Minggu, 16 Februari 2020

Mau Bacaan Anak Gratis? Tenang, ada Let’s Read




Sekitar sebulan yang lalu ada pengumuman seleksi penulis cerita anak untuk ikut Lokakarya Penulisan BookLab 2020 Let’s Read di Jakarta. Pengumuman itu mensyaratkan beberapa hal untuk dikirim ke panitia sebagai acuan mereka memilih calon penulis. Ini ajang bergengsi tentu saja, karena naskah buku yang ditulis oleh penulis cerita anak nantinya akan tayang di aplikasi Let’s Read dan mendapat honor.
Tetapi yang lebih penting dari itu, adalah prosesnya. Siapa pun yang pernah ikut lokakarya ini mengatakan kalau ilmu dari para mentor let’s read itu sangat luar biasa bagus, idealis dan terbaik. Nah, karena hal inilah saya yang pada awalnya tidak berkenan ikut, akhirnya tergoda juga. Padahal, untuk mengikuti Lokakarya Let’s Read itu tidak murah secara akomodasi ditanggung pribadi. Saya terus terang daftar di hari terakhir deadline pendaftaran, itu pun setelah bertanya ke beberapa teman penulis dan mereka pada ikutan.

Syarat Ikut Lokakarya BookLab 2020 Let’s Read

Beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh seorang calon pendaftar Lokakarya Penulisan Booklab 2020 Let’s Read adalah sebagai :
Mengisi Google form yang isinya tentang kesediaan biaya ditanggung sendiri (hanya diberi uang jajan setiap hari @200.000 plus jika naskah lolos dapat honor 3 juta), menulis data diri, unggah tiga karya terbaik anda, motivasi ikut, isu literasi, pengetahuan buku anak, pengetahuan tentang Let’s Read . Itu saja sih syaratnya.
Setelah dilakukan pemilihan pendaftar penulis oleh dewan juri yang ahli dibidang bacaan anak, seperti : Kang Ali Muakhir, Bu Sofie Dewayani, Kak Rosie Setiawan dan dua juri lainnya, diputuskanlah 15 peserta yang akan ikut Lokakarya di Jakarta. Dan, saya tanpa diduga muncul di urutan paling akhir. Sungguh sebetulnya saya tak berharap, tapi Alhamdulillah bisa mendapatkan kesempatan untuk belajar banyak hingga bisa menuliskan postingan ini.

Apa Sih Let’s Read?

          Mungkin ada teman-teman yang bertanya, apa sih let’s read itu? Kenapa mbak Yeti heboh banget di facebook sharing-sharing Let’s Read di beberapa grup wa? Saya sungguh excited setelah tahu apa itu let’s read. Ibarat kata, bagai menerima kabar gembira dari sahabat dan saya tak bisa menahan diri untuk mendekapnya seorang diri. Saya harus bagikan info penting kepada sebanyak-banyaknya sahabat dan siapa pun itu. Dan senangnya itu setelah saya sharing info mengenai Let’s Read, semua happy. Semua bersyukur, ada aplikasi gratis sebagai alternative pilihan bacaan anak.
          Let’s read sendiri adalah sebuah sebuah perpustakaan digital gratis untuk anak yang berisi ratusan cerita menarik dalam berbagai bahasa. Let’s Read ini diprakarsai oleh Lembaga Pembangunan Internasional Nirlaba, The Asia Foundation.

Anda bisa instal logo ini. 

          Latar belakang pembuatan perpustakaan digital ini adalah karena salah satunya kesulitan pendistribusian buku-buku hingga pelosok negeri. Juga soal efisisensi. Jika bentuknya digital, semua orang bisa mengaksesnya dimana pun dan kapan pun.

Beberapa judul cerita di aplikasi Let's Read

Jika anda ingin melihat perpustakaan digital Let’s Read anda hanya tinggal mengunduhnya di play store, dengan nama Let’s Read. Anda bisa memilih bahasa, memilih level bacaan, memilih tema dan hurufnya juga bisa diatur. Berita gembiranya adalah, anda bisa mencetak gratis buku-buku di website Let’s Read! Iya gratis tanpa perlu izin, asal bukan untuk tujuan komersil. Di websitenya www.letsreadasia.org, anda bisa langsung mencetaknya menjadi booklet seperti di bawah. Tanpa ribet, karena sudah dilay out sedemikian rupa. Jika menghendaki lay out sendiri, bisa. Misalnya ingin satu buku isinya dua cerita, berarti harus lay out sendiri. Ingat ya, untuk mencetak bukunya hanya bisa lewat website, kalau dari aplikasinya tidak bisa.

Website Let's Read


Secercah Cahaya Baru dalam Literasi Indonesia

          Dengan adanya digital library Let’s Read, saya sangat bersyukur. Saya kira ini salah satu solusi bagi teman-teman yang ingin sekali bacaan bagus untuk anak atau muridnya, tapi kesulitan mendapatkan buku. Sebagaimana gembar-gembor pemerintah soal peningkatan literasi di Indonesia, saya pikir Let’s Read bisa dijadikan solusi. Ya, walau pun mungkin saja ada pro kontra, tapi mari kita lihat sisi baiknya. Let’s Read saya kira adalah perpaduan literasi digital dan literasi baca tulis.
          Dari beberapa sharing tentang Let’s Read yang telah saya lakukan, hampir sebagian peserta sharing senang. Semua menerima info ini sengan bahagia. Mereka pun langsung instal aplikasinya. Senangnya, mereka memberikan testimony positif tentang isi bacaannya saat dibacakan pada anak. Anak-anak mereka suka. Ada juga yang berprofesi guru, dan beliau memang di pelosok tinggalnya, beliau merasa sangat terbantu oleh adanya info dari saya. Masya Allah, saya sangat bahagia membagi berita gembira ini.

