik hanya 9 penerbit itu saja ya, tapi lebih banyak pastinya. Cari tahu sendiri dan kalau sudah tahu kasih tahu saya juga boleh hehe. Walau tak banyak, tapi semoga tetap memberikan manfaat bagi teman-teman semua. Bermanfaat kan? Jawab iya saja dong. Terima kasih banyak ya. Ayo semangat menulis hingga menghasilkan karya terbaik!

Salam sayang,

Yeti Nurmayati di Mojokerto.


Minggu, 12 Januari 2020

Bingung Pilih Penerbit Indie atau Mayor? Berikut 5 Perbedaannya Agar Kamu Semakin Mantap!



Halo, selamat pagi...!


Dari kota Mojokerto saya mau menuliskan perbedaan Penerbit indie dan mayor yang sering menjadi kebingungan sendiri bagi penulis pemula. 

Tak sedikit teman-teman penulis pemula yang menanyakan kepada saya, apa sih perbedaan penerbit indie dan penerbit mayor? 
Tak usah bingung ya, yang penting kalian udah punya naskah mau di kirim ke penerbit indie maupun mayor, boleh. Hanya saja, untuk penerbit mayor ada ketentuan khusus tiap penerbit, jadi kalian harus kepoin dulu tuh penerbitnya. Bukan harus datang ke alamat penerbitnya, lihat-lihat saja akun sosmednya. Beres, kan? 

Baca juga : 9 Penerbit Ini Siap Terbitkan Komikmu

Nah, agar kalian pilihan kalian makin mantap, saya akan jelaskan lima perbedaan penerbit Indie dan penerbit mayor versi saya tentunya : 

1. Jumlah Cetak Buku

Penerbit Mayor biasanya mencetak minimal 2000 eksempler buku dan didistribusikan ke seluruh toko buku Gramedia atau toga mas atau toko buku lainnya seluruh Indonesia. 

Penerbit Indie bisa cetak sesuai dengan permintaan atau POD = Print On Demand. Mau cetak sepuluh, dua puluh, lima puluh, seratus, terserah kalian. Untuk penerbit indie ini bukunya tidak disitribusikan ke toko buku seluruh Indonesia. Jadi, kalian harus aktif berjualan karya kalian sendiri. Saran saya, bagi yang mau ambil penerbit Indie ini harus memiliki kecakapan menjuall bukunya, agar mendapat keuntungan yang maksimal. 

2. Pemilihan Naskah

Penerbit mayor akan menyeleksi naskah kalian dengan ketat. Ada banyak penulis senior maupun junior yang mengirimkan naskahnya ke penerbit mayor yang artinya saingan kalian sangatlah banyak. Oleh karena itu, naskah kalian haruslah dipersiapkan semaksimal mungkin, memiliki tema yang menarik dan kalau bisa beda dari yang lain. Jangan lupa perhatikan kerapian tulisan dan PUEBI-nya. Editor sangat menyukai penulis yang menulis naskahnya dengan rapi. 
Di Penerbit mayor ini, tidak semua naskah diterima. Terkadang naskah kamu harus mengalami penolakan, karena berbagai alasan tentunya. Saat itu, kalian jangan bersedih. Kalian bisa mencobanya ke penerbit yang lain. Terus saja seperti itu sambil naskahnya diperbaiki lagi. 

Penerbit Indie, tanpa adanya proses seleksi. Semua naskah yang masuk pasti akan diterbitkan. Tetapi ingat, kalian harus mencari penerbit indie yang eksistensi dan kredibilitasnya tak diragukan lagi. Untuk mengetahui hal ini, kalian harus bertanya kepada penulis senior yang pengalaman. Atau, cari tahu akun medsos penerbitnya lalu baca-baca track recordnya. Dari postingannya, dari terbitannya hingga orang-orang dibaliknya. Minimal google search nama penerbit, sukur-sukur terdaftar di IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia), kalau pun tidak terdaftar juga tetap legal (yang penting bukunya ada ISBN-nya), hanya kalian perlu hati-hati saja. Semuanya harus jelas di awal, jangan sampai merasa tertipu di kemudian hari. Oh iya, untuk menerbitkan di penerbit indie harus bayar ya, biasanya ada paketannya. Pelajari dengan seksama. 

3. Lamanya Waktu Penerbitan Buku

Penerbit mayor biasanya membutuhkan waktu minimal 3 bulan untuk melakukan proses review naskahmu. Ada juga yang sudah ada kabar 2 bulan atau bahkan 6 bulan, tapi rata-rata 3 bulan itu. Jadi kalian harus bersabar menunggu, dan daripada bengong, lebih baik nulis lagi tema baru. 

Penerbit indie tentu saja lebih cepat. Nggak sampai sebulan kadang buku sudah bisa terbit. Saya menyarankan untuk yang memilih penerbit indie agar kerjasama dengan teman-teman yang ahli di bidangnya. Misalnya : kerjasama dengan editor freelance yang mumpuni, karena biasanya penerbit indie tak memiliki editor yang bertugas memeriksa konten secara mendalam, mereka hanya memiliki Proofreader saja (memeriksa teknik penulisan saja). Walau pun tak semua begitu ya. Tujuannya ya untuk menghasilkan karya yang terbaik. 

4. Royalti 

Penerbit Mayor biasanya hanya memberikan royalti maksimal 10% dari harga jual kepada penulisnya. Kecil ya, iya betul. Karena mereka juga membutuhkan biaya cetak yang tak sedikit (modal). Untuk mencetak 2000 eks kan pastiya butuh modal gede ya. 

Penerbit Indie memberikan royalti bisa sampai 100% bagi penulisnya. Kalian harus memastikan ini di awal ya. Karena tak semua penerbit indie memberikan 100 %, tapi sebenarnya kalian bisa mendapatkannya sebesar itu. Silakan dikomunikasikan dengan baik. 

5. Biaya cetak

Penerbit mayor jelas biaya cetaknya lebih mahal, karena mencetak banyak sekaligus. Walau begitu, penulisnya tidak bayar sepeser pun. Karena naskahnya kan sudah pilihan penerbit

Penerbit indie biaya cetaknya ya lebih murah, tapi dibayar sama penulisnya semua. Biasanya ada paketannya tuh. 
Oh iya, untuk proses pengajuan ISBN itu gratis ya, kecuali untuk 2 buku terbit yang harus dikirimkan ke PERPUSNAS, penulis sendiri biasanya yang tanggung. 

Nah, sudah jelas kan perbedaan penerbit Indie dan penerbit mayor? Keduanya memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Yang jelas, mau nerbitkan dimana pun tetap harus hati-hati dan mengenal penerbitnya dengan baik. Selamat mengirimkasn naskah, semoga bukunya laris manis dan berkah bagi penulisnya. Aamiin. 

Senin, 30 Desember 2019

Bagaimana Sih Keseruan Pertemuan Penulis GLN Tahun 2019? Ayo Baca Kisahnya : Seru dan Padat Ilmu!



Oke, setelah saya menuliskan syarat-syarat mengikuti GLN 2019, lalu saya dinyatakan lolos dan persiapan yang tidak mudah untuk menuju ke Jakarta, kini saatnya saya menuliskan tentang kegiatan selama di Jakarta sana. 

Ngapain saja sih kami? Apa sempat jalan-jalan?

Heboh pastinya. Secara hampir 100 orang penulis buku anak tumplek di sana. Mereka berasal dari seluruh penjuru nusantara. Dan saya pun sangat bangga bisa berada di antaranya. Ibarat kata anak bau kencur, ikutan reuni akbar penulis. hihi.. Sungguh anugerah Allah yang Maha Baik.

