Jumat, 02 April 2021

Korban GPS, Kesasar ke Jalan Alternatif Menyeramkan di Malam Hari Nan Sepi

 

Desain Canva

Zaman modern seperti sekarang siapa yang tak kenal GPS? Pasti semua kenal. Sederhannya GPS alias Global Positioning System ini adalah petunjuk jalan. Jika zaman dulu orang-orang menentukan arah dengan melihat tanda alam, seperti letak bintang lalu penggunaan peta, maka zaman sekarang dengan adanya GPS, perjalanan ke mana pun jadi lebih mudah dan praktis. Tetapi, hati-hati lo, walau pun GPS sudah pasti tahu jalur/arah, tetapi kelemahannya GPS tak bisa memberitahu apakah jalan yang akan dilalui aman atau tidak.

            Seperti yang kami alami, bulan Desember tahun lalau (2020), saat kami melakukan perjalanan pulang dari Jawa Timur (Mojokerto)  ke Jawa Barat (Ciamis) lewat jalur utara. Untuk pertama kali, kami ingin mencoba pulang ke kampung halaman dengan melewati jalur utara, karena katanya pakai tol terus, jadi lebih tidak capek dan cepat pastinya. Apalagi saat setting GPS waktu yang dibutuhkan cukup sedikit ketimbang lewat jalur selatan yang biasa kami lewati.

            Awalna kami sangat optimis, berangkat pagi sekitar jam 8, berkat tol-tol yang dibangun era pak Jokowi ini, lebih cepat dari biasanya. Bahkan saat lihat GPS, hanya tinggal beberapa jam lagi akan segera tiba di Ciamis. Karena kami pertama kali, ada satu dua tol yang salah belok, hingga harus putar balik. Termasuk saat keluar dari tol Brebes, sesuai dengan petunjuk GPS, kami pun merasa ragu. Apakah benar arahnya? Dengan sedikit bingung, kami pun tetap melanjutkan perjalanan lewat jalur biasa (bukan tol lagi).

            Tepat Azan Maghrib, kami melewati perkapumpungan di tengah pesawahan. Hati saya sebenarnya memberi warning dengan berbisik kok jarang mobil yang lewat? Bukankah ini akhir tahun? Mestinya kan ramai? Dengan berharap sebentar lagi ada tempat istirahat, jalan yang hendak kami lewati malah menanjak tajam disertai belokan tajam juga. Pak Suami yang menyetir mulai merasa tidak nyaman akan kebenaran jalur.

            GPS tetap menunujukkan arah itu dan memang saat diperkecil akan sampai di jalan besar Majenang. Bismillah, kami melanjutkan perjalanan lagi. Jalan semakin menanjak dan situasi semakin gelap. Hujan mulai turun dan pepohonan yang rimbun menimbulkan aroma horror. Beberapa kali suami istighfar, karena jalan makin menyempit. Tak ada satu pun mobil atau motor yang mengikuti atau bersimpangan. Saya, suami yang menyetir dan kedua anak langsung pucat pasi. Apakah kami ini tersesat? Mana sebelum berangkat kami menonton acara on the spot yang memberitakan adanya mobil yang tersesat ke hutan. Dan saat itu kami ada di hutan belantara yang gelap dengan rintik hujan pula. Situasi makin kacau, karena anak bungsu saya pengen pipis. Sebenarnya, dia pengen pipis sejak tadi, cuma kami tidak mau berhenti dan keluar mobil. Berharap di depan ada tempat lebih baik/aman.

            Saya terpaksa mengabaikan rengekan si bungsu dulu. Suami butuh suntikan moril. Beberapa kali istighfar, suami dengan lebih hati-hati mulai melambatkan mobil. Bayangan akan banyak hal menyergap batin saya. Bagaimana jika ada perampok? Bagaimana jika ada kejadian gal-hal gaib? Saya terus bermunajat pada Allah, memohon petunjuk dan perlindungannya. Selang berapa lama, tepat di depan kami ada beberapa ekor kerbau menghalangi jalan! Waduh jantung saya tak bisa lagi ditolerir, berdetak keras.

            Apa yang terbayang di kepala saya? Perampok dengan sengaja menggunakan kerbau untuk menghalangi kami. Terus terang saya kan bawa pisau untuk ngupas buah, saya ambil tuh pisau dan pegang erat, kunci pintu mobil serta safety belt dikencangkan. Tapi pikiran saya yang lain berkata, kenapa perampok tidak mengambil kerbau yang banyak itu saja, kalau jual kan mungkin mahal juga. Mana gendut-gendut pula kerbaunya. Tetiba, suami bismillah perlahan kerbau memberi jalan dan kami bisa lewat. Plong rasanya.