Contoh booklet hasil cetak dari website let's Read

          Harapan saya, semoga let’s read terus bertumbuh dan terus membagikan kebahagiaan lewat cerita anak yang berkelas. Saya yakin, bacaan di let’s read sangat bagus dan mampu menyihir anak-anak mencintai bacaan. Anak saya pun langsung jatuh cinta pada beberapa cerita.
          Harapan untuk para ibu yang sudah tahu aplikasi ini adalah tidak lagi malas membacakan cerita kepada anak. Iya, tidak ada alasan lagi ya. Let’s Read juga bisa dipakai untuk mempererat bonding, memberikan informasi positif pada anak. Hanya tinggal kemauan ibu atau ayah saja. Mari menanamkan kebaikan hati dalam diri anak lewat bacaan.
          Terima kasih Bu Sinta yang telah mengundang saya menjadi salah satu peserta Lokakarya Penulisan BookLab 2020. Terima kasih telah berbagi informasi tentang let’s read kepada saya. Saya rasa ini skenario Allah. Dan, saya telah melakukannya dengan baik.
          Nah, itulah tadi informasi dari Lokakarya Penulisan BookLab 2020 di Jakarta. Untuk informasi pelaksanannya dan pencarian akomodasi sendiri, akan saya posting di lain waktu. Saya senang telah mengikuti lokakarya itu. Ilmu dan pengalaman baru bagi saya yang masih belajar menulis cerita anak. Ada banyak hikmah yang saya petik. Semoga ke depannya saya bisa ikut lagi dan memberikan yang terbaik, aamiin. Semoga bermanfaat bagi semua pembaca blog saya, boleh tanya-tanya di kolom komentar ya. Terima kasih. 

         



Rabu, 12 Februari 2020

Tiga Cara Jitu Mendapatkan Buku Favorit Tanpa Harus Keluar Uang Sama Sekali (Tips Keluar dari Mental Gratisan)



Foto Dokpri
Hai, selamat siang, teman-teman. 
Sambil sharing di dua grup wa tadi pagi, saya menulis ini nih. Sepertinya cocok dibaca emak-emak ya, hihi. 
Beberapa Minggu yang lalu, saya membaca sebuah postingan di sebuah grup penulisan terkenal di seantero Facebook. Seorang Ibu rumah tangga muda curhat, katanya suka kesel kalau ada Author yang membukukan karyanya saat sedang asyik-asyiknya dia jadi pembaca setia. Kebetulan kan di grup itu, setiap hari para penulis yang jumlah puluhan ribu itu menulis ceritanya. Ceita di sana,  bisa dibaca secara gratis oleh semua member, yang tujuan sebetulnya meminta kritik dan saran. Nah, si Emak muda ini suka membacanya setiap hari, karena lumayan katanya hiburan gratisan.
Ketika tinggal beberapa part lagi menuju ending, biasanya Author akan menghentikan hiburan gratis itu, karena mau diterbitkan jadi novel. Ya bener la ya, kan setiap penulis ingin ceritanya jadi buku. Setelah jadi buku kan bisa dijual dan mendapatkan keuntungan. Memang wajar sikap penulis tersebut, mengingat setiap orang yang berkarya, pada umumnya ingin mendapatkan keuntungan.
Karena hal tersebut, si Emak muda itu meradang hatinya. Hiburannya hilang, dan katanya untuk beli novelnya dia tidak memiliki uang. Makanya sekarang dia katanya ogah-ogahan hanya sekadar untuk like karya saja di sana. Takut PHP katanya. La dalah, mak emak, apa susahnya sih nyenengin teman yang berkarya sedikiit saja? Mungkin tak berarti satu like saja bagi emak, tapi bagi si penulis bisa meningkatkan semangatnya untuk terus menulis atau melanjutkan ceritanya.
Nah, emak-emak emang pada dasarnya paling suka yang gratis sih, tak bisa dipungkiri, ya kan? Kalau ada yang gratis, kenapa mesti bayar, begitu semboyannya.
Tapi Mak, sebetulnya bisa lo emak mendapatkan buku teman emak itu secara gratis, asal tahu caranya.
Supaya emak tetap elegan mendapatkan buku gratis tis, emak bisa melakukan beberapa upaya di bawah ini. Yaah, diperlukan sedikit upaya sih, dan saya kira jika sungguh-sungguh hasilnya bahkan bisa menambah uang jajan anak lo. Tapi, cara ini bisa membuat jati diri emak tidak tercabik lo dengan sebutan mental gratis. Siapa sih yang ikhlas dibilang mental gratisan?
Mau tahu nggak caranya? Pastinya ya.
1.     Menjadi Reseller
Biasanya kan penulis buku akan menjual bukunya. Pada ummnya mereka membuka masa Pre Order, apalagi jika terbitnya di penerbit Indie sudah pasti ada masa Open Pre Order. Nah, emak bisa mendaftarkan diri menjadi reseller. Menjual bukunya, missal dapat 10 ribu dari harga buku 100.000. Dengan membantu jualan 10 eks saja, emak sudah bisa memegang buku favorit karya teman emak.
Syaratnya tentu saja harus ada kemauan untuk promosi. Jika saya boleh bercerita, ada lo teman-teman yang jadi reseller buku, mendapatkan uang yang cukup lumayan.
2.    Ikutan Give Away
Penerbit atau penulis, ada kalanya membuat give away untuk menarik minat pembeli. Emak ikutlah, mana tahu beruntung kan. Teman saya banyak yang mendapatkan buku dari hanya ikutan give away ini. Syarat ikut give away adalah harus benar-benar dibaca dan dilakukan perintahnya. Buatlah jawaban yang antimainstream jika berupa pertanyaan.
3.    Menjadi Buzzer atau Endorser
Kalau poin ketiga adalah, kalian bisa menerima jasa buzzer atau endorse. Buzzer di facebook atau ig, dibayar cash. Jadi emak bisa mengiklankan buku teman secara berkala sesuai kesepakatan, dan dibayar sesuai perjanjian. Kalau endorse, biasanya meminta review di blog atau di media sosial. Bukunya diberikan secara gratis dong.
Tuh kan, jika emak mau sedikit usaha, sebetulnya mudah saja mendapatkan novel teman dengan tiga cara di atas. Bahkan, emak pun bisa mendapatkan uang lebih daripada sekedar mendapatkan novel gratis.
Jangan mau memiliki mental gratisan, apalagi masih memiliki anggota badan yang berfungsi dengan baik. Pergunakan segala potensi diri kita untuk hal-hal positif, sebagai bukti syukur kita pada Tuhan.
Selamat pagi dan selamat beraktifitas.