Pertama datang disambut Mas Sanjaya dan teman-teman panitia lainnya. Semua peserta registrasi sekaligus menyetorkan kwitansi transportasi selama perjalanan PP, lalu kami dibagikan name tag dan buku panduan kegiatan. Setelah itu, kami dipersilakan makan siang dan masuk kamar hotel. Waah... saya dalam keadaan lapar berangkat nyubuh dari Tasikmalaya, disediakan makanan yang banyak, saya terus terang kalap, Mak. Sampai isin dilihat Kang Ali wahahaha... 


Buku Panduan dan Name Tag

Setelah makan, alhamdulillah kami diberikan waktu istirahat saling mengenal teman sekamar masing-masing. Saya mencari nomor kamar, dan ternyata kuncinya sudah diambil Bu Anna yang sekamar dengan saya. Saya telepon beliau tapi nggak diangkat, lalu sayapun telepon ke telepon kamar, alhamdulillah dia sudah ada di kamar! Kami mendaapt kamar di lantai 8 (beruntung tidak di lantai 12. Emang kenapa? Ada deh haha). Akhirnya bertemu Bu Anna yang baik dan tidak sombong. Beliau ternyata seorang pakar pendidikan sekaligus konselor Paud. Kesan pertama lihat, Bu Anna adalah orang yang tegas dan jaim, tapi ternyata tidak sama sekali. Kami malah sering ketawa-tawa, baik di kelas maupun di kamar, tak peduli apa pun masalahnya, yang penting heppy we ceunah haha. 




Bersama my Roomate, Bu Anna

Wefie kita hihihi 

Hari Pertama Ngapain saja? (Rabu, 24 April 2019)

Hari pertama pembukaan dimulai pukul 15.30. Diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya 3 Stanza. Sangat hikmat, secara kami semua dianjurkan memakai batik. Semarak corak batik yang keren dari seluruh pelosok nusantara berpadu dengan kehidmatan lagu Indonesia Raya. Sangat mengharukan bagi saya berdiri di sana. Acara dilanjut dengan doa dan laporan panitia. Selanjutnya adalah  sambutan oleh Bapak Kepala Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Prof Dr. Dadang Suhendar, M.Hum. Beliau memberikan paparan dan pandangan tentang literasi saat ini dan upaya-upaya yang dilakukan pemerintah termasuk adanya pertemuan penulis bahan bacaan literasi baca-tulis 2019 itu. Beliau pun membunyikan gong pertanda pertemuan penulis dimulai! Yeaaayy!

Ada satu acara yang cukup mencuri perhatian kami, yaitu pemberian piagam penghargaan kepada seluruh penulis yang diawakili Kang Ali Muakhir. Serasa udah sah menjadi penulis, Mak! :)

Acara semakin ramai dengan adanya penampilan opera anak-anak yang bertemakan literasi tentunya. Tarian, nyanyian, drama berpadu dengan penampilan alami mereka nan Imut dan menggemaskan! Seruuu dan menghibur! Kalian anak-anak yang hebat!

Nah, acara hari pertama berakhir dengan sesi foto bersama. Seru dan meriweh pokoknya. Selfi dimana-mana, beruntung memiliki teman sekamar yang juga hobi berfoto, jadi kita bisa foto-foto sampai puas. 


Bersama sebagian penulis dan Pak BT

Pukul 18.00-19.00 adalah wkatu kami mandi, solat dan makan malam. Malamnya, kami harus masuk kelas lagi, belajar lagi materi "Strategi Pembuatan Bahan Bacaan Literasi Baca-Tulis untuk Pembaca Dini dan Pra Membaca" dengan narasumber Dr. Hurip Danu Ismadi, M.PD. Acara hari pertama selesai pukul 21.00. 

Hari Kedua Ada Apa? (Kamis 25 April 2019)

Hari kedua dimulai pukul 08.00 dengan materi "Ilustrasi sebaga Strategi Penguatan Cerita Anak." dengan Narasumber Bapak Sigit Priyasmono, seorang yang memang ahli di bidang ilustrasi. Materi yang didapat sangat banyak dan daging semua. Terutama soal pembuatan ilustrasi. Sebetulnya ini cocok banget sebagai materi bagi para Ilustrator, tetapi bagi saya yang sering kerjasama bareng ilustrator pun sangat bermanfaat. Acara berlangsung sampai pukul 10.00.


Foto kesekian kalinya hihi

Setelah 15 menit istirahat atau coffee Break, acara dilanjut dengan materi "Penjenjangan Buku Cerita Anak" oleh Mbak Sofie Dewayani, seorang penulis, trainer dan salah satu founder litara Foundation (kalau tidak salah). Bu Sofie mengupas tuntas tentang penjenjangan buku anak dan berbagai informasi keren lainnya. Acara berlangsung hingga pukul 12.15. 

Lalu kami istirahat hingga pukul 13.00 dan dilanjut oleh materi Pak Bambang Trimansyah, seorang yang tak asing lagi di kalangan penulis buku anak. Pak Bambang mengupas tuntas soal "Proses Kreatif Penulisan Cerita Anak". Banyak ilmu dan pengalaman yang dipaparkan beliau. Saya sebagai pemula sangat beruntung bisa mendengar materi Pak BT yang keren. Yang paling ingat dari materi Pak BT adalah soal awalan cerita dan tema buku anak yang sudah old, semacam tema liburan ke rumah nenek itu hihi... 

Pukul 15.00-15.30 kami istirahat dan solat, acara pun dimulai lagi dengan materi Bu Dewi Utama Fauziah dengan mengupas tuntas soal Kearipan Lokal dalam Cerita Anak. Dari beliau saya banyak tahu soal sejarah buku di Jepang, jenis buku-buku anak Jepang dan banyak hal deh yang kesemuanya membuat saya semakin kaya ilmu. Keren bu Dewi ini sering jalan-jalan ke luar negeri dengan khusus mengamati literasi bangsa yang dikunjunginya. Akutu pengen kayak gitu, Mak!

Jam 17.30-19.00 istirahat, mandi, solat dan makan malam. Kang Abik (Habiburrahman El Shirazy) menghangatkan suasana malam Jumat kami dengan materi Proses Kreatif Penulis untuk Membangun Penguatan Karakter dala, Cerita. Kang Abik begitu memesona memaparkan pembuatan karakter agar disukai pembaca. Acara diakhiri dengan foto bersama bareng sang maestro dalam dunia kepenulisan. Tentu saja ada banyak permintaan peserta kepada Kang Abik terutama soal foto (maklum beliau kan selebritis juga ya) hehe...



Kang Abik yang begitu berkharisma


Hari Ketiga Ngapain? (Jumat, 26 April 2019)

Hari Jumat ternyata sudah dibuatkan pengelompokkan kelas yang masing-masing dibimbing oleh para narsum kemarin. Seluruh penulis dibagi menjadi 4 kelompok. Kelompok A dibimbing Pak Bambang Trim, Kelompok B oleh Bu Dewi Fauziah, kelompok C oleh Bu Sofie Dewayani dan kelompok D oleh Pak Sigit Priyasmono. Saya berada di kelompok D bersama Mbak Watiek Ideo, Mbak Dwi Rahmawati, Mas Redy, Mbak Widya Ros, Mbak Baby Haryani D, Mbak Tria Ayu, Teh Ina Inong, dan banyak yang lainnya sekitar 23 orang.  

Seharian kami diharuskan mempresentasikan buku apa yang akan dibuat dan ilustrasinya sebanyak 30 %. Semua tampak tegang! Hihihi... walau pun sudah dipersiapkan dari semalam bahkan sebelum berangkat ke jakarta, kalau harus presentasi kan lain lagi ceritanya. Urutan presentasinya dengan cara diundi pula! dan makin tegang deh kami haha... terutama saya deh.