            Tapi petualangan belum berakhir, setelah tanjakan dengan pinggir jurang, jalan menurun tajam. Saat turun, ada lobang rupanya, hingga mobil yang kami kendarai agak tak terkendali. Mobil serasa agak melayang dan saya pun mengingatkan suami. Kebetulan di bawah ada satu mobil yang naik/berlawanan arah, mobil itu menyalakan klakson sangat kuat. Pertanda bahwa laju mobil kami terlihat ada masalah. Alhamdulillah sekali lagi suami bisa mengendalikan mobil, walau saya lihat jelas dia begitu panik.

            Mobil yang kami bawa memang mobil kecil (brio), hingga sangat terasa jika terbentur bagian bawahnya. Karena kami pun tak menyangka akan lewat jalur seperti itu. Setelah melewati turunan itu, kami berhenti sejenak unuk menenangkan diri. Suami beberapa kali bilang merasa tak kuat untuk meneruskan jika medannya begitu terus. Tapi jika kembali pun bukan jalan keluar, maju kena mundur kena istilahnya.

            Setelah berdoa macam-macam, kami perlahan melanjutkan perjalanan. Saya beberapa kali mengingatkan suami untuk perlahan saja dan hati-hati. Medan yang ditempuh memang sangat menantang. Hingga satu cahaya memberikan harapan baru pada kami. Kian dekat dan itu ternyata sebuah rimah kecil lebih tepatnya pos. Di depan rumah itu, seorang pria berhoodi berdiri dengan menyodorkan ember. Saya sebenarnya menyimpan curiga, jangan-jangan orang jahat. Tapi suami saya tampak penuh semangat melihat lelaki muda itu. Ternyata dia minta uang. Suami memberinya sekalian bertanya tentang jalan. Laki-laki berhoodie itu memberitahu arah jalan dan lama waktu yang akan kami tempuh. Alhamdulillah suami mulai semangat lagi.

            Perjalanan dilanjut. Ternyata tak semudah yang dibilang si laki-laki tadi. Jalan tetap gelap dan berliku hingga suami kembali panik. Walau begitu, mobil tetap dijalankan dengan perlahan. Hingga tiba di sebuah perkampungan. Kami bersorak sorai. Di sana ada Indomart walau kecil hingga si bungsu bisa pipis.

            Alhamdulillah, kami makin bersyukur saat kami menemukan jalur utama jalan Majenang. Tak henti-hentinya kami mengucapkam syukur atas kelancaran dan perlindungan Allah.

HIKMAH  CERITA INI

            Setiap pengalaman dan cerita hidup pasti ada hikmahnya. Begitu pun dengan cerita perjalanan kami ini. Ada pun hikmahnya adalah :

1.      Sebelum melakukan perjalanan, ketahui dan kenali dulu jalur yang akan dilewati.

2.      Jangan terlalu terpaku pada GPS. Seperti yang saya tulis di atas, walau pun sudah barang tentu GPS menunjukkan arah, tapi tak bisa memberikan informasi apakah itu jalur alternatif atau bukan. Apakah jalur itu aman atau tidak.

JADI, JALUR YANG KAMI LEWATI NAMANYA APA?

Terus terang kejadian itu memberi trauma tersendiri bagi saya juga pasti suami dan anak-anak. Maka, cukup lama kami terutama saya tak mencari informasi apa pun terkait jalan itu. Lalu setelah dua bulan berlalu, baru saya browsing, ternyata itu namanya jalur alternatif gunung Lio, Salem. Jadi memang benar kami naik dan turun gunung. Terkait kerbau, saya pun tidak tahu itu kerbau siapa. Namun yang pasti tak  ada pemiliknya saat itu. Dan, memang jalur itu sangat ekstrim, jangan coba lewat jalur itu saat malam hari.

Itulah sekelumit cerita menegangkan yang pernah kami alami. Memang mungkin tak sehoror kejadian di jalur Alas Roban atau Alas Purwo, tapi bagi kami yang mengalaminya saat itu sangat luar biasa. Itu pengalaman tak akan terlupakan. Dan, beda dengan alas roban yang memang banyak kejadian aneh, jalur gunung Lio dari hasil browsing tak menakutkan (secara mistis). Hanya saja, karena kami baru pertama kali dan tak pernah tahu sebelumnya, maka menjadi sebuah petulangan yang sangat menggempeurkan.

