Jumat, 16 April 2021

Cerpen Terinpisrasi dari Pembunuhan Penyantet di Sebuah Desa : Gadis Penyihir

Gambar dari Canva

“Hai anak penyihir! Itu kursiku!”

            Kalimat itu sudah begitu akrab di telinga Siti. Tiada hari tanpa sebutan anak penyihir, anak tukang santet dan anak nenek lampir. Siti sebenarnya sudah tidak mempermasalahkan lagi. Apalagi Nenek juga menyuruhnya untuk tidak peduli. Terserah mereka saja. Tapi, kali ini dia agak terusik. Siti sengaja berangkat sebelum matahari terbit, agar bisa duduk paling depan. Karena, hari ini pelajaran matematika dan dia sangat menyukai pelajaran itu.

            “Nggak mau!” Siti bergeming

            “Minggir!” Toni mencoba mendorong Siti.

            “Dibilang aku tidak mau pindah!” Siti mendorong Toni hingga anak laki-laki itu terjatuh.

            “Ada apa ini?” tiba-tiba Bu Lela masuk.

            “Siti mendorong Toni, Bu,” ujar Asih.

            “Sssstt … hati-hati, nanti disantet neneknya seperti Sari lo. Mampus kalian,” celetuk Wawan.

            “Hush, tidak baik menuduh sembarangan. Sudah ya, kita mulai belajar.”

            Hari itu pelajaran matematika. Bu Lela tahu betul kalau Siti menyukai pelajaran ini. Dia memberikan kesempatan Siti mengerjakan soal di depan kelas. Dengan mata berbinar, Siti maju dan berhasil mengerjakan soal dengan baik.

            “Bagus, Siti. Kamu anak yang cerdas,” puji Bu Lela.

            “Terima kasih, Bu.”

            Saat pelajaran terakhir selesai, semua murid berhamburan pulang. Siti pun berlari dengan hati riang. Dia ingin segera bercerita pada nenek. Wanita tua yang sudah dia anggap ibu sendiri itu pasti akan bahagia mendengarnya. Nenek sangat berharap Siti bisa terus sekolah dan menjadi guru. Walau itu bisa dibilang terlalu muluk, mengingat kebanyakan anak di kampung itu selesai SD langsung dinikahkan atau masuk pesantren setahun dan menikah juga akhirnya.  

            Jarak jauh dengan melintasi hutan yang kadang ada babi hutannya melintas, tak pernah menjadi kendala bagi Siti untuk berangkat ke sekolah. Nenek sering mengantar dan menjemputnya di hutan. Tapi ternyata hari itu nenek tak ada.

            Di kejauhan, Siti melihat ada motor depan rumah. Hati Siti langsung berdetak cepat. Apalagi ada bapak-bapak sedang duduk-duduk tak jauh dari rumah. Siti mempercepat larinya.

            “Nenekku mana?” Siti langsung bertanya

            “Maaf Nak Siti, Nenekmu sudah meninggal karena terjatuh di kolam,” jawab Pak Kades dengan hati-hati.

            “Hah! Nenek…!” Siti terisak.

            “Kemarin nenekmu meminta bapak merawat dan menyekolahkanmu. Kamu ikut dengan bapak ya. Ibu akan mengurusmu dengan baik.”

            Siti makin sesenggukan. Pak Kades memeluknya.

            “Baju dan semua barang Siti sudah ada di tas ini. Ayo ikut bapak ya.”

            Siti pun menurut. Dia dibonceng Pak Kades meninggalkan kampungnya dimana ia lahir dan tumbuh. Siti ingat semalam nenek menyemangatinya untuk selalu sabar dan berani. Nenek ingin dirinya terus sekolah. Air mata Siti pun semakin deras. Tak lama, dari kejauhan dia melihat rumahnya dibakar.

*

    Berita tentang kematian dukun santet menyebar dari mulut ke mulut. Akhirnya Siti pun tahu bahwa neneknya meninggal bukan karena kecelakaan, tapi dibunuh karena dianggap membahayakan banyak orang, Tentu saja dia sedih sekali. Karena bagi Siti, nenek sangat baik dan tidak mungkin menyakiti orang lain. 

     Siti semakin sedih saat suatu hari tahu bahwa neneknya menyerahkan diri untuk dibunuh dengan syarat Pak Kades mau merawat dan menyekolahkannya. Walau pun Pak Kades bilang bahwa dia tak bisa menahan amarah warga lagi, Siti tetap menyimpan kekesalan mendalam. 

*

    Sebulan setelah kejadian itu, tiga orang penduduk di daerah dekat rumah Siti dulu meninggal dalam semalam. Kematiannya pun tak wajar. Masyarakat kembali panik. Bukankah Nenek Penyihir telah mereka bunuh? Lalu siapa yang kini menyantet ketiga orang tersebut?

