Minggu, 05 April 2020

Catatan Pandemi Corona Bagian 1

Pic by Canva


Postingan ini adalah salah satu catatan yang dihimpun saya dari berbagai media yang saya baca saat terjadi Pandemi Corona di Dunia. Saya sebagai warga Indonesia ingin mengabadikan apa yang terjadi versi saya saat terjadi pandemi Corona, untuk pengalaman dan pembelajaran kelak jika anak atau cucu saya baca hehe.



Suatu hari sekitar bulan Februari 2020 saya tanpa sengaja menyimak berita di saluran BBC News yang melaporkan adanya virus yang merepotkan masyarakat Wuhan, China (iya, biasanya nggak pernah nonton BBC). Virus itu sebetulnya menyerang masyarakat Wuhan sejak bulan Desember 2019. Berbagai penyebab pun mencuat, ada yang menyebut karena masyarakat di sana suka makan kelelawar. Walau pun kemudian bermunculan teori-teori yang menyebut penyebab munculnya virus corona atau Covid-19. 

Pada saat itu saya tidak begitu khawatir, karena perkiraan saya virus itu paling hanya terjadi di negera China. Dan, saya tahu betul kehebatan dan kekayaan Negara China. Untuk memmerangi virus pastinya mereka sangat bisa. Hingga suatu hari ada sebuah broadcast di wa yang membahas virus corona di Wuhan dan ternyata virus itu mematikan.

Tak berapa lama setelah berita itu, kota Wuhan pun melakukan keputusan lockdown agar penyebaran virus tidak sampai keluar kota. Tetapi itu ternyata tak serta merta memutus mata rantai penyebaran, karena siapa pun yang pernah kontak dengan penderita atau carier (pembawa virus tapi tidak sakit), diduga positif infeksi virus. Apalagi masa inkubasi virus yang lumayan lama sekitar 5-14 hari. Artinya, yang pernah ke Wuhan dan kontak dengan penderita covid-19 bisa saja belum menunjukkan gejala dan ternyata dia membawa virus (carier).

Masalah semakin tidak biasa, saat virus itu menyerang warga Italy. Hingga WHO pun menyatakan bahwa dunia Pandemi Corona. Diberitakan, Negara Italy sebetulmya sudah menghimbau warganya untuk tetap di rumah dan menjaga jarak (social distancing), tetapi ada beberapa anak muda yang tak peduli. Mereka berpiknik, berpesta, hingga wabah menyebar kemana-mana. Korban terus berjatuhan, Italy pun memutuskan lockdown negaranya.

Beberap Negara memutuskan untuk lockdown, termasuk Singapura dan Malaysia. Mereka tidak membolehkan siapa pun untuk datang dan pergi dari negaranya. Sementara itu, di Negara sendiri Indonesia saya menyaksikan sendiri pemerintah kurang persiapan bahkan terkesan meremehkan akan bahaya virus corona. Lebih tidak saya pahami lagi, pemerintah malah melakukan promosi pariwisata besar-besaran dengan banyak diskon. Mungkin niatnya baik, ingin menggebrak sector pariwisata dan bisa jadi sudah melalui persiapan yang lama, makanya tetap digelar. Siapa sangka ternyata corona tak bisa dianggap remeh temeh.

Keremehtemehan corona jelas tampak saat ada tiga warga Depok yang positif Corona setelah kontak dengan warga Jepang. Lalu tak lama setelah itu, salah satu mentri pun dinyatakan positif corona setelah menjemput WNA di pelabuhan. Lalu dilanjutkan dengan mentri yang lainnya hingga ada seorang walikota juga positif corona pasca kunjungan kerja ke luar negeri. Keadaan Indonesia kian semrawut dan tegang, saat ada beberapa dokter yang akhirnya harus meregang nyawa karena ketidaksiapan Alat Pelindung Diri yang ada di RS. APD yang mestinya siap sebagai alat tempur tenaga kesehatan, ternyata sulit dicari. Bukan saja karena tidak menyiapkan, tapi juga karena masyarakat memborong semua alat kesehatan yang semestinya untuk tenaga kesehatan.

Anjuran pemerintah untuk memakai masker, ternyata berbuah boomerang bagi tenaga kesehatan. Masyarakat berebut membeli bahkan banyak di antaranya yang menimbun masker yang diperuntukan bagi tenaga kesehatan. Masker pun melambung harganya dan menjadi barang yang langka. Kalau pun ada mahal harganya. Saya pernah ditawari satu box isi 50 haraganya 500 ribu, padahal asilnya harganya 50ribu. Ada yang bilang kelangkaan masker juga terjadi karena pemerintah sebelumnya telah mengekspor masker untuk membantu warga China. Wallohu a’lam ya, jika benar sih nggak apa-apa membantu, yang penting tetap ada untuk warga kita sendiri ye kan?

Belum lagi soal makser selesai, lanjut ke masalah hand sanitiser yang langka. Alkohol pun meyusul hingga desinfektan serta bahan-bahan pembuatnya. Padahal, semua barang itu sangat dibutuhkan oleh tenaga kesehatan di RS/Puskesmas. Dalam keadaan seperti itu, masyarakat pun digempur dengan permasalah berita-berita hoax yang setiap hari menghiasi media sosial dan grup-grup wa. Masyarakat dihantui ketakutan.