Terima kasih telah membaca. Jika ada sahabat yang memiliki pengalaman lewat Gunung Lio juga, boleh share di kolom komentar. Terima kasih.

 

Salam sayang,

Yeti Nurmayati

 

 

Senin, 30 November 2020

Lawan Kekerasan Terhadap Perempuan dengan Pendidikan Berbasis Kesetaraan Gender dari Rumah

 


Kekerasan berbasis gender di negara Indonesia termasuk kekerasan terhadap perempuan memang merupakan masalah yang besar dan perlu perhatian serius. Di masa pandemi ini, grafik kasus kekerasan atau pelecehan terhadap perempuan malah cenderung meningkat. Sebut saja beberapa hari yang lalu di kota Malang ada kasus pelecehan seksual terhadap seorang wanita di tempat umum. Wanita tersebut sedang menunggu pesanan makanan di pinggir jalan. Tiba-tiba ada laki-laki yang menghampiri dan meremas (maaf) payudaranya. Pelaku langsung kabur dengan menggunakan sepeda motor. 

            Bukan hanya itu, kekerasan terhadap perempuan juga banyak terjadi dalam keluarga baik di kota maupun desa. Saya sering mendapati teman atau saudara yang harus rela menerima saat menjadi korban kekerasan oleh suaminya sendiri. Bentuknya beragam, ada yang dibully secara verbal maupun perilaku, ditelantarkan, dieksploitasi, bahkan dihajar fisiknya. Parahnya, dia tak berdaya. karena tak memiliki kekuatan untuk melawan atau bahkan diancam. Apalagi bagi perempuan di desa, perceraian umumnya dianggap aib bagi keluarga besar.  

Berdasarkan informasi dari Ibu Maria Ulfah Anshor (Komisioner Komnas Perempuan) dalam Webinar Anti Kekerasan Berbasis Gender yang dilaksanakan oleh  Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan secara daring, menyebutkan bahwa kekerasan terhadap perempuan terus meningkat tiap tahunnya dan ini bisa jadi hanya yang lapor saja. Jumlah di lapangannya pasti jauh lebih banyak. Keadaan ini tentu saja sangat memprihatinkan. Perempuan sebagai sosok sentral dalam keluarga seharusnya mendapatkan jaminan rasa aman agar dapat melahirkan anak bangsa yang berkualitas. 

 

 

Jika mau menjabarkan, kenapa sih terjadi kekerasan dalam rumah tangga dan biasanya dilakukan oleh suami? Saya yakin, setiap laki-laki yang melakukan kekerasan kepada pasangannnya, adalah laki-laki yang mendapatkan perlakuan kurang baik saat kecilnya. Bisa jadi ada trauma masa kecil yang belum terselesaikan. Dendam itu terus tumbuh ditambah dengan tekanan sana sini, meledaklah pada istrinya. Sayangnya, pola ini akan terus berlanjut serta diwariskan ke generasi berikutnya. Jika saja tak ada upaya memutus mata rantainya.

Upaya-upaya untuk setidaknya mengurangi kekerasan terhadap perempuan sebenarnya bisa dilakukan dari rumah sejak anak kecil. Diperlukan kesadaran diri dari kedua orang tua untuk memaafkan masa lalu dan tidak melampiaskan pada anaknya. Mata rantai itu harus diputus. Dan yang bisa memutuskannya adalah orang tua saat ini. Berdamai walau tak mudah demi kebaikan anak di masa mendatang adalah pengorbanan yang tak akan sia-sia.

Orang tua bisa belajar ilmu parenting. Perlakukan anak dengan penuh kasih sayang. Berikan contoh bagaimana memperlakukan perempuan. Jangan membeda-bedakan antara anak laki-laki dan perempuan, keduanya memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk berkembang. Hapus budaya patriarki yang nyatanya sangat merugikan perempuan. Dan yang tak kalah penting, bentengi anak agar terhindar dari bahaya pelecehan seksual baik di lingkungan sekitar maupun sekolah. Ini sangat penting, mengingat kejahatan bisa terjadi di mana saja dan orang tua tak selamanya bisa mengawasi.