Kamis, 30 Januari 2020

Inilah 3 Cara Asyik Bekerjasama dengan Ilustrator




Halo selamat pagi …!

Sepertinya lomba penulisan buku anak dalam rangka Gerakan Literasi Nasional (GLN) oleh pemerintah sudah mulai terendus bau-baunya (bahasa apa ini?). Dengan adanya lomba penulisan buku anak yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Sumatera Utara, sepertinya lomba sejenisnya akan segera bertebaran di berbagai provinsi maupun nasional.

Sebagaimana kita ketahui bersama, dalam pembuatan buku anak terutama untuk anak paud/TK dan SD, tentu saja membutuhkan kerjasama apik dengan para illustrator.

Apa sih illustrator?

Ilustrator itu orang yang akan mengilustrasi atau menggambarkan buku penulis sesuai dengan kehendak penulis.

Nah, dalam buku anak kan malah lebih dominan gambar daripada teksnya, makanya posisi illustrator ini sangat penting. Dan, setiap lomba buku anak terutama untuk sasaran anak paud/TK dan SD dimana pun, pasti mensyaratkan adanya gambar yang akan menyempurnakan cerita. Saat itulah penulis yang tidak bisa menggambar sendiri, diwajibkan mencari illustrator untuk diajak kerjasama.

Bagaimana cara bekerjasama dengan illustrator?

Bagi penulis pemula, hal seperti ini kadang dianggap rumit / sulit. Apalagi jika harus mengeluarkan biaya sendiri untuk bayar illustrator, padahal kan belum tentu menang. Belum lagi jika illustrator mintanya mahal, hihihi dijamin bakalan mundur teratur untuk ikutan lomba.

Sebetulnya cara kerjasama dengan illustrator itu tidak selalu harus bayar, setidaknya ada 3 cara asyik bekerjasama dengan illustrator yang akan saya bahas di postingan ini.

1.      Bayar Putus
Maksudnya kita bayar illustrator itu per halaman. Jika buku kita ada 10 halaman, dan biaya per gambarnya 100.000, maka kita bayar 1 juta rupiah. Besarnya harga beda-beda tiap illustrator. Ada yang 100-150 untuk gambar tunggal (single), 150-250 untuk gambar spread (satu gambar untuk dua halaman). Tetapi ada juga yang memberikan harga di bawah atau bahkan di atas rate itu. Tergantung tingkat kesukaran dan kerumitan gambar sepertinya. Dan juga tergantung jam terbang illustrator kali ya.
Pembayaran gambar bisa dilakukan depe dulu dan dilunasi saat sudah selesai semua. Atau bisa juga dibayar di awal atau di akhir, tergantung kesepakatan bersama.  
Cara ini tidak mengikat penulis, artinya kalau gambar sudah selesai dan penulis menang, tidak ada kewajiban apa pun untuk memberikan pembayaran lagi ke illustrator, kecuali memang mau memberikan hadiah misalnya, boleh-boleh saja. Atau ada perkataan sebelumnya yang menyebutkan akan memberikan pembayaran tambahan jika menang (ini mah wajib).

2.      Perjanjian fifty-fifty jika menang
Nah yang kedua ini penulis tak perlu keluar uang sama sekali di awal, karena perjanjiannya jika memang, hadiahnya bagi dua. Ini sebetulnya cukup adil, karena dua-duanya berisiko. Artinya jika tidak lolos atau tidak menang, dua-duanya tidak mendapatkan apa-apa. Jika menang, dua-duanya mendapat hadiahnya yang sama besarnya. Dalam hal ini, kedua belah pihak harus benar-benar sepakat dan saling support.

3.      Borongan
Nah kalau yang cara ketiga ini adalah sisitem borongan. Artinya, penulis pesan ke illustrator sebanyak 10 gambar misal dengan rinciannya. Terus Ilustrator memberikan harga sampai beres dan revisi 3 kali misalnya 3 juta rupiah. Penulis dalam hal ini boleh nego, dan harus mendapatkan kesepakatan yang sama-sama enak.

Yang perlu diingat adalah, biasanya gambar pun ada revsisinya dari panitia lomba. Oleh karena itu, penulis harus benar-benar bersepakat sampai revisi oke ya. Dan yang lebih penting juga adalah kedua belah pihak harus sama-sama enak dan ikhlas, karena jika salah satunya kurang ridho, saya pikir akan menjadi hambatan dalam prosesnya.

Menurut saya sih, Ilustrator dan penulis harus satu visi, supaya bisa saling mendoakan dan bukunya bermanfaat. Karena dalam buku itu ada rezeki yang diperjuangkan bersama. Jangan sampai salah satu ada yang terpaksa, hingga misalnya membuat gambar pun alakadarnya (kualitasnya jauh dari kemampuan asli yang dimilikinya). Mending kalau lolos, la kalau nggak, kan penulis dirugikan (terutama bagi yang dibeli putus/borongan). Oleh karena itu, sepakat itu wajib hukumnya ya.

Nah, itu dia tiga cara asyik bekerjasama dengan illustrator versi saya. Apkah versi lainnya ada? Silakan hubungi illustrator favorit kalian. Intinya yang penting sama-sama suka ya, tidak boleh ada yang merada terdzolimi. Selamat mencoba dan selamat ikut lomba.

Rabu, 22 Januari 2020

5 Tips Jitu Agar Lolos dalam Seleksi Penulis Gerakan Literasi Nasional (GLN)



Apa sih Gerakan Literasi Nasional (GLN)? Jika kalian penulis,  terutama penulis buku anak pasti tahu apa itu GLN. Karena setiap tahun sejak tahun 2017, pemerintah khususnya Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan menyelenggarakan event ini dengan tujuan pengadaan buku-buku berkualitas untuk anak-anak Indonesia dari jenjang Paud hingga SMA. 

