Rabu, 16 Oktober 2019

Punya Anak Selalu Ngeselin? Yuk Baca Hasil Parenting Seru Bersama Ustad Naruto


Dok : Yeti Nurmayati

Siapa yang sudah tahu Ustad Naruto? Cung! Ustad kok kaya tokoh kartun Jepang ya. Hihi.. saya pun baru kenal pas hari itu, Mak. Di acara Parenting di sekolah anak gadis saya, SDIT Permata Mulia Mojokerto. Awalnya saya pun cukup kaget, hah Ustad Naruto? Lalu saya pun cari tahu tentang beliau. Eh ternyata beliau Ustad muda yang cukup terkenal di Surabaya khususnya. Karena beliau memang asalnya dari Surabaya.

MENGENAL USTAD NARUTO

Nama asli Ustad Naruto adalah Marzuki Imron, ST. Beliau adalah lulusan Teknik Mesin ITS Surabaya. Sudah memilik istri dan putri sepertinya (beliau tidak terlalu banyak bicara soal keluarganya). Yang pasti beliau tinggal di Surabaya. 

Kenapa dikenal sebagai Ustad Naruto?

Berdasarkan info yang saya lihat di you tube pada acara Hitam Putih Trans 7, beliau menceritakan asal muasal julukan tersebut ketika ditanya oleh Mas Deddy Corbuzier. Katanya, awalnya karena beliau tahu kalau target dakwahnya adalah anak-anak mahasiswa (muda), maka agar lebih diterima oleh mereka, Ustad memutuskan memakai jaket Naruto. Tak disangka responnya luar biasa, para mahasiswa menjulukinya Ustad Naruto. 

Kenapa Ustad pilih tokoh Naruto bukan Boboi Boy misalnya atau Power Ranger gitu? 


Ustad Naruto memegang Buku Cerita-cerita Sains Terbaik dari hadis Nabi karya saya
(Dok. Yeti Nurmayati)

Karena Ustad memiliki kisah yang cukup mendalam dengan film animasi itu. Dulu, katanya saat beliau masih menjadi mahasiswa pernah berada di titik terendah dalam hidupnya. Saat berada di kamar kost, beliau memutuskan untuk nonton film kartun Naruto secara maraton. Beliau memang penasaran dengan sosok Naruto yang banyak disukai teman-temannya itu. Nah, pada satu scene dimana Naruto yang kadang sok bijak itu berkata soal takdir, kok tetiba omongan itu nancap di hati sang Ustad. 

Singkatnya, beliau mengatakan perkataan Naruto itu lumayan membuatnya bersemangat kembali. Bisa jadi beliau juga berterima kasih  pada film Naruto yang telah membuatnya bangkit dari keterpurukan. Hingga saat ini, Naruto dan Ustad Marzuki Imron tak terpisahkan. La wong putrinya juga namanya Himawari hihi... 

Itulah sekilas mengenal Ustad Naruto yang kubilang sangat energik dan menghibur. 


PARENTING YANG SANGAT EKSPRESIF DAN BERAPI-API 

Kedatangan Ustad Naruto ke Mojokerto itu adalah undangan dari SD dimana anak bungsu saya sekolah. SD tempat anak saya belajar, sengaja mengundang beliau untuk mengisi acara parenting orang tua murid agar lebih paham lagi soal mendidik anak.  

Ketika pertama kali melihat beliau, orangnya seperti pendiam dan saya pikir akan menyampaikan materi dengan biasa saja. Standar dan mungkin membosankan. Tapi, tahu tidak, dugaan saya itu sangat keliru. Ustad Naruto sangat energik layaknya Naruto kalau sedang meneriakan musuh-musuhnya. Lantang, lugas dan penuh hiburan (kadang konyol).

Di luar ekspektasi saya, Ustad Naruto sangatlah ekspresif dan all out! Saya sejak pertama beliau ceramah sudah terhipnotis memperhatikan seluruh ekspresi wajah dan isi materi yang disampaikannya. Sedikit-sedikit tertawa riuh, iya semua terhibur. Tapi jangan salah, materi yang disampaikannya pun amat keren. 