Ketika sudah mulai serius dan tegang, barulah pemerintah mengambil sikap untuk meliburkan anak-anak sekolah mulai dari Paud hingga Perguruan Tinggi (PT). Mereka pun menghimbau masyarakat untuk melakukan social distancing dan diam di rumah. Hal ini untuk memutuskan mata rantai penyebaran virus. School from home menjadi pilihan, begitu pun dengan orang tua harus work from home. Sejak tanggal 16 Maret 2020 hingga saat catatan ini ditulis (5 April 2020), sekolah masih libur /SFH. Ini sejarah baru dalam dunia pendidikan Indonesia dan juga dunia, libur sangat lama karena wabah. Tetapi ternyata pekerja tidak semuanya bisa dirumahkan termasuk suami saya, tetap saja harus berangkat kerja dengan peningkatan kesadaran social distancing juga memakai masker dan selalu pakai hand sanitizer.

pic by canva

Tanggal 11 Maret adalah tanggal yang penting bagi WHO. Pada hari itu WHO menyatakan dunia sedang dilanda Pandemi atau Wabah Coronavirus. WHO pun merilis banyak cara untuk mengatasi penyebaran virus itu dengan selalu cuci tangan pakai sabun, jika keluar pakai hand sanitizer dan jangan lupa pakai masker.

Saat ini, ada 2000 lebih penduduk Indonesia yang dinyatakan positif covid-19. Ratusan yang meninggal dan ratusan pula yang sembuh. Pemerintah Indonesia tak melakukan antisipasi lockdown seperti yang disuarakan sebagian masyarakat, karena menurut mereka itu tidak akan efektif. Meski pun banyak usulan untuk lockdown agar WNA tak bisa datang ke Indonesia, tetapi tak membuat pemerintah mau menerima usulan itu. Akhirnya setelah adanya himbauan untuk social distancing dan diam di rumah saja, pemerintah memutuskan agar masyarakat melakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). PSBB akan saya ulas nanti di postingan blog selanjutnya, karena cukup panjang ada 6 poin kalau tidak salah.

Sebelum PSBB, ada juga usulan yang muncul, yaitu karantina wilayah. Lockdown dan karantina wilayah katanya berbeda, walau pun pada prakteknya hampir sama. Tapi kemudian usulan karantina wilayah juga tak mendapat respon. Adalah Kota Tegal yang melakukan lockdown lokal, setelah sebelumnya Gubernur Jakarta terlebih dahulu melakukannya, walau pada akhirnya keduanya mendapat teguran dari pemerintah pusat. Katanya menurut aturan, lockdown itu wewenang pusat.

Tidak berhenti sampai situ, lockdown merebak hingga ke perkampungan, kompleks dan perumahan. Ada banyak kampung, perumahan dan kompleks yang melakukan lockdown lokal, walau pun kemudian didatangi aparat keamanan. Iya, solusi pemerintah saat ini masih PSBB bukan lockdown. Persoalan pun kian meruncing dengan adanya arus mudik dari daerah epicentrum virus, Jakarta. Jika ini terus dibiarkan, maka sudah dapat dipastikan virus akan terus menyebar kemana-mana bahkan hingga ke kampung-kampung. Wapres didesak untuk megeluarkan fatwa haram Mudik! Akankah itu terjadi? Kita lihat saja ya.

Itu saja dulu catatan dari saya. Selanjutnya saya akan bahas soal APD, PSBB, Warna Warni SFH, Suka duka WFH, istilah-istilah yang sedang popular saat pandemic coronam hikmah-hikmah dibalik pandemic Corona, dan lain-lain. Mari kita akhiri catatan ini dengan perasaan optimis, saya yakin pandemi corona ini akan segera berakhir. Saya yakin juga Allah Maha Melindungi hambanya, oleh karena itu marilah untuk terus mendekatkan diri pada-Nya. Oh iya, jika ada kesalahan dalam catatan saya, silakan komentar di bawah, akan saya koreksi. Terima kasih.


Jumat, 13 Maret 2020

5 Hal Penting yang Wajib Diperhatikan Saat Membuat Cerita Anak



Selamat sore….


          Mana nih para penulis buku anak? Cung cung…
        Penulis cerita anak kian hari semakin banyak ya? Benar nggak sih? Alhamdulillah dong ya, agar anak-anak Indonesia semakin semangat baca dengan ide-ide segar para penulis yang semakin beragam itu. Banyak penulis, banyak buku, banyak tema, banyak pilihan untuk anak-anak. Kan katanya penjualan buku anak masih mendominasi di hampir semua penerbit. Makanya apa pun itu, yang penting ayo semangat menulis!

          Lalu tak sedikit yang mulai belajar atau berniat terjun sebagai penulis buku anak bertanya, “gampang nggak sih membuat cerita anak?” Gampang nggak ya? Ayo jawab hihi…
          Bagi sebagian orang terutama yang sudah betah nulis panjang, semisal novel, menulis cerita anak katanya susah. Lebih gampang menulis novel katanya. Iya sih, menulis cerita anak itu gampang-gampang susah kalau menurut saya. Kalau sekadar nulis, ya bisa saja. Tapi, kan harus bertanggungjawab terhadap tulisannya. Ada juga orang yang menggampangkan kalau menulis buku anak itu mudah banget katanya. Tidak perlu pakai sastra-sastraan katanya. Bagaimana menurut kamu? Silakan coba saja dulu buat ya.