Kita para punggawa kelompok D 

Tapi alhamdulillah sebelum pukul 19.00 malam, saya sudah maju presentasi dan mendapat masukan (lega). Tapi ada banyak penulis yang belum kebagian presentasi, alhasil dilanjut malam. Padahal, malam itu ada materi Bu Murti Bunanta dengan tema "Membuat Cerita Anak Mendunia!" . Penulis yang belum persentasi terpaksa tidak mengikuti sesi bu Murti ini. Dan, saya pun hanya bisa sampai jam 20.00 saja, karena ada telepon dari kakak saya, bahwasannya anak saya sakit di Tasik. Wah, kebayang kan rasanya? kaget iya, bingung iya, sedih iya. Alhasil dengan berurai air mata saya menemui panitia. Saya bilang mau izin pulang malam itu juga. 




Saat paling mendebarkan hihi

Perjalanan Pulang

Karena alasan anak sakit dan tidak mau berhenti menangis (kuyakin karena merindukan ibunya anak saya ini), saya pun diantar pulang oleh Mas Sanjaya yang baik hati. Mencari bus yang ke Tasikmalaya sekitar pukul 21.30 malam karena saya kan harus menyelesaikan urusan adiministrasi dulu. Alhamdulillah setelah berkendara motor dibonceng Mas Sanjaya, kami berhasil menembus kemacetan Jakarta. Saya pun menemukan bus terakhir menuju Tasik. Capek sangat, secara rencananya mau pulang naik pesawat dengan Kang Iwok besok paginya, tiketnya hangus deh hihihi..



Alhamdulillah....Allah Maha Baik 

Ya begitulah, emak-emak. Rempong, namun mengasyikan! Alhamdulillah semuanya membawa berkah buat saya. Ilmu yang banyak, silaturahmi, mengenal banyak hal, menemukan sosok yang sangat perhatian dan tentu saja diri saya yang memang berharga, setidaknya untuk putri saya. Capek tapi menyenangkan hingga tak terasa capeknya. Perjalanan panjang dari Mojokerto-Tasikmalaya-Jakarta PP dengan seorang asisten cilik yang merindukan emaknya. Momentum GLN 2019 ini sangat berpengaruh bagi saya, terutama dalam membuat keputusan untuk fokus menulis cerita anak dengan lebih percaya diri. 

Senang deh menjadi bagian GLN 2019, semoga buku yang saya buat berkolaborasi dengan Kang Ramdan bermanfaat untuk anak bangsa di seluruh nusantara. Doakan saya tahun depan juga menjadi salah satu penulis GLN 2020 ya, aamiin. 


Salah satu ilustrasi keceh di dalam buku Balapan Sampah karya saya.
Dibuat oleh Kang Ramdan (Endan Ramdan)

Itulah sekelumit curhatan saya tentang Pertemuan Penulis Bahan Bacaan Literasi Baca Tulis 2019 di Hotel Kartika Chandra Jakarta. Teman-teman saya ada yang sempat jalan juga ke Perpustakaan nasional di hari Sabtunya. Kalau saya sudah di Tasik dan memeluk si bungsu yang begitu bahagia melihat ibunya pulang. 




Minggu, 10 November 2019

Punya Naskah Anak, Tapi Bingung Kirim Kemana? Berikut Sebelas Alamat Email Penerbit Anak yang Bisa Kamu Coba



"Mbak, aku punya naskah anak ini. Tapi bingung mau kirim kemana ya? Aku nggak tahu alamat emailnya!" kata seorang teman penulis di Wa atau Messengger. 

Biasanya saya akan memberikan alamat email redaksinya, atau disuruh cari tahu sendiri dengan tanya admin medsos penerbit. Iya saya juga dulu cari tahu satu per satu lewat inbox atau DM Penerbit tersebut. Nah, mulai sekarang agar teman-teman lebih mudah, tidak perlu repot-repot nyari alamat email penerbit, saya kasih tahu saja deh. Tidak perlu berterima kasih, apalagi kirim makanan segala, doakan saja saya ya (ini mah mengharap balasan banget ya? Hahaha) Nggak kok, becanda.

Baiklah, dari banyaknya penerbit mayor yang menerima naskah anak di Indonesia, saya akan menuliskan alamat emailnya beberapa saja. Artinya yang pernah saya kirimin. Tetapi ingat, sebelum mengirimkan naskah ke penerbit, kamu harus cari tahu dulu tentang penerbit tersebut. Apakah menerima naskah seseuai dengan tema yang kamu ambil atau tidak? Agar sesuai dan kemungkinan diterimanya gede. 

Baca juga : Keseruan Pertemuan Penulis Gerakan Literasi Nasional Tahun 2019

Dari mana cari tahunya? Ya dari buku terbitannya. Kamu harus aktif melakukan survey kecil-kecilan ke toko buku atau lewat online (lihat-lihat aku penerbit di media sosial). Jika sudah cocok, barulah kamu kirim. Jangan lupa juga, pastikan naskahnya udah rapi, agar Editor terpukau pada pandangan pertama eeaaa hehe... 

Berikut sebelas alamat email Penerbit anak yang harus coba kamu kirimin naskah. 

1. Bhuana Ilmu Populer (BIP)

Alamat emailnya : redaksi.bip.gramedia@gmail.com 

2. Elex Kids

Untuk Elex Kids alamat email redaksinya : elex.kids17@gmail.com 
Bisa juga langsung ke editornya : dewa@elexmedia.id

3. Quanta Kids 

Naskahmu bisa dikirim ke Editor langsung yaitu dengan email : jarwati@elexmedia.id

4. Penerbit Duta

Alamat email : nonteks.penerbitduta@gmail.com 

5. Penerbit Keira 

Alamat emailnya : Keirakidss@gmail.com 

6. Penerbit Cheklist

Alamat emailnya : checklist.media@gmail.com 

7. Tiga Ananda 

Alamat emailnya : tspm@tigaserangkai.co.id 
Jangan lupa subjeknya harus jelas untuk Tiga Ananda 

8. Penerbit Kanak 

Alamat emailnya : kanak@bumiaksara.com 

9. Al Kautsar 

Alamat emailnya : redaksi@kautsar.co.id  

10. Noura Books 

Alamat emailnya : redaksi@noura.mizan.com 

11. Visi Mandiri 

Alamat emailnya : Visimandiripublishing@gmail.com 

Itulah sebelas alamat email penerbit anak yang bisa kamu coba kirimin naskah. Tentu saja ada banyak penerbit lainnya yang bisa juga kamu cari dan kirimin naskah. Jangan lupa pelajari dulu kebutuhan penerbit, yah (maksa). Jika memang diterima, alhamdulillah. Jika tidak, jangan menyerah. Karena hidup itu indah. Jangan dibuat gundah. Sudah ah. Dadah! 

Rabu, 16 Oktober 2019

Punya Anak Selalu Ngeselin? Yuk Baca Hasil Parenting Seru Bersama Ustad Naruto


Dok : Yeti Nurmayati

Siapa yang sudah tahu Ustad Naruto? Cung! Ustad kok kaya tokoh kartun Jepang ya. Hihi.. saya pun baru kenal pas hari itu, Mak. Di acara Parenting di sekolah anak gadis saya, SDIT Permata Mulia Mojokerto. Awalnya saya pun cukup kaget, hah Ustad Naruto? Lalu saya pun cari tahu tentang beliau. Eh ternyata beliau Ustad muda yang cukup terkenal di Surabaya khususnya. Karena beliau memang asalnya dari Surabaya.

MENGENAL USTAD NARUTO

Nama asli Ustad Naruto adalah Marzuki Imron, ST. Beliau adalah lulusan Teknik Mesin ITS Surabaya. Sudah memilik istri dan putri sepertinya (beliau tidak terlalu banyak bicara soal keluarganya). Yang pasti beliau tinggal di Surabaya. 

Kenapa dikenal sebagai Ustad Naruto?

Berdasarkan info yang saya lihat di you tube pada acara Hitam Putih Trans 7, beliau menceritakan asal muasal julukan tersebut ketika ditanya oleh Mas Deddy Corbuzier. Katanya, awalnya karena beliau tahu kalau target dakwahnya adalah anak-anak mahasiswa (muda), maka agar lebih diterima oleh mereka, Ustad memutuskan memakai jaket Naruto. Tak disangka responnya luar biasa, para mahasiswa menjulukinya Ustad Naruto. 