Sebagaimana kita ketahui bersama, sejak tahun 2016 pemerintah mulai menggencarkan program Gerakan Literasi Nasional. Apalagi sejak adanya sebuah survey yang menyatakan bahwa negara Indonesia berada di urutan kedua terbawah dari puluhan negara dengan minat baca paling rendah. 

Cara Penjaringan Penulis

Biasanya, Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Jakarta, akan terlebih dahulu menjaring calon penulis untuk menuliskan buku bagi anak-anak Indonesia. Setelah itu, barulah bermunculan lomba-lomba GLN di daerah (provinsi). Pengumuman penerimaan calon penulis biasanya dilakukan lewat media sosial dan website. 

Seleksi calon penulis di Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan pada awalnya (tahun 2017-2018) semua peserta mengirimkan karya/buku (buku dummy) untuk dinilai. Setelah dinilai, barulah diadakan pertemuan penulis bagi yang lolos. Tetapi pada tahun 2019 kemarin berbeda. Tahun lalu di mana saya adalah salah satu yang lolos, penulis hanya mengirimkan sinopsis lengkap dan 5 eks buku yang pernah diterbitkan. 

Sementara itu, di tingkat provinsi masih memakai metode yang sebelumnya, yaitu penulis diwajibkan mengirimkan karya sudah jadi dalam bentuk dummy. Untuk tahun ini, kita tunggu saja pengumumannya ya. 

Nah, banyak yang bertanya pada saya bagaimana agar lolos GLN? Saya pun berupaya merangkumnya versi saya tentunya ya. Jadi kalau beda, ya boleh-boleh saja. 

1. Bergaullah dengan penulis senior

Ini serius, terutama bagi penulis pemula yang ingin ikut daftar. Mengingat para senior inilah yang biasanya memiliki informasi terlebih dahulu jika sudah ada pengumuman. Jika kalian sudah kenal juga bisa bertanya yang tidak dipahami. Karena banyak kok senior yang baik alias mau menjawab pertanyaan junior sepanjang pertanyaannya nggak aneh ya. Ini pengalaman saya, di mana sebelumnya nggak pernah tahu apa itu GLN? Karena bergaul dengan penulis senior (berteman di medsos), akhirnya tahu dan mulailah mencoba daftar hingga lolos. 

2. Baca dengan Teliti Pengumumannya dan Taati

Setelah ada pengumuman, kalian bisa membaca dan menelitinya dengan seksama. Baca dan teliti kalau perlu tulis yang bagian pentingnya, agar tidak lupa. 

Apa saja yang harus diperhatikan? Tentu saja persyaratan, ketentuan dan yang penting deadline. Jangan lupa juga alamat pengiriman buku maupun alamat email untuk pengiriman karya kita (soft file). 

Dalam perjalanan pembuatan karyanya. kalian harus benar-benar mengikuti teknis atau aturan mainnya. JIka misalnya mengharuskan memakai jenis huruf sans serif atau huruf lainnya, ya harus pakai itu. Intinya taati semua aturan mainnya. 

3. Segera Bertindak 

Jika seleksinya meminta dalam bentuk karya, maka segeralah atur strategi pembuatan karya sesuai dengan kriteria dan persyaratannya. Jangan menunda. Segera cari ilustrator yang mau diajak  bekerjasama. Buatlah naskah sesuai syarat dan kriteria, jika meminta harus bermuatan lokal ya segera lakukan survey kecil-kecilan. Tetapkan mau ambil mulok apa dan masukkan dalam cerita anak. 

Jika panitia hanya meminta sinopsis, ya tinggal kirim sinopsis lengkap dari awal cerita hingga akhir. Ikuti semua syarat dan ketentuannya. 

4. Perhitungkan Waktu Pengerjaan hingga Deadline

Karena menulis cerita anak butuh banyak waktu, terutama soal ilustrasinya, makanya harus benar-benar diperhitungkan agar tidak melebihi deadline yang telah ditetapkan. Silakan berkonsultasi dengan calon ilustratornya. Kadang ada ilustartor yang full pekerjaan, tapi tetap bersedia mengerjakan, penulis kudu pastikan DL-nya beberapa hari sebelum deadline lomba. Karena kan kita juga butuh waktu untuk mencetak, menjilid dan mengirimkannya. Mending kalau digital printnya banyak di kota kalian, lah kalau cuma satu, kan antrinya minta ampun. 


5. Teliti lagi sebelum kirim 

Ketika karya sudah siap kirim sesuai ketentuan, jangan lupa untuk mericek kembali syaratnya. Siapa tahu ada file yang tertinggal dan belum dimasukkan ke dalam persyaratan. 


Nah, itu dia tips agar lolos dalam seleksi Penulis Gerakan literasi Nasional (GLN) versi saya. Semoga ada manfaatnya ya. 

Ingat, tugas kita hanya berusaha semaksimal mungkin, lolos alhamdulillah. Tidak juga tetap legowo, jadikan pengalaman untuk lolos di tahun berikutnya. Semoga berhasil!



Senin, 13 Januari 2020

9 Penerbit Buku Ini Siap Menerbitkan Komikmu. Kuy Kirim!



Hai, teman-teman. Selamat siaaangg ...! Selamat makan siang sambil membaca postingan keren saya ini. 

Jika kamu penyuka komik dan suka nulis komik, sangat harus baca postingan saya ini. Karena postingan ini berisi informasi bermanfaat untuk kamu dan bisa juga bermanfaat untuk saudara, sohib, calon mertua, atau bahkan mantan kamu.

Kamu suka nulis komik nggak? Kalau iya, jangan cuma ditulis doang, ayo coba kirim ke penerbit agar dibaca orang lain dan komikmu bermanfaat bagi orang lain juga. Keuntungannya kamu pun bisa mendapatkan penghasilan. Apalagi jika komik kamu cetak ulang lagi, dan lagi. Wiih, sudah pasti menggiurkan bukan? 