Baca juga : 

Ketika Naskah Kamu Tak Kunjung Diterbitkan, Jangan Baper!

          Menulis cerita anak bagi saya yang masih belajar ini lumayan harus memeras otak, keringat dan air mata wkwk (lebay). Iya, untuk menuliskan satu cerita anak yang apik, perlu beberapa hari pada awalnya. Tetapi saat ini sudah lumayan sih, walau pun masih harus sering edit dan edit hingga oke. Memang diperlukan latihan yang terus menerus hingga terbiasa dan memiliki ciri khas pastinya.

          Pada postingan blog kali ini, saya akan mencoba memberikan sedikit informasi yang saya ketahui tentang penulisan cerita anak. Tetapi, sebelumnya mari kita satukan visi misi (et dah) tentang maksud dari cerita anak. Jadi, cerita anak yang saya maksud ini lebih ke cerpen anak kali ya. Atau guru saya menyebutnya cerpen realis (nyata). Artinya cerita anak dengan tokoh anak dan mengupas masalah yang biasa terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Tidak ada magic-magican atau keajaiban, bukan fantasi, benar-benar real kehidupan sehari-hari. Contohnya : Cerita yang sering muncul di majalah Bobo, Solo Pos atau buku-buku yang memang menuliskan cerita sehari-hari anak.
          Oh iya, saya pernah membuat sepuluh cerpen realis tapi untuk anak muslim. Di dalam buku Cerita-cerita Sains Terbaik dari Hadist Nabi penerbit Quanta Kids (Elex Media Kompitindo), saya menuliskan sepuluh kisah anak sehari-hari tetapi saya hubungkan dengan hadist Nabi. Ada Daffa si anak yang doyan makan, ada Salwa sang kakak yang pemarah. Semua tokohnya sama tiap cerita, namun setting, konflik, alur berbeda. Setiap akhir cerita saya sertakan hadist dan fakta sains berdasarkan hadist nabi. Kalau mau tahu bukunya, silakan tanyakan di Gramedia ya (promosi).



          Lalu, apa saja sih yang harus diperhatikan saat membuat cerita anak? Setidaknya saya memiliki lima hal yang mau saya kupas agar cerita anak kamu menarik. Apa saja itu?

1.     Tema yang cocok untuk anak
Tema yang diangkat haruslah yang ramah anak. Yang sinkron dengan pengetahuan anak. Jangan sampai kalian menulis cerita tema dewasa seperti Cinta Segitiga Yeti Vs Suami Vs Shahrukh Khan misalnya. Atau cerita remaja bahkan drama keluarga. Jangan. Buatlah cerita anak yang menghibur, memiliki makna atau hikmah kebaikan, serta dapat dipahami anak pastinya. Konfliknya pun harus yang biasa dialami anak dalam kesehariannya. Tapi jangan pula mengambil tema liburan ke rumah nenek melulu (sudah zaman milenial, nenek zaman sekarang yang jalan-jalan ke rumah cucunya). Ide itu banyak, apa pun masalahnya bisa dibuatkan cerita.
Nah karena itu, penulis anak memang sebaiknya memposisikan dirinya sebagai anak-anak saat menuliskan cerita. Agar tidak ada nasihat-nasihat yang biasanya muncul dan terkesan menggurui (namanya juga emak-emak ya, bawaannya ingin menasihati apalagi jika membayangkan anak sendiri yang membacanya)
2.    Alur tidak maju mundur
Memangnya Princes Syahrini ya maju mundur cantik. Jika kalian terbiasa membuat alur cerita maju lalu mundur ke sepuluh tahun silam, dalam cerita anak itu lebih baik dihindari. Bagi anak itu cukup membingungkan. Sebaiknya pakailah alur maju, maju dan maju. Biarlah masa lalu menjadi kenangan terindah. Jangan diungkit-ungkit ya.
3.    Bahasa yang dimengerti anak
Untuk cerita anak sebaiknya memakai bahasa yang bisa dimengerti anak. Tergantung target pembaca sih, apakah untuk anak SD kelas bawah atau kelas atas. Penulis harus paham, agar tidak memunculkan kata-kata “aneh” saat anak membacanya dan tidak menimbulkan makna ambigu juga. Dalam beberapa buku biasanya ada penambahan halaman khusus (glosarium) yang menjelaskan pengertian dari kata baru yang muncul. Ini boleh saja agar anak lebih paham.
Untuk majas atau perumpamaan sebaiknya dihindari, apalagi bahasa alay. Jangan.
4.    Kalimat tidak terlalu panjang
Ini tergantung target pembaca sih ya. Ada yang mengatakan jika untuk anak SD kelas bawah maksimal 13 kata per kalimat dan untuk anak SD kelas atas mungkin bisa lebih dari itu. Hal ini untuk memberikan kenyamanan, agar anak tidak mudah capek juga dan akhirnya malas melanjutkan bacanya. Kalimat terlalu panjang juga terkadang menimbulkan makna yang lain bagi anak.
5.    Cerita tidak berbelit-belit dan bertele-tele.
Ini penting apalagi di awal-awal pragraf. Jangan sampai hal-hal tidak penting yang tidak ada hubungannya dengan cerita muncul. Lebih baik langsung saja ke pengenalan konflik. Walau pun ada, sebaiknya hanya sedikit semisal perkenalan tokoh atau setting. Awalan yang sudah kuno sebaiknya dihindari, semisal : “Pada zaman dahulu kala…. Dst” Sudah zaman milenial dong, ganti.
Selanjutnya hindari membelit-belitkan cerita (hadoh bahasanya piye iki). Apalagi tidak konsisten baik itu dalam konflik, POV maupun nama tokoh. Buatlah cerita anak yang sederhana, namun berkesan mendalam. Untuk ending boleh kok pakai twist plot, asal tetap masuk akal.