Kesimpulan saya, Ustad Naruto adalah salah satu ustad muda yang unik. Beliau memilih untuk akrab di berbagai kalangan dengan caranya. Bagi saya ini sangat luar biasa keren. Sebuah inovasi seorang Ustad merangkul umatnya. Tapi ada yang lebih keren lagi dari itu, beliau bukan ustad sembarang ustad. Beliau Ustad yang peduli urusan parenting. Iya, seperti yang saya tulis di awal, beliau di undang untuk acara parenting bukan hanya sekedar ceramah. Ilmu parentingnya pun mantap dan sangat cocok untuk keadaan orang tua zaman now


Ibu-Ibu Komite dan Perwakilan kelas foto bareng Ustad Naruto
(Dok. Yeti Nurmayati)

ISI MATERI YANG DISAMPAIKAN GURIH, RENYAH DAN BERBOBOT

Bicara isi materi yang disampaikan, saya kebetulan menuliskan poin pentingnya saja. Ustad Naruto menyampaikan materi mengenai cara mendidik anak yang baik sesuai dengan fitrahnya. Cara mendidik anak di keluarga, karena memang keluarga adalah lingkungan pertama dan utama bagi pertumbuhan anak. 

Setidaknya, ada tiga poin penting yang wajib dilakukan orang tua agar anaknya sukses menjadi insan mulia, berakhlak baik dan berkarakter. Apa saja poin penting itu? Yuk kita bahas satu per satu. 

1. Berbicara pada anak sesuai dengan usianya

Ini sangat penting dan menentukan apakah ilmu yang akan kita sampaikan akan diterima dengan baik oleh anak atau malah sebaliknya. Bicara dengan anak juga ada ilmunya lo, Ayah Bunda. Dan, kita sebagai orang tua harus paham itu agar tercapai apa yang menjadi tujuan kita. Ketika bicara dengan anak balita tidak mungkin kan kita mengajaknya diskusi? Yang ada anak malah bingung. 

Berdasarkan ilmu yang disampaikan oleh Ustad Naruto, ada tiga bahasa yang dapat dipakai orang tua dalam menyampaikan nilai-nilai kebaikan pada anak berdasarkan usia mereka. Apa saja ya? Yuk simak.

a. 0-7 tahun : Bahasa Cerita/Dongeng

Anak usia ini memang paling suka dibilangin dengan cara bercerita atau mendongeng. Ayah atau Bunda bisa membuat dongengnya sendiri dengan nilai-nilai kebaikan yang telah disiapkan, atau bisa menyontek dari buku atau bahkan bisa sambil membacakan buku (jujur saja, bagian ini saya tambahkan ya, maklum saya kan penulis buku anak hihi). 

Anak usia ini akan mudah menerima nilai-nilai kebaikan dari menyimak cerita. Apalagi jika Ayah dan bundanya hebat dalam bercerita. Anak-anak pasti happy dan di alam bawah sadarnya akan tertanam nilai-nilai kebaikan itu. Ciptakan suasana menyenangkan setiap kali ayah bunda bercerita atau membacakan buku, bacakan dengan ekspresif, insya Allah anak-anak akan ketagihan.

b. 8-14 tahun : Bahasa contoh

Nah di masa menuju remaja, seorang anak butuh contoh. Bukan lagi cerita apalagi dongeng. Tapi real, contoh yang nyata. Di uisa ini ayah bunda wajib menyontohkan perilaku yang ingin anak tiru. Tidak perlu banyak bicara, apalagi teriak, cukup perlihatkan jadi seorang muslim/muslimah yang baik itu seperti apa. Ketika ayah menginginkan anaknya salat di Masjid, ketika terdengar azan, Ayah langsung ambil air wudu, lalu pakai sarung, koko plus kopiyah dan gandeng anaknya menuju masjid. 

Di sinilah dibutuhkan peran kedua orang tua yang selalu konsisten. 


c. 14-selamanya : Bahasa Diskusi

Setelah dewasa, anak akan tetap membutuhkan orang tua. Jika ternyata anak melakukan kesalahan, bicarakan dengan cara diskusi. Ajak anak diskusi dengan santai dan jadilah temannya yang mengasyikan. 


2. Jangan Memaksakan Keinginan Anak

Nomor dua setelah bahasa yang sesuai dengan usia anak, adalah jangan pernah memaksakan kehendak orang tua. Biarkan akan memiliki hobi, memiliki kesenangannya sendiri selama itu positif. Biarkan anak dengan pilihan hidupnya, jangan memaksakan hidup anaknya. Seorang anak yang terpaksa mengikuti kehendak orang tua sudah pasti bakalan tidak bahagia alias tersiksa batinnya. Dan, bisa jadi suatu hari dia akan membenci orang tuanya. 

3. Doa yang tak pernah putus

Menjadi orang tua sejatinya adalah memperbaiki kualitas hidup sendiri. Jika Ayah Bunda menginginkan anaknya soleh solehah, maka Ayah Bunda dulu harus soleh solehah. Jika menginginkan anak laki-lakinya lembut dan menghormati perempuan, maka ayah harus menyontohkannya pada Bunda. Jika ingin anak perempuannya jadi istri yang baik, maka bunda harus menyontohkan jadi istri yang baik. Dan lain-lain. 