Komik saat ini memang tak bisa dipungkiri sangat diminati baik oleh anak-anak, remaja, maupun dewasa. Hal itu tentu saja tak lepas karena gambarnya banyak dan dialog yang kerap kali lucu. Bahkan tak jarang anak-anak lebih mudah menyelesaikan baca komik, daripada baca buku yang teksnya banyak. Bahkan nih ya, pemerintah pun mulai melirik dunia komik sebagai buku pendamping pembelajaran sekolah lo. 

Belakangan ini juga tak sedikit penulis yang mulai melirik skrip komik. Memang membuat komik tak perlu harus bisa menggambar atau mengilustrasi, karena ada ilustrator atau komikus yang bisa diajak kerjasama. Nah, jika kalian sudah punya naskah skrip komik, atau bahkan komik yang udah komplit dengan gambarnya, kalian jangan bingung mencari penerbit. Karena saya membawa berita gembira tentang 9 penerbit yang menerima naskah komik kamu. Siapa tahu salah satunya cocok dengan nsakah kamu. Kuy simak deh. 

1. Pustaka Al-Kautsar

Penerbit pertama yang menerima naskah komik adalah Pustaka Al-Kautsar. Penerbit ini menerbitkan naskah komik islami. Tahu kan komik seri AL-Fatih yang terkenal itu? Penerbitnya ya imprint Pustakan Al-Kautsar ini. Oh iya, penerbit ini menerima naskah komik anak, remaja hingga dewasa lo. Baik fiksi maupun nonfiksi.

2. Penerbi Zahira

Penerbit ini aku baca dari buku  komiknya yang terkenal yaitu "Pengen Jadi Baik" yang sudah diterbitkan hingga seri ke berapa ya itu? Lima ada kali ya, saking larisnya. Cek sendiri ya di medsos : Penerbit Zahira. Nah, kamu bisa coba juga kirimkan karya komik kamu terutama yang islami.

3. BIP

Penerbi BIP memiliki banyak koleksi komiknya, dari mulai komik anak hingga young adult sepertinya. Kalian bisa mengirimkan karya komik kalian ke penerbit ini, baik islami maupun umum. Kalau Islami akan terbit di Qibla (lini Islami), kalau umum ya di BIP-nya. Oh iya, BIP juga memiliki koleksi komik terjemahan yang lucu-lucu (anak saya suka). Juga komik yang mengusung tema remaja : Teen Comic  (Kalau ini emaknya yang suka haha). Silakan kepoin Fp-nya : Bhuana Ilmu Populer
4. Gema Insani

Penerbit satu ini juga menerbitkan komik-komik islami. Jika kalian memiliki naskah komik islami boleh kirim ke penerbit ini. Lihat koleksi komik terbitannya bisa membuat kalian tahu lebih dalam  karakteristik naskah kebutuhan penerbit.

5. Muffin Graphics

Ada yang tahu komik anak Next G? Ini dia penerbitnya, Muffin Grafhics yang merupakan imprint penerbit Mizan. Untuk mengirimkan naskah ke penerbit ini sebaiknya beli dulu komik Next G, karena ada ketentuan yang berhubungan dengan buku komik yang sudah diterbitkan, terutama bagi yang mau membuat komik serial Next G. Kepoin dulu Fp : Muffin Graphics

6. GPU

Saya menyebut penerbit besar ini bisa menerima naskah komik, karena baca buku komik terbitannya. Ada beberapa komik baik terjemahan maupun asli Indonesia pernah saya baca terbitan penerbit ini. So, kalian bisa juga coba kirimkan karyanya.

7. Dar! Mizan

Dar! Mizan menerima naskah komik islami. Beberapa karya teman-teman penulis sudah terbit di penerbit ini. Cari tahu email penerbitnya dan segera kirimkan karyanya ya. Siapa tahu diterima dan diterbitkan.

8. Funtastic MNC

Funtastic MNC juga menerima naskah komik baik tema umum maupun islami. Kalau ingin tahu terbitan penerbit ini lihat saja di akun medsosnya atau di toko buku. Biar jelas sekalian aja beli bukunya hehe. Bisa juga beli atau lihat di toko buku online.

9. Elex Media Komputindo

Elex media komputindo identik dengan komik scinece Why dan si Juki. Tapi, ternyata komik science Elex ada lo yang penulisnya asli Indonesia. So, kenapa kamu juga tidak coba? Kepoin saja akun instagramnya : Elex Kidz atau Elex Media Komputindo

Lalu setelah mengetahui penerbit bidikan kalian, langkah selanjutnya buatlah naskah komik ala kamu, biar original jangan niru punya orang ya. Cara membuat naskahnya bisa belajar dari buku komik yang sedang ada di pasaran seperti saya, pada awalnya saya belajar dari banyak buku komik. Lalu kalian bisa ikut training/workshop membuat naskah/skrip komik baik online maupun offline. Kuncinya sih praktik! Iya praktik. Tak ada gunanya ikut training ini itu, kalau tidak praktik! Eman-eman duitnya,ya kan?

Komik saya alhamdulillah ada yang sudag acc di salah satu penerbit besar di atas, dan bahkan mintanya komik serial. Doakan saya lancar mengerjakannya ya, karena dulu pengajuannya hanya dua bab saja sebagai contohnya.

Oke, itu saja secuil info dari saya. Bukan berarti yang terima komik hanya 9 penerbit itu saja ya, tapi lebih banyak pastinya. Cari tahu sendiri dan kalau sudah tahu kasih tahu saya juga boleh hehe. Walau tak banyak, tapi semoga tetap memberikan manfaat bagi teman-teman semua. Bermanfaat kan? Jawab iya saja dong. Terima kasih banyak ya. Ayo semangat menulis hingga menghasilkan karya terbaik!

Salam sayang,

Yeti Nurmayati di Mojokerto.


Minggu, 12 Januari 2020

Bingung Pilih Penerbit Indie atau Mayor? Berikut 5 Perbedaannya Agar Kamu Semakin Mantap!