Kenapa Ustad pilih tokoh Naruto bukan Boboi Boy misalnya atau Power Ranger gitu? 


Ustad Naruto memegang Buku Cerita-cerita Sains Terbaik dari hadis Nabi karya saya
(Dok. Yeti Nurmayati)

Karena Ustad memiliki kisah yang cukup mendalam dengan film animasi itu. Dulu, katanya saat beliau masih menjadi mahasiswa pernah berada di titik terendah dalam hidupnya. Saat berada di kamar kost, beliau memutuskan untuk nonton film kartun Naruto secara maraton. Beliau memang penasaran dengan sosok Naruto yang banyak disukai teman-temannya itu. Nah, pada satu scene dimana Naruto yang kadang sok bijak itu berkata soal takdir, kok tetiba omongan itu nancap di hati sang Ustad. 

Singkatnya, beliau mengatakan perkataan Naruto itu lumayan membuatnya bersemangat kembali. Bisa jadi beliau juga berterima kasih  pada film Naruto yang telah membuatnya bangkit dari keterpurukan. Hingga saat ini, Naruto dan Ustad Marzuki Imron tak terpisahkan. La wong putrinya juga namanya Himawari hihi... 

Itulah sekilas mengenal Ustad Naruto yang kubilang sangat energik dan menghibur. 


PARENTING YANG SANGAT EKSPRESIF DAN BERAPI-API 

Kedatangan Ustad Naruto ke Mojokerto itu adalah undangan dari SD dimana anak bungsu saya sekolah. SD tempat anak saya belajar, sengaja mengundang beliau untuk mengisi acara parenting orang tua murid agar lebih paham lagi soal mendidik anak.  

Ketika pertama kali melihat beliau, orangnya seperti pendiam dan saya pikir akan menyampaikan materi dengan biasa saja. Standar dan mungkin membosankan. Tapi, tahu tidak, dugaan saya itu sangat keliru. Ustad Naruto sangat energik layaknya Naruto kalau sedang meneriakan musuh-musuhnya. Lantang, lugas dan penuh hiburan (kadang konyol).

Di luar ekspektasi saya, Ustad Naruto sangatlah ekspresif dan all out! Saya sejak pertama beliau ceramah sudah terhipnotis memperhatikan seluruh ekspresi wajah dan isi materi yang disampaikannya. Sedikit-sedikit tertawa riuh, iya semua terhibur. Tapi jangan salah, materi yang disampaikannya pun amat keren. 

Kesimpulan saya, Ustad Naruto adalah salah satu ustad muda yang unik. Beliau memilih untuk akrab di berbagai kalangan dengan caranya. Bagi saya ini sangat luar biasa keren. Sebuah inovasi seorang Ustad merangkul umatnya. Tapi ada yang lebih keren lagi dari itu, beliau bukan ustad sembarang ustad. Beliau Ustad yang peduli urusan parenting. Iya, seperti yang saya tulis di awal, beliau di undang untuk acara parenting bukan hanya sekedar ceramah. Ilmu parentingnya pun mantap dan sangat cocok untuk keadaan orang tua zaman now


Ibu-Ibu Komite dan Perwakilan kelas foto bareng Ustad Naruto
(Dok. Yeti Nurmayati)

ISI MATERI YANG DISAMPAIKAN GURIH, RENYAH DAN BERBOBOT

Bicara isi materi yang disampaikan, saya kebetulan menuliskan poin pentingnya saja. Ustad Naruto menyampaikan materi mengenai cara mendidik anak yang baik sesuai dengan fitrahnya. Cara mendidik anak di keluarga, karena memang keluarga adalah lingkungan pertama dan utama bagi pertumbuhan anak. 

Setidaknya, ada tiga poin penting yang wajib dilakukan orang tua agar anaknya sukses menjadi insan mulia, berakhlak baik dan berkarakter. Apa saja poin penting itu? Yuk kita bahas satu per satu. 

1. Berbicara pada anak sesuai dengan usianya

Ini sangat penting dan menentukan apakah ilmu yang akan kita sampaikan akan diterima dengan baik oleh anak atau malah sebaliknya. Bicara dengan anak juga ada ilmunya lo, Ayah Bunda. Dan, kita sebagai orang tua harus paham itu agar tercapai apa yang menjadi tujuan kita. Ketika bicara dengan anak balita tidak mungkin kan kita mengajaknya diskusi? Yang ada anak malah bingung. 

Berdasarkan ilmu yang disampaikan oleh Ustad Naruto, ada tiga bahasa yang dapat dipakai orang tua dalam menyampaikan nilai-nilai kebaikan pada anak berdasarkan usia mereka. Apa saja ya? Yuk simak.

a. 0-7 tahun : Bahasa Cerita/Dongeng

Anak usia ini memang paling suka dibilangin dengan cara bercerita atau mendongeng. Ayah atau Bunda bisa membuat dongengnya sendiri dengan nilai-nilai kebaikan yang telah disiapkan, atau bisa menyontek dari buku atau bahkan bisa sambil membacakan buku (jujur saja, bagian ini saya tambahkan ya, maklum saya kan penulis buku anak hihi). 

Anak usia ini akan mudah menerima nilai-nilai kebaikan dari menyimak cerita. Apalagi jika Ayah dan bundanya hebat dalam bercerita. Anak-anak pasti happy dan di alam bawah sadarnya akan tertanam nilai-nilai kebaikan itu. Ciptakan suasana menyenangkan setiap kali ayah bunda bercerita atau membacakan buku, bacakan dengan ekspresif, insya Allah anak-anak akan ketagihan.

b. 8-14 tahun : Bahasa contoh

Nah di masa menuju remaja, seorang anak butuh contoh. Bukan lagi cerita apalagi dongeng. Tapi real, contoh yang nyata. Di uisa ini ayah bunda wajib menyontohkan perilaku yang ingin anak tiru. Tidak perlu banyak bicara, apalagi teriak, cukup perlihatkan jadi seorang muslim/muslimah yang baik itu seperti apa. Ketika ayah menginginkan anaknya salat di Masjid, ketika terdengar azan, Ayah langsung ambil air wudu, lalu pakai sarung, koko plus kopiyah dan gandeng anaknya menuju masjid. 

Di sinilah dibutuhkan peran kedua orang tua yang selalu konsisten. 


c. 14-selamanya : Bahasa Diskusi

Setelah dewasa, anak akan tetap membutuhkan orang tua. Jika ternyata anak melakukan kesalahan, bicarakan dengan cara diskusi. Ajak anak diskusi dengan santai dan jadilah temannya yang mengasyikan. 


2. Jangan Memaksakan Keinginan Anak

Nomor dua setelah bahasa yang sesuai dengan usia anak, adalah jangan pernah memaksakan kehendak orang tua. Biarkan akan memiliki hobi, memiliki kesenangannya sendiri selama itu positif. Biarkan anak dengan pilihan hidupnya, jangan memaksakan hidup anaknya. Seorang anak yang terpaksa mengikuti kehendak orang tua sudah pasti bakalan tidak bahagia alias tersiksa batinnya. Dan, bisa jadi suatu hari dia akan membenci orang tuanya. 

3. Doa yang tak pernah putus

Menjadi orang tua sejatinya adalah memperbaiki kualitas hidup sendiri. Jika Ayah Bunda menginginkan anaknya soleh solehah, maka Ayah Bunda dulu harus soleh solehah. Jika menginginkan anak laki-lakinya lembut dan menghormati perempuan, maka ayah harus menyontohkannya pada Bunda. Jika ingin anak perempuannya jadi istri yang baik, maka bunda harus menyontohkan jadi istri yang baik. Dan lain-lain. 

Berat? Sangat. 