Bagaimana, sudah paham belum? Kalau ada yang ditanyakan boleh komentar di kolom komentar ya. Jangan lupa untuk selalu berlatih membuat cerita anak, karena tak ada guru yang lebih baik dari latihan hihi… semakin sering berlatih, apalagi mendapatkan masukan dari senior, insya Allah semakin membuat karya kalian lebih mantap.

Itulah sedikit sharing saya tentang hal penting yang wajib diperhatikan saat akan menuliskan cerita anak. Jika ada yang ingin menambahkan sangat diharapkan. Dan jika ada yang kurang tepat juga mohon koreksinya. Semoga ada manfaatnya.

Salam hangat dari Kota Mojokerto sehangat kue onde-onde.
13 Maret 2020.


Kamis, 05 Maret 2020

Ketika Naskah Kamu Tak Kunjung Diterbitkan, Jangan Baper! Begini Cara Menghadapinya






Selamat pagiii…

Pernah nggak sih teman-teman penulis kesel banget karena naksahnya tak kunjung menjadi buku?
Haduh, kok naskahku nggak diterbit-terbitkan! Padahal sudah nunggu lamaa… sampai jamuran wkwk…
Kok naskah dia lagi dia lagi yang diterbitkan, aku kapan dong? Gemes pengen nyokot pipi editor, ups!

Padahal angan-angan memegang buku karya sendiri sudah ada di depan mata. Terbayang-bayang terpajang nama sendiri di cover buku, aduhai indah sekali. Apalagi jika terjual dengan manis, bukan hanya lumayan terkenl tapi juga mendapatkan keuntungan materi (lumayan untuk membeli mobil… uhuk!).

Sayang, itu hanya angan-angan saja, naskah yang selama ini udah dinanti-nantikan bakalan cepat menjadi buku masih antri untuk proses selanjutnya. Padahal acc nya sudah dari tahun yang lalu. Huhuhu… siapa nih yang begini? Ahahaha bukan saya lo ya.

Teman-teman, tahu tidak kalau buku saya yang seri Materkids : Meneladani Sofat dan Karakter Rasulullah Saw itu prosesnya cukup lama? Iya pertama kali ajuin proposal naskah itu adalah bulan Januari tahun 2018 yang lalu. Sekitar satu bulanan naskah acc dan disuruh melengkapi. Saat itu naskah saya bentuknya berupa kumpulan kisah keteladanan nabi. Perlu sekitar dua tahun untuk terbit menjadi buku seperti sekarang.


Keren kan buku saya? Hehe


Ceritanya setelah lama tak ada kabar kelanjutannya, saya pun mempertanyakan naskah tersebut. Pihak penerbit memberikan nomor editor agar saya dapat berkomunikasi lewat whatshapp. Lewat Wa, saya disuruh merevisi dan menambahkan kekurangan naskah. Saya pun melakukannya dengan cepat dan antusias dong, berharap cepat naik cetak kan haha… apalagi ini terbilang naskah yang pertama kali di acc penerbit mayor.

Tetapi apa daya, hingga tahun 2019 yang lalu naskah saya itu belum ada kemajuan. Jalan di tempat dan editor pun tak bisa berbuat apa-apa. Saya pun mulai hopeless dan mencoba move on mengharapkan naskah di penerbit lain. Alhamdulillahnya, saya kan setiap akhir tahun banyak kirim naskah, ada beberapa yang juga acc di penerbit lain, Masya Allah. Iya, ini kebiasaan saya. Setiap akhir tahun orang lain mah pada mudik atau liburan, saya mah nguprek nulis naskah wkwk… semoga tahun ini mah bisa umroh atau liburan kali ya, kayak orang lain.

Tapi jangan salah, akhirnya berbuah manis lo. Sekitar akhir tahun 2019, Editor buku Masterkids ini menghubungi saya lagi dan menyatakan keinginannya akan naskah saya. Naskah saya yang semula kumpulan kisah keteladanan beliau mau ubah menjadi naskah pictbook berseri. Tidak tanggung-tanggung, ada sepuluh seri. Oh iya, dulu naskah saya ini sudah dibeli putus lo, tetapi ketika diubah menjadi pictbook, saya kembali dibayar per bukunya. Alhamdulillah, rezeki penulis.



Memang tak mudah mengubah kumpulan kisah menjadi pictbook, karena kan sudah berubah target pembacanya juga. Yang awalnya untuk anak SD, berubah menjadi untuk anak TK/Paud. Walau begitu, saya sangat antusias menyambutnya. Beberapa kali mengalami revisi dan masukan, editor memang harus benar-benar bertanggungjawab akan isi buku. Karena ini kan menyangkut kisah nabi yang semuanya bersumber dari hadits. Beli buku referensi, Konsultasi sama Ustad, nonton channel berbagai Ustad, dan lain-lain saya lakukan. Alhamduilillah akhirnya selesai dan naskahnya oke.  Setelah itu, untuk buku panduan orang tuanya pun direview oleh psikolog langsung. Benar-benar serius dan berusaha sebaik mungkin pokoknya.