 ***

*Penulis : Yeti Nurmayati

*Cerpen yang terinpsirasi dari kisah penyantet yang dibunuh di sebuah desa zaman dulu. 

   

  

         

           

           

             

           

 

             

 

Jumat, 02 April 2021

Korban GPS, Kesasar ke Jalan Alternatif Menyeramkan di Malam Hari Nan Sepi

 

Desain Canva

Zaman modern seperti sekarang siapa yang tak kenal GPS? Pasti semua kenal. Sederhannya GPS alias Global Positioning System ini adalah petunjuk jalan. Jika zaman dulu orang-orang menentukan arah dengan melihat tanda alam, seperti letak bintang lalu penggunaan peta, maka zaman sekarang dengan adanya GPS, perjalanan ke mana pun jadi lebih mudah dan praktis. Tetapi, hati-hati lo, walau pun GPS sudah pasti tahu jalur/arah, tetapi kelemahannya GPS tak bisa memberitahu apakah jalan yang akan dilalui aman atau tidak.

            Seperti yang kami alami, bulan Desember tahun lalau (2020), saat kami melakukan perjalanan pulang dari Jawa Timur (Mojokerto)  ke Jawa Barat (Ciamis) lewat jalur utara. Untuk pertama kali, kami ingin mencoba pulang ke kampung halaman dengan melewati jalur utara, karena katanya pakai tol terus, jadi lebih tidak capek dan cepat pastinya. Apalagi saat setting GPS waktu yang dibutuhkan cukup sedikit ketimbang lewat jalur selatan yang biasa kami lewati.

            Awalna kami sangat optimis, berangkat pagi sekitar jam 8, berkat tol-tol yang dibangun era pak Jokowi ini, lebih cepat dari biasanya. Bahkan saat lihat GPS, hanya tinggal beberapa jam lagi akan segera tiba di Ciamis. Karena kami pertama kali, ada satu dua tol yang salah belok, hingga harus putar balik. Termasuk saat keluar dari tol Brebes, sesuai dengan petunjuk GPS, kami pun merasa ragu. Apakah benar arahnya? Dengan sedikit bingung, kami pun tetap melanjutkan perjalanan lewat jalur biasa (bukan tol lagi).

            Tepat Azan Maghrib, kami melewati perkapumpungan di tengah pesawahan. Hati saya sebenarnya memberi warning dengan berbisik kok jarang mobil yang lewat? Bukankah ini akhir tahun? Mestinya kan ramai? Dengan berharap sebentar lagi ada tempat istirahat, jalan yang hendak kami lewati malah menanjak tajam disertai belokan tajam juga. Pak Suami yang menyetir mulai merasa tidak nyaman akan kebenaran jalur.

            GPS tetap menunujukkan arah itu dan memang saat diperkecil akan sampai di jalan besar Majenang. Bismillah, kami melanjutkan perjalanan lagi. Jalan semakin menanjak dan situasi semakin gelap. Hujan mulai turun dan pepohonan yang rimbun menimbulkan aroma horror. Beberapa kali suami istighfar, karena jalan makin menyempit. Tak ada satu pun mobil atau motor yang mengikuti atau bersimpangan. Saya, suami yang menyetir dan kedua anak langsung pucat pasi. Apakah kami ini tersesat? Mana sebelum berangkat kami menonton acara on the spot yang memberitakan adanya mobil yang tersesat ke hutan. Dan saat itu kami ada di hutan belantara yang gelap dengan rintik hujan pula. Situasi makin kacau, karena anak bungsu saya pengen pipis. Sebenarnya, dia pengen pipis sejak tadi, cuma kami tidak mau berhenti dan keluar mobil. Berharap di depan ada tempat lebih baik/aman.

            Saya terpaksa mengabaikan rengekan si bungsu dulu. Suami butuh suntikan moril. Beberapa kali istighfar, suami dengan lebih hati-hati mulai melambatkan mobil. Bayangan akan banyak hal menyergap batin saya. Bagaimana jika ada perampok? Bagaimana jika ada kejadian gal-hal gaib? Saya terus bermunajat pada Allah, memohon petunjuk dan perlindungannya. Selang berapa lama, tepat di depan kami ada beberapa ekor kerbau menghalangi jalan! Waduh jantung saya tak bisa lagi ditolerir, berdetak keras.

            Apa yang terbayang di kepala saya? Perampok dengan sengaja menggunakan kerbau untuk menghalangi kami. Terus terang saya kan bawa pisau untuk ngupas buah, saya ambil tuh pisau dan pegang erat, kunci pintu mobil serta safety belt dikencangkan. Tapi pikiran saya yang lain berkata, kenapa perampok tidak mengambil kerbau yang banyak itu saja, kalau jual kan mungkin mahal juga. Mana gendut-gendut pula kerbaunya. Tetiba, suami bismillah perlahan kerbau memberi jalan dan kami bisa lewat. Plong rasanya.