Karena kebanyakan dari kita adalah ingin anaknya soleh solehah, tapi dirinya tak mau belajar. Tidak mau memperbaiki diri, tak mementingkan ilmu agama, apalagi ilmu parenting. Hanya dengan bisa memiliki anak, dipikir sudah cukup dibilang jadi orang tua. Tidak. Bayangkan saja, Anda dititipi seorang anak oleh Allah untuk dibimbing dan dididik sebaik-baiknya. Dan, kelak Anda akan dimintai pertanggungjawabannya. Apa yang sudah Anda lakukan untuk anak Anda? 

Apa cukup hanya dengan memberinya uang? No. 

Anak bisa tumbuh badannya dengan uang, tapi hatinya kosong. Anak tidak bahagia, anak mungkin akan mencari figur orang lain yang bisa jadi malah dari orang yang tidak bertanggungjawab. Kehangatan dalam keluarga sangat berdampak pada prestasi, kecerdasan emosi dan ketahanan mental anak. 

"Ah urusan anak mah biar ibunya saja yang pegang, aku kan kerja," kata Ayah. 

Tidak bisa begitu, Ayah. Itu artinya Anda tidak bertanggungjawab. Seorang Ayah tugasnya bukan hanya mencari nafkah, tapi lebih dari itu. Tahu tidak, Indonesia ini sedang krisis ayah lo. Peran ayah dalam keluarga Indonesia itu minim. Sehingga bermunculan anak-anak yang lebay, anak cowok yang kecewek-cewekan, dan kasus lainnya. Bukan itu saja, ada banyak anak perempuan yang mencari pengganti ayahnya di luar. Naudzubillah

Ayah lebih suka sibuk mencari uang dan kerja, dari pada bermain dan menemani anak. Ayah tak pernah mau tahu urusan anak dan rumah tangga. Padahal, apa artinya uang jika anaknya rusak? Betul kan? Iya siapa pun tahu uang juga penting, tapi Ayah juga memiliki keawjiban lain yang juga penting, yaitu mendidik anak!

Terkadang, Ayah ada di rumah pun hanya raganya saja, jiwanya tidak ada. Padahal, ayah seharusnya menjadi panutan bagi anak-anaknya. Ayah juga yang memimpin berjalannya rumah tangga. 


Keluarga yang kuat berasal dari ayah yang peduli dan hangat. 

Wah, jadi kepanjangan ceritanya. 

Itulah sekelumit ilmu yang saya dapatkan dari acara parenting bersama Ustad Naruto di SDIT Permata Mulia. Sungguh ilmu yang sangat bagus dan cocok untuk fenomena saat ini. Sebuah pertemuan yang bagi saya sangat berkesan, karena saya pun cukup hapal tokoh-tokoh film Naruto. Kebetulan anak saya yang besar juga ngefans sama Naruto. 

Mohon maaf jika ada salah-salah, semoga tulisan ini bermanfaat bagi siapa pun yang membacanya. AAmiin 








Minggu, 06 Oktober 2019

Perjalanan Menuju Pertemuan Penulis Gerakan Literasi Nasional (GLN) Tahun 2019


Sebagian dari teman-teman penulis dari penjuru tanah air
(Dok. Yeti Nurmayati)

Setelah dinyatakan lolos seleksi, kami yang terdiri dari 96 penulis buku anak dikumpulkan dalam sebuah grup whatshapp. Di sanalah perkenalan dan segala tek tek bengek tentang proses selanjutnya diinfokan. Perasaan saya tentu saja very happy. Serasa mimpi. Serasa telah lulus jadi penulis beneran juga, wahahaha. Apalagi bisa berkenalan dengan para senior di dunia buku anak, seperti : Kang Ali Muakhir, Kang Iwok Abqary, Mbak Tria Ayu, Mbak Widya Ross, Mbak Watiek Ideo, Mbak Nindya Maya, Mas Redy Kuswanto, Mbak Baby Haryani Dewi, Mbak Wylvera, Teh Ary Nilandari dan lain-lain. Pokoknya nama-nama penulis yang selama ini aku baca di cover buku mereka, akan segera saya temui langsung di Jakarta. 

Berdasarkan planning panitia, kami akan dikumpulkan di Hotel Kartika Chandra Jakarta selama tiga malam empat hari. Tepatnya tanggal 24-27 April 2019 (Rabu-Sabtu). Horeee... akhirnya emak bisa piknik juga! Ahaha, kok piknik sih? Belajar keles. 


Tanda Pengenal dan Buku Panduan
(Dok. Yeti Nurmayati)


MENGONDISIKAN ANAK-ANAK

Tanggal telah ada. Emak malah jadi deg-degan, karena tanggal 22 April itu adalah Ujian Nasional anak SD. Kebetulan sulung saya, Kak Aziz memang kelas enam dan akan ikut UN pastinya. Saya coba bicarakan dengan Kakak tentang jadwal keberangkatan Emak. Secara emak kan jauh dari keluarga besar, keluarga perantau. Jika emak pergi, otomatis kakak dengan ayahnya. Nah saat itu, Ayahnya ada acara juga ke Surabaya, meeting kantor. Jadilah emak makin bingung. 

Alhamdulillah si Kakak sendiri akhirnya yang kasih solusi. Di hari pertama, dia akan nginep di rumah temannya. Hari kedua kebetulan papanya pulang. Dia hanya akan menginap semalam saja. Sulung saya ini memang sudah mandiri soal belajar. Jadi saya tak khawatir lagi kalau soal persiapan materinya dia. Oke kakak udah siip. Nah giliran si adik nih. Saat itu adik masih TK B, saya pikir dia lebih baik dititipkan di Tasikmalaya saja di rumah kakak saya. Kebetulan teteh saya mau merawatnya. Soalnya kalau dibawa ke acara, pertama takut mengganggu acara yang formal, kedua takut bosan, ketiga takut kemana-mana dan saya gak bisa konsentrasi menyerap ilmu. 

Alhasil saya berangkat hari Selasa ke Tasikmalaya dulu untuk menitipkan si adik. Oh iya saya kan emang aslinya Tasikmalaya, walaupun tinggal di Mojokerto hehe. 

Baca keseruannya : Bagaimana sih Keseruan Pertemuan Penulis GLN 2019?

MENGURUS SURAT PERJALANAN DINAS

Ada cerita seru sekaligus menjengkelkan dalam mengurus surat perjalanan dinas. Surat ini dimaksudkan agar segala bentuk pengeluaran transportasi diganti oleh panitia. Dalam praktinya katanya hanya tinggal minta tanda tangan dan stempel kepala desa dimana penulis tinggal. Oke saya mulai datang ke kantor kepala desa. Pertama kali Pak Lurahnya tidak ada karena saat itu lagi masa-masa Pemilu. Katanya beliau sedang sibuk di lapangan. Oke saya akan kembali besok. 

Besoknya saya kembali lagi ke kantor kepala desa. Ternyata Pak Lurah yang terhormat pun masih tidak ada. Lalu tiba-tiba ketika saya menunggu, ada dua orang mahsiswa sepertinya yang juga mencari Pak Lurah. Seorang Ibu pegawai memberitahu saya untuk ikut rombongan untuk menemui bapak yang terhormat tersebut. Oke saya pun mengikuti mereka. Dan, sampailah kami di tempat usaha Bapak Lurah. Beliau ada, sedang merokok. Setelah antri, saya kebagian terakhir. Saya utarakan maksud dan tujuan saya dan menyerahkan lembaran untuk ditanda tangani. Berbagai pertanyaan pun saya jawab dengan sebaik-baiknya. Walau pun ada beberapa perkataan yang terdengar cukup sinis dilontarkan olehnya yang bicara dengan pegawainya. Saya tahu dari raut wajah keduanya kalau ada gelagat tidak enak, tapi saya abaikan. Entah apa maksud keduanya? Intinya beliau tidak mau menandatangani langsung. 

"Mbak, minta stempel saja dahulu ke kantor kepala desa," katanya. 