Setelah selesai, karena waktunya mepet, agar bisa PO sebelum bulan Ramadhan, editor menghubungi beberapa illustrator untuk bekerjasama. Dan, kini buku serial Masterkids : Meneladani Sifat dan Karakter Rasulullah Saw sudah siap menemani hari-hari adik-adik di rumah. Sebuah perjalanan yang lumayan panjang dan berliku tetapi mencapai akhir yang manis. Alhamdulillah puas saya. Semua perjalanan itu tentu saja atas kehendak Allah Swt. Dan, tak ada satu hikmah pun yang tak dapat kita ambil dari kejadian apa pun. Proses panjang ini pada akhirnya membuat saya lebih santai lagi dalam proses menunggu buku terbit dan yang pasti terus menulis dan kirim.  






Ngomong-ngomong soal kok nggak terbit-terbit sih naskah saya? Saya akan menuliskan beberapa alasan penerbit kenapa lama menerbitkan naskah versi saya. Kenapa ya?

1.     Naskahnya banyak atau overload


Banyak penerbit mayor yang kedatangan naskah bertubi-tubi. Bayangkan saja semakin hari semkain banyak penulis baru bermunculan. Bisa jadi antrian naskah itu ribuan. Biasanya jika sudah banyak antrian naskah, jika ada tema yang menarik ya tetap saja akan diacc. Semacam tabungan naskah. Resikonya naskah lama terbitnya. Bahkan bisa bertahun-tahun. Ada satu naskah saya yang editornya bilang naskah saya acc, tapi kemungkinan dikerjakannya tahun depan. Begitulah, naskah kalian berada dalam antrian tersebut dan, taka da cara lain selain kalian harus bersabara menunggu. Menunggu memang bukan hal yang mudah, makanya alangkah lebih baiknya kalian lanjut menulis naskah yang lainnya saja, jangan menunggu terus ya. Siapa tahu ada rezeki di tempat lain.  
2.    Ada prioritas
Penerbit juga memiliki prioritas. Jika ada naskah yang memang perlu segera diterbitkan ya akan didahulukan ketimbang punya kamu. Itu sih sangat wajar, mengingat penerbit kan juga bisnis. Nah, jika naskahmu dianggap biasa-biasa saja alias tidak urgent, ya harus terima prosesnya lebih lama.
3.    Menunggu momentum
Adakalanya penerbit itu menunggu momentum yang tepat untuk menerbitkan sebuah buku, agar hasilnya maksimal tentunya. Momentum seperti menyambut bulan suci ramadhan, ya buku yang diprioritaskan yang berkaitan dengan Ramadhan dan momentum-momentum yang lainnya. Nah, jika naskahmu memang cocoknya untuk menyambut momentum tertentu, maka harus menunggu hingga waktunya tiba. Kalau tidak tahun ini berarti tahun depan.

Nah, begitu ya menurut saya kenapa naskah kalian tak kunjung terbit. Tetapi jangan berkecil hati apalagi baper, akan tiba saat yang indah seperti saya atau bahkan lebih mungkin jika kalian bersabar. Jangan lupa ada takdir Allah juga yang pastinya Maha Mengatur Semua Hal. Allah tahu mana yang terbaik untuk kalian. Insya Allah.


Minggu, 16 Februari 2020

Mau Bacaan Anak Gratis? Tenang, ada Let’s Read




Sekitar sebulan yang lalu ada pengumuman seleksi penulis cerita anak untuk ikut Lokakarya Penulisan BookLab 2020 Let’s Read di Jakarta. Pengumuman itu mensyaratkan beberapa hal untuk dikirim ke panitia sebagai acuan mereka memilih calon penulis. Ini ajang bergengsi tentu saja, karena naskah buku yang ditulis oleh penulis cerita anak nantinya akan tayang di aplikasi Let’s Read dan mendapat honor.
Tetapi yang lebih penting dari itu, adalah prosesnya. Siapa pun yang pernah ikut lokakarya ini mengatakan kalau ilmu dari para mentor let’s read itu sangat luar biasa bagus, idealis dan terbaik. Nah, karena hal inilah saya yang pada awalnya tidak berkenan ikut, akhirnya tergoda juga. Padahal, untuk mengikuti Lokakarya Let’s Read itu tidak murah secara akomodasi ditanggung pribadi. Saya terus terang daftar di hari terakhir deadline pendaftaran, itu pun setelah bertanya ke beberapa teman penulis dan mereka pada ikutan.