Halo, selamat pagi...!


Dari kota Mojokerto saya mau menuliskan perbedaan Penerbit indie dan mayor yang sering menjadi kebingungan sendiri bagi penulis pemula. 

Tak sedikit teman-teman penulis pemula yang menanyakan kepada saya, apa sih perbedaan penerbit indie dan penerbit mayor? 
Tak usah bingung ya, yang penting kalian udah punya naskah mau di kirim ke penerbit indie maupun mayor, boleh. Hanya saja, untuk penerbit mayor ada ketentuan khusus tiap penerbit, jadi kalian harus kepoin dulu tuh penerbitnya. Bukan harus datang ke alamat penerbitnya, lihat-lihat saja akun sosmednya. Beres, kan? 

Baca juga : 9 Penerbit Ini Siap Terbitkan Komikmu


Nah, agar kalian pilihan kalian makin mantap, saya akan jelaskan lima perbedaan penerbit Indie dan penerbit mayor versi saya tentunya : 

1. Jumlah Cetak Buku

Penerbit Mayor biasanya mencetak minimal 2000 eksempler buku dan didistribusikan ke seluruh toko buku Gramedia atau toga mas atau toko buku lainnya seluruh Indonesia. 

Penerbit Indie bisa cetak sesuai dengan permintaan atau POD = Print On Demand. Mau cetak sepuluh, dua puluh, lima puluh, seratus, terserah kalian. Untuk penerbit indie ini bukunya tidak disitribusikan ke toko buku seluruh Indonesia. Jadi, kalian harus aktif berjualan karya kalian sendiri. Saran saya, bagi yang mau ambil penerbit Indie ini harus memiliki kecakapan menjuall bukunya, agar mendapat keuntungan yang maksimal. 

2. Pemilihan Naskah

Penerbit mayor akan menyeleksi naskah kalian dengan ketat. Ada banyak penulis senior maupun junior yang mengirimkan naskahnya ke penerbit mayor yang artinya saingan kalian sangatlah banyak. Oleh karena itu, naskah kalian haruslah dipersiapkan semaksimal mungkin, memiliki tema yang menarik dan kalau bisa beda dari yang lain. Jangan lupa perhatikan kerapian tulisan dan PUEBI-nya. Editor sangat menyukai penulis yang menulis naskahnya dengan rapi. 
Di Penerbit mayor ini, tidak semua naskah diterima. Terkadang naskah kamu harus mengalami penolakan, karena berbagai alasan tentunya. Saat itu, kalian jangan bersedih. Kalian bisa mencobanya ke penerbit yang lain. Terus saja seperti itu sambil naskahnya diperbaiki lagi. 

Penerbit Indie, tanpa adanya proses seleksi. Semua naskah yang masuk pasti akan diterbitkan. Tetapi ingat, kalian harus mencari penerbit indie yang eksistensi dan kredibilitasnya tak diragukan lagi. Untuk mengetahui hal ini, kalian harus bertanya kepada penulis senior yang pengalaman. Atau, cari tahu akun medsos penerbitnya lalu baca-baca track recordnya. Dari postingannya, dari terbitannya hingga orang-orang dibaliknya. Minimal google search nama penerbit, sukur-sukur terdaftar di IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia), kalau pun tidak terdaftar juga tetap legal (yang penting bukunya ada ISBN-nya), hanya kalian perlu hati-hati saja. Semuanya harus jelas di awal, jangan sampai merasa tertipu di kemudian hari. Oh iya, untuk menerbitkan di penerbit indie harus bayar ya, biasanya ada paketannya. Pelajari dengan seksama. 


3. Lamanya Waktu Penerbitan Buku

Penerbit mayor biasanya membutuhkan waktu minimal 3 bulan untuk melakukan proses review naskahmu. Ada juga yang sudah ada kabar 2 bulan atau bahkan 6 bulan, tapi rata-rata 3 bulan itu. Jadi kalian harus bersabar menunggu, dan daripada bengong, lebih baik nulis lagi tema baru. 

Penerbit indie tentu saja lebih cepat. Nggak sampai sebulan kadang buku sudah bisa terbit. Saya menyarankan untuk yang memilih penerbit indie agar kerjasama dengan teman-teman yang ahli di bidangnya. Misalnya : kerjasama dengan editor freelance yang mumpuni, karena biasanya penerbit indie tak memiliki editor yang bertugas memeriksa konten secara mendalam, mereka hanya memiliki Proofreader saja (memeriksa teknik penulisan saja). Walau pun tak semua begitu ya. Tujuannya ya untuk menghasilkan karya yang terbaik. 

4. Royalti 

Penerbit Mayor biasanya hanya memberikan royalti maksimal 10% dari harga jual kepada penulisnya. Kecil ya, iya betul. Karena mereka juga membutuhkan biaya cetak yang tak sedikit (modal). Untuk mencetak 2000 eks kan pastiya butuh modal gede ya. 

Penerbit Indie memberikan royalti bisa sampai 100% bagi penulisnya. Kalian harus memastikan ini di awal ya. Karena tak semua penerbit indie memberikan 100 %, tapi sebenarnya kalian bisa mendapatkannya sebesar itu. Silakan dikomunikasikan dengan baik. 

5. Biaya cetak

Penerbit mayor jelas biaya cetaknya lebih mahal, karena mencetak banyak sekaligus. Walau begitu, penulisnya tidak bayar sepeser pun. Karena naskahnya kan sudah pilihan penerbit

Penerbit indie biaya cetaknya ya lebih murah, tapi dibayar sama penulisnya semua. Biasanya ada paketannya tuh. 
Oh iya, untuk proses pengajuan ISBN itu gratis ya, kecuali untuk 2 buku terbit yang harus dikirimkan ke PERPUSNAS, penulis sendiri biasanya yang tanggung. 