Berat? Sangat. 

Karena kebanyakan dari kita adalah ingin anaknya soleh solehah, tapi dirinya tak mau belajar. Tidak mau memperbaiki diri, tak mementingkan ilmu agama, apalagi ilmu parenting. Hanya dengan bisa memiliki anak, dipikir sudah cukup dibilang jadi orang tua. Tidak. Bayangkan saja, Anda dititipi seorang anak oleh Allah untuk dibimbing dan dididik sebaik-baiknya. Dan, kelak Anda akan dimintai pertanggungjawabannya. Apa yang sudah Anda lakukan untuk anak Anda? 

Apa cukup hanya dengan memberinya uang? No. 

Anak bisa tumbuh badannya dengan uang, tapi hatinya kosong. Anak tidak bahagia, anak mungkin akan mencari figur orang lain yang bisa jadi malah dari orang yang tidak bertanggungjawab. Kehangatan dalam keluarga sangat berdampak pada prestasi, kecerdasan emosi dan ketahanan mental anak. 

"Ah urusan anak mah biar ibunya saja yang pegang, aku kan kerja," kata Ayah. 

Tidak bisa begitu, Ayah. Itu artinya Anda tidak bertanggungjawab. Seorang Ayah tugasnya bukan hanya mencari nafkah, tapi lebih dari itu. Tahu tidak, Indonesia ini sedang krisis ayah lo. Peran ayah dalam keluarga Indonesia itu minim. Sehingga bermunculan anak-anak yang lebay, anak cowok yang kecewek-cewekan, dan kasus lainnya. Bukan itu saja, ada banyak anak perempuan yang mencari pengganti ayahnya di luar. Naudzubillah

Ayah lebih suka sibuk mencari uang dan kerja, dari pada bermain dan menemani anak. Ayah tak pernah mau tahu urusan anak dan rumah tangga. Padahal, apa artinya uang jika anaknya rusak? Betul kan? Iya siapa pun tahu uang juga penting, tapi Ayah juga memiliki keawjiban lain yang juga penting, yaitu mendidik anak!

Terkadang, Ayah ada di rumah pun hanya raganya saja, jiwanya tidak ada. Padahal, ayah seharusnya menjadi panutan bagi anak-anaknya. Ayah juga yang memimpin berjalannya rumah tangga. 


Keluarga yang kuat berasal dari ayah yang peduli dan hangat. 

Wah, jadi kepanjangan ceritanya. 

Itulah sekelumit ilmu yang saya dapatkan dari acara parenting bersama Ustad Naruto di SDIT Permata Mulia. Sungguh ilmu yang sangat bagus dan cocok untuk fenomena saat ini. Sebuah pertemuan yang bagi saya sangat berkesan, karena saya pun cukup hapal tokoh-tokoh film Naruto. Kebetulan anak saya yang besar juga ngefans sama Naruto. 

Mohon maaf jika ada salah-salah, semoga tulisan ini bermanfaat bagi siapa pun yang membacanya. AAmiin 








Minggu, 06 Oktober 2019

Perjalanan Menuju Pertemuan Penulis Gerakan Literasi Nasional (GLN) Tahun 2019


Sebagian dari teman-teman penulis dari penjuru tanah air
(Dok. Yeti Nurmayati)

Setelah dinyatakan lolos seleksi, kami yang terdiri dari 96 penulis buku anak dikumpulkan dalam sebuah grup whatshapp. Di sanalah perkenalan dan segala tek tek bengek tentang proses selanjutnya diinfokan. Perasaan saya tentu saja very happy. Serasa mimpi. Serasa telah lulus jadi penulis beneran juga, wahahaha. Apalagi bisa berkenalan dengan para senior di dunia buku anak, seperti : Kang Ali Muakhir, Kang Iwok Abqary, Mbak Tria Ayu, Mbak Widya Ross, Mbak Watiek Ideo, Mbak Nindya Maya, Mas Redy Kuswanto, Mbak Baby Haryani Dewi, Mbak Wylvera, Teh Ary Nilandari dan lain-lain. Pokoknya nama-nama penulis yang selama ini aku baca di cover buku mereka, akan segera saya temui langsung di Jakarta. 

Berdasarkan planning panitia, kami akan dikumpulkan di Hotel Kartika Chandra Jakarta selama tiga malam empat hari. Tepatnya tanggal 24-27 April 2019 (Rabu-Sabtu). Horeee... akhirnya emak bisa piknik juga! Ahaha, kok piknik sih? Belajar keles. 