Syarat Ikut Lokakarya BookLab 2020 Let’s Read

Beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh seorang calon pendaftar Lokakarya Penulisan Booklab 2020 Let’s Read adalah sebagai :
Mengisi Google form yang isinya tentang kesediaan biaya ditanggung sendiri (hanya diberi uang jajan setiap hari @200.000 plus jika naskah lolos dapat honor 3 juta), menulis data diri, unggah tiga karya terbaik anda, motivasi ikut, isu literasi, pengetahuan buku anak, pengetahuan tentang Let’s Read . Itu saja sih syaratnya.
Setelah dilakukan pemilihan pendaftar penulis oleh dewan juri yang ahli dibidang bacaan anak, seperti : Kang Ali Muakhir, Bu Sofie Dewayani, Kak Rosie Setiawan dan dua juri lainnya, diputuskanlah 15 peserta yang akan ikut Lokakarya di Jakarta. Dan, saya tanpa diduga muncul di urutan paling akhir. Sungguh sebetulnya saya tak berharap, tapi Alhamdulillah bisa mendapatkan kesempatan untuk belajar banyak hingga bisa menuliskan postingan ini.

Apa Sih Let’s Read?

          Mungkin ada teman-teman yang bertanya, apa sih let’s read itu? Kenapa mbak Yeti heboh banget di facebook sharing-sharing Let’s Read di beberapa grup wa? Saya sungguh excited setelah tahu apa itu let’s read. Ibarat kata, bagai menerima kabar gembira dari sahabat dan saya tak bisa menahan diri untuk mendekapnya seorang diri. Saya harus bagikan info penting kepada sebanyak-banyaknya sahabat dan siapa pun itu. Dan senangnya itu setelah saya sharing info mengenai Let’s Read, semua happy. Semua bersyukur, ada aplikasi gratis sebagai alternative pilihan bacaan anak.
          Let’s read sendiri adalah sebuah sebuah perpustakaan digital gratis untuk anak yang berisi ratusan cerita menarik dalam berbagai bahasa. Let’s Read ini diprakarsai oleh Lembaga Pembangunan Internasional Nirlaba, The Asia Foundation.

Anda bisa instal logo ini. 

          Latar belakang pembuatan perpustakaan digital ini adalah karena salah satunya kesulitan pendistribusian buku-buku hingga pelosok negeri. Juga soal efisisensi. Jika bentuknya digital, semua orang bisa mengaksesnya dimana pun dan kapan pun.

Beberapa judul cerita di aplikasi Let's Read

Jika anda ingin melihat perpustakaan digital Let’s Read anda hanya tinggal mengunduhnya di play store, dengan nama Let’s Read. Anda bisa memilih bahasa, memilih level bacaan, memilih tema dan hurufnya juga bisa diatur. Berita gembiranya adalah, anda bisa mencetak gratis buku-buku di website Let’s Read! Iya gratis tanpa perlu izin, asal bukan untuk tujuan komersil. Di websitenya www.letsreadasia.org, anda bisa langsung mencetaknya menjadi booklet seperti di bawah. Tanpa ribet, karena sudah dilay out sedemikian rupa. Jika menghendaki lay out sendiri, bisa. Misalnya ingin satu buku isinya dua cerita, berarti harus lay out sendiri. Ingat ya, untuk mencetak bukunya hanya bisa lewat website, kalau dari aplikasinya tidak bisa.

Website Let's Read


Secercah Cahaya Baru dalam Literasi Indonesia

          Dengan adanya digital library Let’s Read, saya sangat bersyukur. Saya kira ini salah satu solusi bagi teman-teman yang ingin sekali bacaan bagus untuk anak atau muridnya, tapi kesulitan mendapatkan buku. Sebagaimana gembar-gembor pemerintah soal peningkatan literasi di Indonesia, saya pikir Let’s Read bisa dijadikan solusi. Ya, walau pun mungkin saja ada pro kontra, tapi mari kita lihat sisi baiknya. Let’s Read saya kira adalah perpaduan literasi digital dan literasi baca tulis.
          Dari beberapa sharing tentang Let’s Read yang telah saya lakukan, hampir sebagian peserta sharing senang. Semua menerima info ini sengan bahagia. Mereka pun langsung instal aplikasinya. Senangnya, mereka memberikan testimony positif tentang isi bacaannya saat dibacakan pada anak. Anak-anak mereka suka. Ada juga yang berprofesi guru, dan beliau memang di pelosok tinggalnya, beliau merasa sangat terbantu oleh adanya info dari saya. Masya Allah, saya sangat bahagia membagi berita gembira ini.

Contoh booklet hasil cetak dari website let's Read

          Harapan saya, semoga let’s read terus bertumbuh dan terus membagikan kebahagiaan lewat cerita anak yang berkelas. Saya yakin, bacaan di let’s read sangat bagus dan mampu menyihir anak-anak mencintai bacaan. Anak saya pun langsung jatuh cinta pada beberapa cerita.
          Harapan untuk para ibu yang sudah tahu aplikasi ini adalah tidak lagi malas membacakan cerita kepada anak. Iya, tidak ada alasan lagi ya. Let’s Read juga bisa dipakai untuk mempererat bonding, memberikan informasi positif pada anak. Hanya tinggal kemauan ibu atau ayah saja. Mari menanamkan kebaikan hati dalam diri anak lewat bacaan.
          Terima kasih Bu Sinta yang telah mengundang saya menjadi salah satu peserta Lokakarya Penulisan BookLab 2020. Terima kasih telah berbagi informasi tentang let’s read kepada saya. Saya rasa ini skenario Allah. Dan, saya telah melakukannya dengan baik.
          Nah, itulah tadi informasi dari Lokakarya Penulisan BookLab 2020 di Jakarta. Untuk informasi pelaksanannya dan pencarian akomodasi sendiri, akan saya posting di lain waktu. Saya senang telah mengikuti lokakarya itu. Ilmu dan pengalaman baru bagi saya yang masih belajar menulis cerita anak. Ada banyak hikmah yang saya petik. Semoga ke depannya saya bisa ikut lagi dan memberikan yang terbaik, aamiin. Semoga bermanfaat bagi semua pembaca blog saya, boleh tanya-tanya di kolom komentar ya. Terima kasih. 