Nah, sudah jelas kan perbedaan penerbit Indie dan penerbit mayor? Keduanya memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Yang jelas, mau nerbitkan dimana pun tetap harus hati-hati dan mengenal penerbitnya dengan baik. Selamat mengirimkasn naskah, semoga bukunya laris manis dan berkah bagi penulisnya. Aamiin. 

Senin, 30 Desember 2019

Bagaimana Sih Keseruan Pertemuan Penulis GLN Tahun 2019? Ayo Baca Kisahnya : Seru dan Padat Ilmu!



Oke, setelah saya menuliskan syarat-syarat mengikuti GLN 2019, lalu saya dinyatakan lolos dan persiapan yang tidak mudah untuk menuju ke Jakarta, kini saatnya saya menuliskan tentang kegiatan selama di Jakarta sana. 

Ngapain saja sih kami? Apa sempat jalan-jalan?

Heboh pastinya. Secara hampir 100 orang penulis buku anak tumplek di sana. Mereka berasal dari seluruh penjuru nusantara. Dan saya pun sangat bangga bisa berada di antaranya. Ibarat kata anak bau kencur, ikutan reuni akbar penulis. hihi.. Sungguh anugerah Allah yang Maha Baik.

Pertama datang disambut Mas Sanjaya dan teman-teman panitia lainnya. Semua peserta registrasi sekaligus menyetorkan kwitansi transportasi selama perjalanan PP, lalu kami dibagikan name tag dan buku panduan kegiatan. Setelah itu, kami dipersilakan makan siang dan masuk kamar hotel. Waah... saya dalam keadaan lapar berangkat nyubuh dari Tasikmalaya, disediakan makanan yang banyak, saya terus terang kalap, Mak. Sampai isin dilihat Kang Ali wahahaha... 


Buku Panduan dan Name Tag

Setelah makan, alhamdulillah kami diberikan waktu istirahat saling mengenal teman sekamar masing-masing. Saya mencari nomor kamar, dan ternyata kuncinya sudah diambil Bu Anna yang sekamar dengan saya. Saya telepon beliau tapi nggak diangkat, lalu sayapun telepon ke telepon kamar, alhamdulillah dia sudah ada di kamar! Kami mendaapt kamar di lantai 8 (beruntung tidak di lantai 12. Emang kenapa? Ada deh haha). Akhirnya bertemu Bu Anna yang baik dan tidak sombong. Beliau ternyata seorang pakar pendidikan sekaligus konselor Paud. Kesan pertama lihat, Bu Anna adalah orang yang tegas dan jaim, tapi ternyata tidak sama sekali. Kami malah sering ketawa-tawa, baik di kelas maupun di kamar, tak peduli apa pun masalahnya, yang penting heppy we ceunah haha. 




Bersama my Roomate, Bu Anna

Wefie kita hihihi 

Hari Pertama Ngapain saja? (Rabu, 24 April 2019)

Hari pertama pembukaan dimulai pukul 15.30. Diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya 3 Stanza. Sangat hikmat, secara kami semua dianjurkan memakai batik. Semarak corak batik yang keren dari seluruh pelosok nusantara berpadu dengan kehidmatan lagu Indonesia Raya. Sangat mengharukan bagi saya berdiri di sana. Acara dilanjut dengan doa dan laporan panitia. Selanjutnya adalah  sambutan oleh Bapak Kepala Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Prof Dr. Dadang Suhendar, M.Hum. Beliau memberikan paparan dan pandangan tentang literasi saat ini dan upaya-upaya yang dilakukan pemerintah termasuk adanya pertemuan penulis bahan bacaan literasi baca-tulis 2019 itu. Beliau pun membunyikan gong pertanda pertemuan penulis dimulai! Yeaaayy!

Ada satu acara yang cukup mencuri perhatian kami, yaitu pemberian piagam penghargaan kepada seluruh penulis yang diawakili Kang Ali Muakhir. Serasa udah sah menjadi penulis, Mak! :)

Acara semakin ramai dengan adanya penampilan opera anak-anak yang bertemakan literasi tentunya. Tarian, nyanyian, drama berpadu dengan penampilan alami mereka nan Imut dan menggemaskan! Seruuu dan menghibur! Kalian anak-anak yang hebat!

Nah, acara hari pertama berakhir dengan sesi foto bersama. Seru dan meriweh pokoknya. Selfi dimana-mana, beruntung memiliki teman sekamar yang juga hobi berfoto, jadi kita bisa foto-foto sampai puas. 


Bersama sebagian penulis dan Pak BT

Pukul 18.00-19.00 adalah wkatu kami mandi, solat dan makan malam. Malamnya, kami harus masuk kelas lagi, belajar lagi materi "Strategi Pembuatan Bahan Bacaan Literasi Baca-Tulis untuk Pembaca Dini dan Pra Membaca" dengan narasumber Dr. Hurip Danu Ismadi, M.PD. Acara hari pertama selesai pukul 21.00. 

Hari Kedua Ada Apa? (Kamis 25 April 2019)

Hari kedua dimulai pukul 08.00 dengan materi "Ilustrasi sebaga Strategi Penguatan Cerita Anak." dengan Narasumber Bapak Sigit Priyasmono, seorang yang memang ahli di bidang ilustrasi. Materi yang didapat sangat banyak dan daging semua. Terutama soal pembuatan ilustrasi. Sebetulnya ini cocok banget sebagai materi bagi para Ilustrator, tetapi bagi saya yang sering kerjasama bareng ilustrator pun sangat bermanfaat. Acara berlangsung sampai pukul 10.00.


Foto kesekian kalinya hihi

Setelah 15 menit istirahat atau coffee Break, acara dilanjut dengan materi "Penjenjangan Buku Cerita Anak" oleh Mbak Sofie Dewayani, seorang penulis, trainer dan salah satu founder litara Foundation (kalau tidak salah). Bu Sofie mengupas tuntas tentang penjenjangan buku anak dan berbagai informasi keren lainnya. Acara berlangsung hingga pukul 12.15. 