            Tapi petualangan belum berakhir, setelah tanjakan dengan pinggir jurang, jalan menurun tajam. Saat turun, ada lobang rupanya, hingga mobil yang kami kendarai agak tak terkendali. Mobil serasa agak melayang dan saya pun mengingatkan suami. Kebetulan di bawah ada satu mobil yang naik/berlawanan arah, mobil itu menyalakan klakson sangat kuat. Pertanda bahwa laju mobil kami terlihat ada masalah. Alhamdulillah sekali lagi suami bisa mengendalikan mobil, walau saya lihat jelas dia begitu panik.

            Mobil yang kami bawa memang mobil kecil (brio), hingga sangat terasa jika terbentur bagian bawahnya. Karena kami pun tak menyangka akan lewat jalur seperti itu. Setelah melewati turunan itu, kami berhenti sejenak unuk menenangkan diri. Suami beberapa kali bilang merasa tak kuat untuk meneruskan jika medannya begitu terus. Tapi jika kembali pun bukan jalan keluar, maju kena mundur kena istilahnya.

            Setelah berdoa macam-macam, kami perlahan melanjutkan perjalanan. Saya beberapa kali mengingatkan suami untuk perlahan saja dan hati-hati. Medan yang ditempuh memang sangat menantang. Hingga satu cahaya memberikan harapan baru pada kami. Kian dekat dan itu ternyata sebuah rimah kecil lebih tepatnya pos. Di depan rumah itu, seorang pria berhoodi berdiri dengan menyodorkan ember. Saya sebenarnya menyimpan curiga, jangan-jangan orang jahat. Tapi suami saya tampak penuh semangat melihat lelaki muda itu. Ternyata dia minta uang. Suami memberinya sekalian bertanya tentang jalan. Laki-laki berhoodie itu memberitahu arah jalan dan lama waktu yang akan kami tempuh. Alhamdulillah suami mulai semangat lagi.

            Perjalanan dilanjut. Ternyata tak semudah yang dibilang si laki-laki tadi. Jalan tetap gelap dan berliku hingga suami kembali panik. Walau begitu, mobil tetap dijalankan dengan perlahan. Hingga tiba di sebuah perkampungan. Kami bersorak sorai. Di sana ada Indomart walau kecil hingga si bungsu bisa pipis.

            Alhamdulillah, kami makin bersyukur saat kami menemukan jalur utama jalan Majenang. Tak henti-hentinya kami mengucapkam syukur atas kelancaran dan perlindungan Allah.

HIKMAH  CERITA INI

            Setiap pengalaman dan cerita hidup pasti ada hikmahnya. Begitu pun dengan cerita perjalanan kami ini. Ada pun hikmahnya adalah :

1.      Sebelum melakukan perjalanan, ketahui dan kenali dulu jalur yang akan dilewati.

2.      Jangan terlalu terpaku pada GPS. Seperti yang saya tulis di atas, walau pun sudah barang tentu GPS menunjukkan arah, tapi tak bisa memberikan informasi apakah itu jalur alternatif atau bukan. Apakah jalur itu aman atau tidak.

JADI, JALUR YANG KAMI LEWATI NAMANYA APA?

Terus terang kejadian itu memberi trauma tersendiri bagi saya juga pasti suami dan anak-anak. Maka, cukup lama kami terutama saya tak mencari informasi apa pun terkait jalan itu. Lalu setelah dua bulan berlalu, baru saya browsing, ternyata itu namanya jalur alternatif gunung Lio, Salem. Jadi memang benar kami naik dan turun gunung. Terkait kerbau, saya pun tidak tahu itu kerbau siapa. Namun yang pasti tak  ada pemiliknya saat itu. Dan, memang jalur itu sangat ekstrim, jangan coba lewat jalur itu saat malam hari.

Itulah sekelumit cerita menegangkan yang pernah kami alami. Memang mungkin tak sehoror kejadian di jalur Alas Roban atau Alas Purwo, tapi bagi kami yang mengalaminya saat itu sangat luar biasa. Itu pengalaman tak akan terlupakan. Dan, beda dengan alas roban yang memang banyak kejadian aneh, jalur gunung Lio dari hasil browsing tak menakutkan (secara mistis). Hanya saja, karena kami baru pertama kali dan tak pernah tahu sebelumnya, maka menjadi sebuah petulangan yang sangat menggempeurkan.

Terima kasih telah membaca. Jika ada sahabat yang memiliki pengalaman lewat Gunung Lio juga, boleh share di kolom komentar. Terima kasih.

 

Salam sayang,

Yeti Nurmayati