         



Rabu, 12 Februari 2020

Tiga Cara Jitu Mendapatkan Buku Favorit Tanpa Harus Keluar Uang Sama Sekali (Tips Keluar dari Mental Gratisan)



Foto Dokpri
Hai, selamat siang, teman-teman. 
Sambil sharing di dua grup wa tadi pagi, saya menulis ini nih. Sepertinya cocok dibaca emak-emak ya, hihi. 
Beberapa Minggu yang lalu, saya membaca sebuah postingan di sebuah grup penulisan terkenal di seantero Facebook. Seorang Ibu rumah tangga muda curhat, katanya suka kesel kalau ada Author yang membukukan karyanya saat sedang asyik-asyiknya dia jadi pembaca setia. Kebetulan kan di grup itu, setiap hari para penulis yang jumlah puluhan ribu itu menulis ceritanya. Ceita di sana,  bisa dibaca secara gratis oleh semua member, yang tujuan sebetulnya meminta kritik dan saran. Nah, si Emak muda ini suka membacanya setiap hari, karena lumayan katanya hiburan gratisan.
Ketika tinggal beberapa part lagi menuju ending, biasanya Author akan menghentikan hiburan gratis itu, karena mau diterbitkan jadi novel. Ya bener la ya, kan setiap penulis ingin ceritanya jadi buku. Setelah jadi buku kan bisa dijual dan mendapatkan keuntungan. Memang wajar sikap penulis tersebut, mengingat setiap orang yang berkarya, pada umumnya ingin mendapatkan keuntungan.
Karena hal tersebut, si Emak muda itu meradang hatinya. Hiburannya hilang, dan katanya untuk beli novelnya dia tidak memiliki uang. Makanya sekarang dia katanya ogah-ogahan hanya sekadar untuk like karya saja di sana. Takut PHP katanya. La dalah, mak emak, apa susahnya sih nyenengin teman yang berkarya sedikiit saja? Mungkin tak berarti satu like saja bagi emak, tapi bagi si penulis bisa meningkatkan semangatnya untuk terus menulis atau melanjutkan ceritanya.
Nah, emak-emak emang pada dasarnya paling suka yang gratis sih, tak bisa dipungkiri, ya kan? Kalau ada yang gratis, kenapa mesti bayar, begitu semboyannya.
Tapi Mak, sebetulnya bisa lo emak mendapatkan buku teman emak itu secara gratis, asal tahu caranya.
Supaya emak tetap elegan mendapatkan buku gratis tis, emak bisa melakukan beberapa upaya di bawah ini. Yaah, diperlukan sedikit upaya sih, dan saya kira jika sungguh-sungguh hasilnya bahkan bisa menambah uang jajan anak lo. Tapi, cara ini bisa membuat jati diri emak tidak tercabik lo dengan sebutan mental gratis. Siapa sih yang ikhlas dibilang mental gratisan?
Mau tahu nggak caranya? Pastinya ya.
1.     Menjadi Reseller
Biasanya kan penulis buku akan menjual bukunya. Pada ummnya mereka membuka masa Pre Order, apalagi jika terbitnya di penerbit Indie sudah pasti ada masa Open Pre Order. Nah, emak bisa mendaftarkan diri menjadi reseller. Menjual bukunya, missal dapat 10 ribu dari harga buku 100.000. Dengan membantu jualan 10 eks saja, emak sudah bisa memegang buku favorit karya teman emak.
Syaratnya tentu saja harus ada kemauan untuk promosi. Jika saya boleh bercerita, ada lo teman-teman yang jadi reseller buku, mendapatkan uang yang cukup lumayan.
2.    Ikutan Give Away
Penerbit atau penulis, ada kalanya membuat give away untuk menarik minat pembeli. Emak ikutlah, mana tahu beruntung kan. Teman saya banyak yang mendapatkan buku dari hanya ikutan give away ini. Syarat ikut give away adalah harus benar-benar dibaca dan dilakukan perintahnya. Buatlah jawaban yang antimainstream jika berupa pertanyaan.
3.    Menjadi Buzzer atau Endorser
Kalau poin ketiga adalah, kalian bisa menerima jasa buzzer atau endorse. Buzzer di facebook atau ig, dibayar cash. Jadi emak bisa mengiklankan buku teman secara berkala sesuai kesepakatan, dan dibayar sesuai perjanjian. Kalau endorse, biasanya meminta review di blog atau di media sosial. Bukunya diberikan secara gratis dong.
Tuh kan, jika emak mau sedikit usaha, sebetulnya mudah saja mendapatkan novel teman dengan tiga cara di atas. Bahkan, emak pun bisa mendapatkan uang lebih daripada sekedar mendapatkan novel gratis.
Jangan mau memiliki mental gratisan, apalagi masih memiliki anggota badan yang berfungsi dengan baik. Pergunakan segala potensi diri kita untuk hal-hal positif, sebagai bukti syukur kita pada Tuhan.
Selamat pagi dan selamat beraktifitas.