Lalu kami istirahat hingga pukul 13.00 dan dilanjut oleh materi Pak Bambang Trimansyah, seorang yang tak asing lagi di kalangan penulis buku anak. Pak Bambang mengupas tuntas soal "Proses Kreatif Penulisan Cerita Anak". Banyak ilmu dan pengalaman yang dipaparkan beliau. Saya sebagai pemula sangat beruntung bisa mendengar materi Pak BT yang keren. Yang paling ingat dari materi Pak BT adalah soal awalan cerita dan tema buku anak yang sudah old, semacam tema liburan ke rumah nenek itu hihi... 

Pukul 15.00-15.30 kami istirahat dan solat, acara pun dimulai lagi dengan materi Bu Dewi Utama Fauziah dengan mengupas tuntas soal Kearipan Lokal dalam Cerita Anak. Dari beliau saya banyak tahu soal sejarah buku di Jepang, jenis buku-buku anak Jepang dan banyak hal deh yang kesemuanya membuat saya semakin kaya ilmu. Keren bu Dewi ini sering jalan-jalan ke luar negeri dengan khusus mengamati literasi bangsa yang dikunjunginya. Akutu pengen kayak gitu, Mak!

Jam 17.30-19.00 istirahat, mandi, solat dan makan malam. Kang Abik (Habiburrahman El Shirazy) menghangatkan suasana malam Jumat kami dengan materi Proses Kreatif Penulis untuk Membangun Penguatan Karakter dala, Cerita. Kang Abik begitu memesona memaparkan pembuatan karakter agar disukai pembaca. Acara diakhiri dengan foto bersama bareng sang maestro dalam dunia kepenulisan. Tentu saja ada banyak permintaan peserta kepada Kang Abik terutama soal foto (maklum beliau kan selebritis juga ya) hehe...



Kang Abik yang begitu berkharisma


Hari Ketiga Ngapain? (Jumat, 26 April 2019)

Hari Jumat ternyata sudah dibuatkan pengelompokkan kelas yang masing-masing dibimbing oleh para narsum kemarin. Seluruh penulis dibagi menjadi 4 kelompok. Kelompok A dibimbing Pak Bambang Trim, Kelompok B oleh Bu Dewi Fauziah, kelompok C oleh Bu Sofie Dewayani dan kelompok D oleh Pak Sigit Priyasmono. Saya berada di kelompok D bersama Mbak Watiek Ideo, Mbak Dwi Rahmawati, Mas Redy, Mbak Widya Ros, Mbak Baby Haryani D, Mbak Tria Ayu, Teh Ina Inong, dan banyak yang lainnya sekitar 23 orang.  

Seharian kami diharuskan mempresentasikan buku apa yang akan dibuat dan ilustrasinya sebanyak 30 %. Semua tampak tegang! Hihihi... walau pun sudah dipersiapkan dari semalam bahkan sebelum berangkat ke jakarta, kalau harus presentasi kan lain lagi ceritanya. Urutan presentasinya dengan cara diundi pula! dan makin tegang deh kami haha... terutama saya deh.


Kita para punggawa kelompok D 

Tapi alhamdulillah sebelum pukul 19.00 malam, saya sudah maju presentasi dan mendapat masukan (lega). Tapi ada banyak penulis yang belum kebagian presentasi, alhasil dilanjut malam. Padahal, malam itu ada materi Bu Murti Bunanta dengan tema "Membuat Cerita Anak Mendunia!" . Penulis yang belum persentasi terpaksa tidak mengikuti sesi bu Murti ini. Dan, saya pun hanya bisa sampai jam 20.00 saja, karena ada telepon dari kakak saya, bahwasannya anak saya sakit di Tasik. Wah, kebayang kan rasanya? kaget iya, bingung iya, sedih iya. Alhasil dengan berurai air mata saya menemui panitia. Saya bilang mau izin pulang malam itu juga. 




Saat paling mendebarkan hihi

Perjalanan Pulang

Karena alasan anak sakit dan tidak mau berhenti menangis (kuyakin karena merindukan ibunya anak saya ini), saya pun diantar pulang oleh Mas Sanjaya yang baik hati. Mencari bus yang ke Tasikmalaya sekitar pukul 21.30 malam karena saya kan harus menyelesaikan urusan adiministrasi dulu. Alhamdulillah setelah berkendara motor dibonceng Mas Sanjaya, kami berhasil menembus kemacetan Jakarta. Saya pun menemukan bus terakhir menuju Tasik. Capek sangat, secara rencananya mau pulang naik pesawat dengan Kang Iwok besok paginya, tiketnya hangus deh hihihi..



Alhamdulillah....Allah Maha Baik 

Ya begitulah, emak-emak. Rempong, namun mengasyikan! Alhamdulillah semuanya membawa berkah buat saya. Ilmu yang banyak, silaturahmi, mengenal banyak hal, menemukan sosok yang sangat perhatian dan tentu saja diri saya yang memang berharga, setidaknya untuk putri saya. Capek tapi menyenangkan hingga tak terasa capeknya. Perjalanan panjang dari Mojokerto-Tasikmalaya-Jakarta PP dengan seorang asisten cilik yang merindukan emaknya. Momentum GLN 2019 ini sangat berpengaruh bagi saya, terutama dalam membuat keputusan untuk fokus menulis cerita anak dengan lebih percaya diri. 

Senang deh menjadi bagian GLN 2019, semoga buku yang saya buat berkolaborasi dengan Kang Ramdan bermanfaat untuk anak bangsa di seluruh nusantara. Doakan saya tahun depan juga menjadi salah satu penulis GLN 2020 ya, aamiin. 


Salah satu ilustrasi keceh di dalam buku Balapan Sampah karya saya.
Dibuat oleh Kang Ramdan (Endan Ramdan)

Itulah sekelumit curhatan saya tentang Pertemuan Penulis Bahan Bacaan Literasi Baca Tulis 2019 di Hotel Kartika Chandra Jakarta. Teman-teman saya ada yang sempat jalan juga ke Perpustakaan nasional di hari Sabtunya. Kalau saya sudah di Tasik dan memeluk si bungsu yang begitu bahagia melihat ibunya pulang.