Saya yang polos los, menurut. Saya pun balik lagi ke kantor kepala desa untuk minta stempel dulu. Ketika balik lagi ke tempat bapak Lurah tadi, beliau sudah tidak ada lo. Saya tanya ke pegawainya pun tidak ada yang tahu. Lemes deh saat itu juga, padahal berangkat besoknya lo. Nggak ada waktu lagi. 

Lalu saya pun balik ke kantor kepala desa, curhat lah ke sekretaris desa. Beliau menyarankan ke rumahnya saja. Subhanallah, apakah sesusah itu meminta tandatangan seorang kepala desa? Saya menangis karena kesal dan teringat Bapak saya almarhum. Bapak saya menjadi kepala desa selama dua periode dan alhamdulillah beliau seorang yang baik. Beliau tak pernah menyusahkan atau pun menghalangi siapa pun yang ingin berkembang. 

Ada seorang teman mengatakan, mungkin karena saya tak memberinya uang. Lah kalau soal itu, saya mau saja memberikan asal ditandatangani dulu la ya. Singkatnya saya down, saya marah banget karena merasa dipermainkan. Untuk ke rumahnya? Sorry la ya, emangnya saya pengemis? Bukankah dia yang pelayan bagi masyarakatnya?

Sehabis Maghrib, saya pun coba menghubungi panitia, dan katanya bisa minta tandatangan ke RW atau RT. La dalah, tahu gitu nggak usahlah saya ketemu Bapak Mengenaskan itu. Pak RW rumahnya di depan rumahku lo. Akhirnya menemui Pak Rw, dan beliau ternyata lagi di luar kota, ya Allah down lagi. Kesempatan terakhir adalah ke Pak RT! Bismillah deh... alhamdulillah Pak RT ada dan tuk tuk! beres tuh distempel. Masya Allah, sungguh perjuangan yang menyedot energi banget gaess.  

Baca perjalanannya : Perjalanan Menuju Pertemuan Penulis GLN 2019


TRANSIT TASIKMALAYA DAN PERJALANAN MENUJU JAKARTA

Saya berangkat duluan menuju Tasikmalaya pakai kereta api. Di rumah Kakak, saya menitipkan adik Azni. Saya pun janjian dengan Kang Iwok Abqary di stasiun untuk keberangkatan pagi-pagi menuju Jakarta. Menurut panitia sih, transport saya hanya dihitung dari Tasikmlaya saja karena saya transit, kalau mau diganti full harus berangkat dari Mojokerto. Padahal yang lebih mahal justru dari Mojokerto ke Tasikny lo. Tapi sekali lagi saya mengikhlaskan semuanya. Ini adalah tentang membuat buku anak yang baik, dan pasti saya pun akan mendapat banyak ilmu dan pengalaman, so sebetulnya bayar pun nggak masalah. 

Selama perjalanan, saya tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengorek berbagai informasi kepenulisan dari Kang Iwok. Tahulah, beliau salah satu penulis anak yang tak diragukan lagi kemampuan dan pengalamannya. Kang Iwok sosok yang sangat baik, sayang keluarga dan sayang kucing-kucingnya hihi. Dan Kang Iwok pun sangat terbuka  menceritakan segala pengalamannya kepada saya yang masih harus banyak belajar. 


Duo Penulis keren (Dok. Yeti Nurmayati)

Sampailah kami di statsiun Bandung, dengan bantuan Kang Iwok saya pun dibelikan tiket menuju Jakarta. Kami kebetulan beda gerbong, dan tak terduga saya duduk bersama seorang perempuan yang terdengar hebat. Dia adalah seorang dosen yang katanya sering ke luar negeri. Dia juga menceritakan tentang suaminya, anak hingga pekerjaannya sebagai sekretaris seorang boss besar. Selalu ada pelajaran yang saya ambil daris ebuah percakapan. Dari Ibu yang ternyata bergelar Doktor, saya mendapat banyak informasi tentang sekolah anak-anak, tentang banyak hal deh. Walau pun kadang dia sedikit sombong. Apalagi dia tahu saya seorang ibu rumah tangga biasa. hehe... Saya sih santai saja, berusaha jadi pendnegar yang baik. Tak terasa sampai juga di Jakarta, eh ternyata satu kereta juga sama Kang Ali Muakhir. Uwoow kan, saya langsung minta foto dong ehehe.. 


Bersama Kang Ali Muakhir
(Dok. Yeti Nurmayati)

Sesampainya di hotel, kami dipersilakan untuk registrasi. Heboh banget lo, soalnya biasanya hanya bertegur sapa lewat dunia maya, akhirnya dipertemukan langsung. Panitia sudah membuat daftar teman sekamar yang akan jadi teman tidur selama tiga malam di hotel tersebut. Saya tenyata dipasangkan dengan Ibu Ana Widyastuti, seorang kepala sekolah seklaigus dosen di Depok. Beliau sosok yang hebat, inspiratif dan sangat bersemangat belajar walaupun usianya tak sudah tak lagi muda (sama dengan saya). Bu Ana ini saat acara memakai alat bantu jalan, karena katanya pasca kecelakaan dan belum sembuh total. Masya Allah, saya sangat terinspirasi oleh semangat belajarnya. Bu Ana juga adalah seorang penulis buku anak yang lebih banyak membuat buku aktivitas. Dari beliau, saya banyak mendapat ilmu. 


Bersama Bu Ana Widyastuti (Dok. Yeti Nurmayati)

Selama tidur dengan Bu Ana, saya selalu happy. Kami tidak jaim, kami apa adanya. Dan, dia sosok yang lucu, jadinya kita banyak ketawa-ketiwi. Pokoknya selama dua hari saja, kami sudah sangat akrab dan kompak. Bahkan di malam terakhir kami berencana nonton film Avenggers : Endgame kalau tidak salah. Sayangnya, saya harus pulang duluan karena sesuatu hal (nanti akan saya ceritakan di tulisan berikutnya). Saya bahkan tidak sempat mengucapkan kata perpisahan karena tidak smepat ketemu ketika saya mau pulang duluan. 

Itulah sekelumit cerita perjalanan saya menuju pertemuan penulis GLN 2019. Tentu saja banyak hikmah di dalamnya yang memberikan pelajaran berharga bagi saya. Tunggu cerita lainnya ya. 







Minggu, 29 September 2019

Meraih Keberkahan dari Kesungguhan Menerapkan Proyek Literasi Dalam Keluarga



Azni dan teman mainnya sedang membaca buku setiap sore
(Dok. Pribadi)

            Kata siapa melaksanakan proyek literasi dalam keluarga itu sulit? Ternyata jika kita melakukannya dengan sungguh-sungguh sangat ada hasilnya lo, Bunda. Semua tergantung dari kesungguhan dan niat juga komitmen kita orang tua sebagai pembuat keputusan di rumah.

Tujuan literasi secara umum adalah membentuk anak atau orang memiliki kecakapan hidup dan mampu bersaing atau bersanding dengan orang atau bangsa lain. Ada pun enam literasi dasar yang telah disepakati berdasarkan World Economic Forum tahun 2015 yaitu : literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial dan literasi budaya dan kewargaan. Namun untuk membentuk budaya literasi bangsa, gerbang utamanya adalah meningkatkan minat membaca pada anak. Seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa minat membaca buku pada anak Indonesia sangatlah rendah.

Berbagai upaya berusaha dilakukan pemerintah untuk membudayakan membaca buku pada anak. Namun saya meyakini jika tidak ada dukungan dari keluarga, upaya itu akan sia-sia saja. Keluarga sebagai lingkungan terdekat dengan anak, harus berperan aktif membentuk anak yang suka membaca buku. Jika pemerintah dan keluarga sudah kompak, saya yakin upaya membudayakan membaca buku akan berhasil.