 


Harapan saya, semoga ada semacam Lembaga Masyarakat setingkat minimal kecamatan, yang fokus mengedukasi sampai ke pedesaan tentang perlindungan terhadap perempuan dan parenting anak. Semoga tidak ada lagi diskriminasi, agar perempuan Indonesia juga ikut berperan aktif menjadi bagian dari pembangunan bangsa ini. 

 


 

Kamis, 12 November 2020

“Revolusi Kebijakan Menerbitkan Buku” di Beberapa Penerbit Mayor yang Sukses Membuat Penulis Kebat-Kebit Saat Pandemi Ini

 

Desain by Canva

 Selamat pagiii…

            Bagaimana kabar menulismu, Sahabat? Bagi penulis buku yang biasa menerbitkan buku di penerbit mayor tentu selama pandemic ini adalah ujian. Bagaimana tidak, banyak penerbit yang memilih berhenti produksi dulu akibat pandemi corona hingga membuat penulis seolah kehilangan gairah. Tak sedikit bahkan yang sudah dalam proses terbit pun dihentikan bahkan dikembalikan kepada penulisnya. Sedih sekali bukan?

Saya termasuk yang disuruh untuk menarik naskah. Dengan mudahnya Editor mempersilakan saya menarik naksah tersebut. Padahal naskah itu sudah saya kirim dan acc dari tahun 2019 yang lalu. Dan, itu adalah naskah pertama saya yang acc di penerbit itu. So, mimpi untuk memiliki buku di penerbit itu, harus dikubur untuk sementara (mudah-mudahan sementara ya, aamiin). 

BACA JUGA

Mengenal Buku Pengayaan dan Cara Buatnya  

Pilih Royalti atau Beli Putus? Begini Penjelasannya!

            Sangat sedih sih, tapi mau bagaimana lagi? Kita paham banget keadaan saat ini. Masyarakat pada umumnya lebih memprioritaskan beli kebutuhan pokok, ketimbang buku. Dan, keadaan ini sukses membuat penerbit “mungkin” kehilangan profit yang selama ini didapat. Lalu keadaan pun tak kunjung membaik, hingga penerbit memutuskan membuat keputusan besar untuk melindungi perusahaan agar tidak sampai gulung tikar pastinya.

Secercah harapan datang, manakala masih ada penerbit yang masih membuka ruang untuk penulis mengirimkan karyanya. Maka berbondong-bondonglah semua mengirim ke sana. Tapi, tak semudah itu. Aturan review semakin ketat, seketat-ketatnya. Bahkan tak sedikit penulis yang akhirnya gigit jari.  

            Padahal jika saya perhatikan tren saat ini, makin banyak penulis baru bermunculan dengan semangat yang luar biasa dan mereka pun tidak “polos”. Banyak harapan dari mereka untuk dapat bisa tembus di penerbit mayor. Maka, pesan saya pada mereka adalah tetaplah semangat menulis, saat sekarang adalah paling tepat menimbun naskah untuk dikirimkan di saat yang tepat.

            Jika membaca judul saya di atas, ada kata “revolusi kebijakan menerbitkan buku”. Apa ya maskudnya?

            Jadi begini, saya akan memaparkan beberapa penerbit mayor yang masih berkenan menerima naskah namun dengan syarat yang mungkin bagi beberap penulis cukup berat, termasuk saya. Tetapi bisa saja bagi penulis yang memang memiliki banyak fans dan pandai menjual bukunya, ini hal biasa saja. Setidaknya ada empat hal yang akan saya paparkan terkait keadaan penerbit mayor saat ini, terutama tentang buku yang akan terbit.

1.      Ada penerbit yang bersedia mencetak buku, dengan catatan penulis mampu menjual sebanyak 500 eksempler buku pada saat Pre Order

2.      Ada juga penerbit yang mensyaratkan penulis untuk menjual atau memesan 300 eks buku saat Pre Order.

3.      Ada juga penerbit yang memberikan kesempatan kepada penulis, tapi reviewnya sangat ketat. Perbandingannya jika yang mengirimkan naskah 50, akan dipilih yang terbaik, 1 naskah saja. Ini masih bisa dikejar oleh penulis, karena tak harus mengeluarkan modal. Tapi ya itu, kemungkinan diterimanya kecil.