Kamis, 30 Januari 2020

Inilah 3 Cara Asyik Bekerjasama dengan Ilustrator




Halo selamat pagi …!

Sepertinya lomba penulisan buku anak dalam rangka Gerakan Literasi Nasional (GLN) oleh pemerintah sudah mulai terendus bau-baunya (bahasa apa ini?). Dengan adanya lomba penulisan buku anak yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Sumatera Utara, sepertinya lomba sejenisnya akan segera bertebaran di berbagai provinsi maupun nasional.

Sebagaimana kita ketahui bersama, dalam pembuatan buku anak terutama untuk anak paud/TK dan SD, tentu saja membutuhkan kerjasama apik dengan para illustrator.

Apa sih illustrator?

Ilustrator itu orang yang akan mengilustrasi atau menggambarkan buku penulis sesuai dengan kehendak penulis.

Nah, dalam buku anak kan malah lebih dominan gambar daripada teksnya, makanya posisi illustrator ini sangat penting. Dan, setiap lomba buku anak terutama untuk sasaran anak paud/TK dan SD dimana pun, pasti mensyaratkan adanya gambar yang akan menyempurnakan cerita. Saat itulah penulis yang tidak bisa menggambar sendiri, diwajibkan mencari illustrator untuk diajak kerjasama.

Bagaimana cara bekerjasama dengan illustrator?

Bagi penulis pemula, hal seperti ini kadang dianggap rumit / sulit. Apalagi jika harus mengeluarkan biaya sendiri untuk bayar illustrator, padahal kan belum tentu menang. Belum lagi jika illustrator mintanya mahal, hihihi dijamin bakalan mundur teratur untuk ikutan lomba.

Sebetulnya cara kerjasama dengan illustrator itu tidak selalu harus bayar, setidaknya ada 3 cara asyik bekerjasama dengan illustrator yang akan saya bahas di postingan ini.

1.      Bayar Putus
Maksudnya kita bayar illustrator itu per halaman. Jika buku kita ada 10 halaman, dan biaya per gambarnya 100.000, maka kita bayar 1 juta rupiah. Besarnya harga beda-beda tiap illustrator. Ada yang 100-150 untuk gambar tunggal (single), 150-250 untuk gambar spread (satu gambar untuk dua halaman). Tetapi ada juga yang memberikan harga di bawah atau bahkan di atas rate itu. Tergantung tingkat kesukaran dan kerumitan gambar sepertinya. Dan juga tergantung jam terbang illustrator kali ya.
Pembayaran gambar bisa dilakukan depe dulu dan dilunasi saat sudah selesai semua. Atau bisa juga dibayar di awal atau di akhir, tergantung kesepakatan bersama.  
Cara ini tidak mengikat penulis, artinya kalau gambar sudah selesai dan penulis menang, tidak ada kewajiban apa pun untuk memberikan pembayaran lagi ke illustrator, kecuali memang mau memberikan hadiah misalnya, boleh-boleh saja. Atau ada perkataan sebelumnya yang menyebutkan akan memberikan pembayaran tambahan jika menang (ini mah wajib).

2.      Perjanjian fifty-fifty jika menang
Nah yang kedua ini penulis tak perlu keluar uang sama sekali di awal, karena perjanjiannya jika memang, hadiahnya bagi dua. Ini sebetulnya cukup adil, karena dua-duanya berisiko. Artinya jika tidak lolos atau tidak menang, dua-duanya tidak mendapatkan apa-apa. Jika menang, dua-duanya mendapat hadiahnya yang sama besarnya. Dalam hal ini, kedua belah pihak harus benar-benar sepakat dan saling support.

3.      Borongan
Nah kalau yang cara ketiga ini adalah sisitem borongan. Artinya, penulis pesan ke illustrator sebanyak 10 gambar misal dengan rinciannya. Terus Ilustrator memberikan harga sampai beres dan revisi 3 kali misalnya 3 juta rupiah. Penulis dalam hal ini boleh nego, dan harus mendapatkan kesepakatan yang sama-sama enak.

Yang perlu diingat adalah, biasanya gambar pun ada revsisinya dari panitia lomba. Oleh karena itu, penulis harus benar-benar bersepakat sampai revisi oke ya. Dan yang lebih penting juga adalah kedua belah pihak harus sama-sama enak dan ikhlas, karena jika salah satunya kurang ridho, saya pikir akan menjadi hambatan dalam prosesnya.

Menurut saya sih, Ilustrator dan penulis harus satu visi, supaya bisa saling mendoakan dan bukunya bermanfaat. Karena dalam buku itu ada rezeki yang diperjuangkan bersama. Jangan sampai salah satu ada yang terpaksa, hingga misalnya membuat gambar pun alakadarnya (kualitasnya jauh dari kemampuan asli yang dimilikinya). Mending kalau lolos, la kalau nggak, kan penulis dirugikan (terutama bagi yang dibeli putus/borongan). Oleh karena itu, sepakat itu wajib hukumnya ya.

Nah, itu dia tiga cara asyik bekerjasama dengan illustrator versi saya. Apkah versi lainnya ada? Silakan hubungi illustrator favorit kalian. Intinya yang penting sama-sama suka ya, tidak boleh ada yang merada terdzolimi. Selamat mencoba dan selamat ikut lomba.