Upaya membiasakan budaya literasi tentu saja adalah tugas bersama. Orang tua sudah seharusnya mengambil peranan penting ketika anak dalam masa pengasuhannya di rumah dan bahkan ketika pun sudah bersekolah. Orang tua terutama ibu adalah kunci dari keberhasilan pembiasaan budaya literasi di lingkungan keluarga.

        Membudayakan membaca buku pada anak memang tak semudah membalikan tangan. Apalagi saat ini kita berlomba dengan kecanggihan gagdet. Tetapi juga bukan tidak bisa. Tentu saja kita bisa melakukannya dengan niat yang kuat, komitmen dan berkesinambungan.

KISAH SAYA DENGAN GADGET

            Saya seorang ibu dari dua anak. Anak pertama laki-laki sekarang kelas satu SMP dan yang kedua perempuan kelas satu SD bernama Azni. Dulu, saya adalah ibu yang tidak suka membaca buku bahkan tak terpikir sedikit pun untuk menyediakan buku untuk anak-anak. Saya yang terlahir dari keluarga sederhana tak terbiasa memiliki buku bacaan di rumah. Saat itu anak saya masih kecil. Kedua-duanya sangat suka main game di smartphone dan menonton televisi. Mereka diberi fasilitas, karena menurut kami saat itu anak-anak juga harus melek teknologi. Sebuah pemikiran yang ternyata menjadi bumerang sendiri di kemudian hari.

            Waktu terus berlalu, saya kemudian mengikuti berbagai seminar parenting. Saya juga banyak membaca buku dan internet. Dari situ pemikiran saya mulai terbuka. Ketika ada sebuah fakta menarik yang menyebutkan bahwa tingkat membaca orang Indonesia berada di level kedua dari bawah, saya serasa ditimpuk. Lalu ketika menyaksikan banyak tokoh dunia menjadi sukses, semuanya berkat kesukaannya pada buku. Disitulah saya merasa bersalah membiarkan anak saya tenggelam dalam keasyikan dunia maya. Mau jadi apa anak saya kelak?

            Sebuah catatan dari Jane M. Healy, Ph.D seorang psikolog pendidikan, tentang efek tayangan televisi kembali menyentak sanubari saya. Pernyataan dia dilansir di APP News, majalah resmi American Academy of Pediatrics. Healy menyebutkan, “higher level of television viewing correalted with lowered academy performance, especially reading scores.” Sederhananya, kuatnya anak melihat televisi berhubungan dengan kemerosotan prestasi akademik khususnya nilai membaca. Anak yang terlanjur suka menonton televisi, akan menyebabkan malas berpikir karena otaknya terbiasa dalam kondisi istirahat.

            Puncaknya, saya melihat anak saya terutama si bungsu mengalami masalah dalam perkembangan sosialnya. Dia kurang bisa bersosialisasi. Dia juga tak percaya diri, pemalu, dan sulit bicara panjang. Disitulah saya yang berdalih resign kerja hanya demi untuk fokus merawat anak merasa gagal.

            Sejak saat itulah saya berpikir bagaimana caranya mengubah kebiasaan tidak baik dalam keluarga. Beruntung, saya kemudian masuk dalam sebuah komunitas penjual buku anak. Di situ, selain ada materi marketing juga sering ada materi parenting. Saya mendapatkan banyak solusi lewat share pengalaman teman-teman. Mulailah saya menyusun proyek literasi keluarga untuk saya, suami dan anak-anak.

Idealnya memang mengenalkan buku jika bisa dilakukan sedini mungkin. Dari buku “Membuat Anak Gila Membaca”, karya Ustad Mohammad Fauzil Adhim (2015), saya mendapatkan banyak ilmu. Seorang anak, sejak dalam kandungan bahkan sudah bisa diceritakan kisah dari buku. Selain bermanfaat untuk perkembangan kecerdasannya, juga membangun keeratan hubungan orang tua dan anak. Jika sejak bayi sudah dekat dengan buku, maka penanaman budaya literasi pada anak akan lebih mudah dilakukan.  

Karena kasus yang saya alami baru sadar ketika anak sudah terbius berbagai game dan televisi, maka tantangan yang dihadapi jauh lebih berat. Tetapi tantangan ke depan pastinya akan jauh lebih dahsyat lagi. Anak akan semakin sulit untuk lepas, karena kita tahu sendiri game dan televisi bersifat adiktif. 

PROYEK LITERASI KELUARGA 

        Saya sadar betul proyek saya itu mungkin akan ditentang bahkan dibenci anak-anak. Sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan lalu diubah pastinya akan menimbulkan pertentangan. Bukan saja kendala dari anak-anak dan suami, namun yang paling berat adalah kendala dari diri sendiri. Saya takut tidak bisa konsisten dan tidak kuat dalam menjalaninya. Tetapi bagaimana pun saya harus berbuat sesuatu. Saya pun mulai mengumpulkan bahan-bahan yang dibutuhkan dari buku, majalah, internet dan lain-lain.

Poin-poin utama yang saya buat adalah mencakup :

1.      Memutus mata rantai pola asuh yang diwariskan dari orang tua dahulu
2.      Membuat komitmen dan  jadwal membaca buku
3.      Menyediakan buku bacaan semenarik gadget
4.      Terus update ilmu dan kreatifitas (alat dan teknik membaca)
5.      Reward dan Punishment

Jadwal Membaca Bulan September 2019
(Dok. Pribadi)
SEMANGAT MEMUTUS MATA RANTAI POLA ASUH DAN KEBIASAAN BAWAAN

       Tak dapat dipungkiri bahwa dalam menjalani kehidupan rumah tangga dan pengasuhan anak, kita akan membawa “warisan” dari orang tua kita. Bagaimana kebiasaan orang tua kita dahulu disadari atau tidak mempengaruhi pola asuh kita pada anak-anak. Saya sejak kecil jarang memiliki buku bacaan. Karena orang tua saya selain memang tak memiliki uang lebih untuk membeli buku, mereka sepertinya juga tidak memprioritaskan hal itu. Dahulu juga tidak mudah menemukan buku anak seperti sekarang, apalagi saya tumbuh di desa.  

       Berbekal ilmu-ilmu yang saya dapatkan, saya sedikit demi sedikit mengubah kebiasaan kami sekeluarga. Budaya warisan orang tua seperti makan sambil menonton televisi, perlahan saya ganti dengan membacakan cerita. Untuk si bungsu yang masih berusia 3,5 tahun penerimaannya lebih mudah. Walau tentu saja tidak langsung menerima (tetap pegang handphone). Tapi bagi si kakak yang saat itu kelas tiga SD agak sulit. Tentu saja saya tidak bisa langsung memaksanya.

          Orang tua adalah suri tauladan bagi anaknya. Oleh karena itu, saya yang lebih sering berada di rumah mulai mengubah kebiasaan sendiri. Beruntung, saya bukan ibu yang sangat cinta drakor atau sinetron atau serial televisi lainnya. Jadi untuk masalah televisi, saya mudah saja meninggalkannya. Saya mulai membatasi menonton televisi juga bagi semuanya. Kebiasaan saya yang baru adalah harus membaca buku bahkan saat anak-anak sedang sibuk dengan smartphonenya.

Permainan Buku oleh Azni
(Dok. Pribadi)

MEMBUAT KOMITMEN DAN JADWAL MEMBACA BUKU

          Pertama kali yang saya lakukan adalah membeli buku dan membuat jadwal baca bersama. Saya pun mengatakan langsung pada kedua anak saya. “Mama telah membeli buku bacaan yang bagus untuk kakak dan adik. Mulai sekarang kita akan memiliki jam khusus untuk membaca ya.” Reaksi si adik cukup antusias, dia memang baru lihat buku yang berbeda dari biasanya. Saya memang membelikan mereka sepaket buku yang beragam bentuk, warna dan gambarnya. Berbeda dengan adik, kakak terkesan cuek dan tidak terpengaruh.