4.      Ada juga penerbit yang memberikan proposal rencana penerbitan buku, isinya perjanjian penulis. Intinya penulis harus benar-benar mengirimkan naskah yang unik, yang dibutuhkan pasar saat ini.  Lalu yang paing penting, penulis wajib melakukan promosi besar-besaran setelah bukunya terbit. Saya kira ini yang paling bisa dilakukan bagi yang tak bisa membeli 300-500 eks buku di masa PO. Asal penulis bisa meyakinkan penerbit dengan naskah yang keren dan cara promosi yang keren juga.

Inilah yang saya maksud revolusi kebijakan menerbitkan buku di penerbit mayor. Perubahan yang terkesan besar dan mendasar. Tetapi, mungkin tidak kaget juga bagi sebagian orang, karena sebelumnya juga kebijakan seperti ini sudah ada. Iya memang benar, di beberapa penerbit mayor tak selalu naskah melalui review yang ketat. Sebuah naskah bisa tetap diterbitkan dengan syarat penulis mampu membali/menjual ratusan hingga ribuan bukunya. Tetapi bagi penulis yang regular (umumnya), ini tentu hal baru yang cukup memberatkan. 

Desain by Canva

Peluang Terbit di Penerbit Independen/Indie

            Penerbit indie balakangan ini semakin banyak bermunculan, sejalan dengan meningkatnya keinginan banyak orang menjadi penulis. Setiap penerbit indie tentu memiliki kebijakannya sendiri-sendiri. Dan, semua penulis bisa menerbitkan bukunya di penerbit indie. Sangat mudah prosesnya, tak perlu bersaing dengan penulis lainnya. Semua naskah pasti akan diterbitkan, tetapi anda harus menyiapkan budget untuk membayar jasa penerbitan.

            Walau penerbit kecil, penerbit Indie bisa menjanjikan keuntungan materi bagi anda asal mampu menjual bukunya. Bahkan jika mau dibandingkan dengan penerbit mayor, penerbit indie memberikan penghasilan jauh lebih besar. Jika royalty di penerbit mayor 5-10% saja dari harga buku, di penerbit indie minimal anda akan mendapatkan royalty 30%. Tetapi, terkadang penulis tak melulu mengejar materi katanya, ingin sekali karyanya nongkrong di rak toko buku besar itu. Sebuah kebanggan pastinya saat mampu “bersaing dengan ribuan penulis lain”. Ya, itu balik lagi ke niat dan cita-cita penulis ya.

            Pesan saya, jika mau menerbitkan di penerbit indie, carilah penerbit indie yang terpercaya dan bagus hasil buku terbitnya. Dan ingat, buat naskah sebaik mungkin layaknya akan terbit di mayor. Jangan lupa self editing walau penerbit indie menyedikaan fasilitas edit. Tapi alangkah lebih bagus penulis mampu menulis dengan rapi, bukankah itu juga sebuah pembiasaan yang bagus untuk kemajuan karir menulisnya? Karena naskah yang bagus, walau terbit indie tetap akan menemukan pembacanya. Kepuasan pembaca adalah kunci. Ingat, banyak penulis dunia yang sukses berawal dari menerbitkan indie.

            So, jika penerbit mayor terlalu sulit ditaklukan dan saat ini anda sangat ngebet ingin memiliki buku, kenapa tidak coba menerbitkan indie dan pelan-pelan belajar menjualnya? Semua berawal dari nol, dan jika terus bergerak, insya Allah akan ada hasilnya.

Peluang di Platform Berbayar

            Platform menulis berbayar juga kini makin menjamur. Banyak penulis yang memang memfokuskan diri menulis di sana. Cukup menggiurkan sih, secara di sana dibayar berdasarkan view pembaca. Jika anda memiliki novel bagus atau tulisan apa pun yang sekiranya cocok untuk terbit di platform menulis  tersebut, kirimlah ke sana. Banyak penulis yang sudah meraup keuntungan jutaan lewat platform menulis ini.

            Beberapa di antara platform menulis yang kini sedang hits, adalah : Wattpad (sudah ada yang berbayar), Storial.co, Cabaca, Novelme, KBM App, Kwiku, Sweek, dan lain-lain. Jika memang membutuhkan tambahan materi dari menulis, ya cobalah masukan karya ke platform-platform menulis itu.

            Itu saja ulasan saya tentang keadaan penerbit mayor saat ini. Berdasarkan pengetahuan saya saja yang masih terbatas pastinya. Semoga ada manfaatnya dan tidak menyurutkan semangat para penulis untuk tetap menulis dan berkarya. 

Mojokerto, 12 Nopember 2020

Salam sayang, 

Yeti Nurmayati.