Azni saat masih TK dibiasakan membaca buku sebelum tidur
(Dok. Pribadi)

          Saya pun mengenalkan jadwal membaca buku bersama lengkap dengan manfaat dan rewardnya. Jadwal baca sengaja saya satukan dengan kegiatan belajar / setelah salat Maghrib dan makan, biar sekalian. Biasanya kita akan membahas hasil bacaan semalam setelah selesai salat subuh. Setiap hari Sabtu karena kedua anak saya libur, saya pun membuatkan jadwal kreasi. Bentuk kreasinya bisa membuat kue bersama, praktik sains sederhana, mencampur warna, membuat mainan sederhana dan lain-lain.

Azni dan Kakak membuat slime (hari Sabtu)
(Dok. Pribadi)

MENYEDIAKAN BUKU BACAAN YANG SEMENARIK GADGET

          Saya berpikir bagaimana mengenalkan buku agar semenarik dengan gadget mereka. Beruntung, saat ini buku-buku buatan penerbit Indonesia kian beragam. Jika dahulu untuk mendapatkan buku bagus, harus impor dari luar negeri. Sekarang bermacam buku sudah ada di Indonesia. Bahkan ada buku yang bisa dibaca dengan aplikasi augmented reality (AR), bisa dibaca dengan epen dan lain-lain. Bahkan bentuk buku sekarang sangat menarik. Selain berilutrasi dengan baik juga bentuknya kian variatif. Ada bentuk buku pop up book, ada flip book dan lain sebagainya.

         Tantangan untuk menghadirkan buku di keluarga adalah tentu saja soal budget. Saya juga tak bisa memungkiri untuk mendapatkan sepaket buku bagus itu tak murah. Makanya saat itu saya gencar menjadi marketing buku agar bisa mendapat buku dari komisi yang didapat. Ini hanya soal prioritas sebenarnya. Tak harus mahal juga. Jika bisa membeli buku yang terjangkau, dan anaknya sudah suka malah lebih efisien ya.

       Saya berusaha menyediakan buku di semua tempat yang mudah dijangkau anak. Di  kamar tidur, dekat televisi dan di ruang tamu. Anak saya yang bungsu sering memainkan buku menjadi bentuk-bentuk sesuai keinginan dia. Saya sengaja membiarkannya agar dia terbiasa dekat dengan buku.

Koleksi buku kami di dekat televisi
(Dok. Pribadi)

UPDATE ILMU DAN KREATIFITAS

            Selain menyediakan buku-buku menarik di rumah, saya pun harus terus belajar cara membacakan buku (reading aloud) yang mengasyikan bagi anak. Selain itu juga saya sering melakukan berbagai kreatifitas baik dari kertas, cat air maupun biji-bijian dan tepung-tepungan. Saya pun sering membuat kartu-kartu huruf, angka dan lain-lain dari karton untuk sarana pembelajaran anak saya terutama yang bungsu. Menurut saya, ini juga adalah bagian dari membudayakan literasi dalam keluarga.

REWARD DAN PUNISHMENT
           
            Reward ini terkait dengan si kakak. Saya buat perjanjian dengannya, jika sudah selesai baca satu buku, kakak boleh minta makanan apapun yang disukai. Begitu pun dengan adik, saya sering memberinya penghargaan kalau dia sudah melakukan kegiatan sesuai kesepakatan. Penghargaan ini tidak harus selalu mahal ya. Saya juga tak lupa memberikan hukuman terutama untuk kakak. Jika pada jam tersebut tidak baca buku, saya kurangi jatah main handphone-nya (karena kakak belum bisa sepenuhnya lepas dari Hp).

HAMBATAN-HAMBATAN

            Hambatan dalam pelaksanaan proyek literasi keluarga saya paling berat adalah dari diri saya sendiri. Kemalasan dan capek adalah musuh yang harus dikalahkan. Berat banget pada awalnya, apalagi saya harus mengurus urusan domestik juga. Namun lama kelamaan saya mulai terbiasa. Saya meniatkan semuanya sebagai bentuk rasa syukur dan pengabdian saya sebagai insan yang telah diberikan banyak kebahagiaan oleh-Nya.   

KEBERKAHAN-KEBERKAHAN DARI KESUNGGUHAN

            Benar sekali jika kita bersungguh-sungguh maka akan mendapatkan hasil. Tuhan pun menyuruh hambanya untuk bersungguh-sungguh dalam melakukan kebaikan. Walau pun terseok-seok, proyek literasi keluarga saya bisa dibilang berhasil. Alhamdulillah wa syukurillah, saat ini si bungsu sudah tak pernah memegang handphone, bahkan menonton televisi pun tak pernah. Untuk kakak, saya masih memberinya toleransi, sepanjang dia masih melakukan kesepakatannya. Karena untuk kakak yang sudah kelas satu SMP, terkadang memang membutuhkan smartphone untuk browsing informasi atau membuat konten vlog yang mulai digemarinya.

Azni dan temannya Widya yang sedang membaca dan memainkan buku.
(Dok. Pribadi)

           
Keberkahan tak terkira yang begitu membuat saya selalu bertakbir adalah si adik yang dulu dilabeli anak kuper, kini jadi anak berani, banyak teman dan cerdas. Dia juga bisa membaca buku sejak sebelum masuk SD dengan mudah. Bukan itu saja, setiap melihat buku, wajahnya akan semringah. Hilang rasanya rasa lelah saat saya harus extra memperhatikan dia. Saya setiap waktu membacakan buku, memberianya kesempatan menyimpulkan cerita, melakukan berbagai kreatifitas bersama, bermain bersama. Saya pun mendatangkan temannya ke rumah untuk sama-sama bermain. Bukan itu saja, saya ikut ke sekolahnya. Berkenalan dengan teman-teman barunya, hingga dia mulai percaya diri. Alhamdulillah, saya sering diberi kesempatan untuk membacakan buku bagi anak-anak PG dan TK di sana.

Kegiatan Mama membacakan buku di SDN Kranggan Mojokerto
(Dok. Pribadi)

            Keberkahan kedua adalah si Kakak. Masya Allah si kakak luar biasa. Dia yang dulu dilabeli tetangga sebagai anak gila game menjelma menjadi anak yang berprestasi dan berkarya. Kakak banyak mendapat piala dalam lomba-lomba tingkat kota, provinsi maupun nasional. Kakak juga sudah memiliki buku sendiri. Dia ikut menulis cerita pendek dalam dua buku antologi bersama teman-temannya.

            Keberkahan paling tak terduga adalah saya menjelma menjadi penulis buku anak. Allah memang sebaik-baiknya pembuat skenario. Dari kebiasaan saya membacakan buku pada anak, saya menjelma menjadi penulis buku anak. Beberapa buku anak saya sudah terbit di beberapa penerbit nasional maupun indie. Saya juga terpilih menjadi salah satu penulis buku anak dalam ajang Gerakan Literasi Nasional yang diselenggarakan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2019 ini.

       Saya setuju dengan pepatah Arab ini : man jadda wajada. Siapa pun yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil. Atas izin Allah, proyek saya itu cukup berhasil setidaknya menurut saya. Walau pun hingga kini masih terus memperbaiki dan berusaha konsisten. Saat ini saya berusaha memberikan contoh dengan terjun langsung menjadi bagian pejuang literasi. Saya membaca buku, menulis dan membacakan buku bagi anak saya maupun anak tetangga saya. Kedepannya saya memiliki impian untuk meluncurkan program "Membacakan Buku Gratis Bagi TK-TK di Mojokerto". Semoga terwujud, aamiin. 

             Semoga secuil pengalaman saya ini dapat melecut semangat dan bermanfaat bagi siapa pun yang membacanya. Mari kita bantu upaya pemerintah menggalakkan literasi bangsa dengan upaya kita dari rumah. Semoga segala upaya yang tengah kita lakukan bersama nantinya akan menghasilkan generasi Indonesia berkualitas dan berakhlak baik. Aamiin.