Tanda Pengenal dan Buku Panduan
(Dok. Yeti Nurmayati)


MENGONDISIKAN ANAK-ANAK

Tanggal telah ada. Emak malah jadi deg-degan, karena tanggal 22 April itu adalah Ujian Nasional anak SD. Kebetulan sulung saya, Kak Aziz memang kelas enam dan akan ikut UN pastinya. Saya coba bicarakan dengan Kakak tentang jadwal keberangkatan Emak. Secara emak kan jauh dari keluarga besar, keluarga perantau. Jika emak pergi, otomatis kakak dengan ayahnya. Nah saat itu, Ayahnya ada acara juga ke Surabaya, meeting kantor. Jadilah emak makin bingung. 

Alhamdulillah si Kakak sendiri akhirnya yang kasih solusi. Di hari pertama, dia akan nginep di rumah temannya. Hari kedua kebetulan papanya pulang. Dia hanya akan menginap semalam saja. Sulung saya ini memang sudah mandiri soal belajar. Jadi saya tak khawatir lagi kalau soal persiapan materinya dia. Oke kakak udah siip. Nah giliran si adik nih. Saat itu adik masih TK B, saya pikir dia lebih baik dititipkan di Tasikmalaya saja di rumah kakak saya. Kebetulan teteh saya mau merawatnya. Soalnya kalau dibawa ke acara, pertama takut mengganggu acara yang formal, kedua takut bosan, ketiga takut kemana-mana dan saya gak bisa konsentrasi menyerap ilmu. 

Alhasil saya berangkat hari Selasa ke Tasikmalaya dulu untuk menitipkan si adik. Oh iya saya kan emang aslinya Tasikmalaya, walaupun tinggal di Mojokerto hehe. 

MENGURUS SURAT PERJALANAN DINAS

Ada cerita seru sekaligus menjengkelkan dalam mengurus surat perjalanan dinas. Surat ini dimaksudkan agar segala bentuk pengeluaran transportasi diganti oleh panitia. Dalam praktinya katanya hanya tinggal minta tanda tangan dan stempel kepala desa dimana penulis tinggal. Oke saya mulai datang ke kantor kepala desa. Pertama kali Pak Lurahnya tidak ada karena saat itu lagi masa-masa Pemilu. Katanya beliau sedang sibuk di lapangan. Oke saya akan kembali besok. 

Besoknya saya kembali lagi ke kantor kepala desa. Ternyata Pak Lurah yang terhormat pun masih tidak ada. Lalu tiba-tiba ketika saya menunggu, ada dua orang mahsiswa sepertinya yang juga mencari Pak Lurah. Seorang Ibu pegawai memberitahu saya untuk ikut rombongan untuk menemui bapak yang terhormat tersebut. Oke saya pun mengikuti mereka. Dan, sampailah kami di tempat usaha Bapak Lurah. Beliau ada, sedang merokok. Setelah antri, saya kebagian terakhir. Saya utarakan maksud dan tujuan saya dan menyerahkan lembaran untuk ditanda tangani. Berbagai pertanyaan pun saya jawab dengan sebaik-baiknya. Walau pun ada beberapa perkataan yang terdengar cukup sinis dilontarkan olehnya yang bicara dengan pegawainya. Saya tahu dari raut wajah keduanya kalau ada gelagat tidak enak, tapi saya abaikan. Entah apa maksud keduanya? Intinya beliau tidak mau menandatangani langsung. 

"Mbak, minta stempel saja dahulu ke kantor kepala desa," katanya. 

Saya yang polos los, menurut. Saya pun balik lagi ke kantor kepala desa untuk minta stempel dulu. Ketika balik lagi ke tempat bapak Lurah tadi, beliau sudah tidak ada lo. Saya tanya ke pegawainya pun tidak ada yang tahu. Lemes deh saat itu juga, padahal berangkat besoknya lo. Nggak ada waktu lagi. 

Lalu saya pun balik ke kantor kepala desa, curhat lah ke sekretaris desa. Beliau menyarankan ke rumahnya saja. Subhanallah, apakah sesusah itu meminta tandatangan seorang kepala desa? Saya menangis karena kesal dan teringat Bapak saya almarhum. Bapak saya menjadi kepala desa selama dua periode dan alhamdulillah beliau seorang yang baik. Beliau tak pernah menyusahkan atau pun menghalangi siapa pun yang ingin berkembang. 

Ada seorang teman mengatakan, mungkin karena saya tak memberinya uang. Lah kalau soal itu, saya mau saja memberikan asal ditandatangani dulu la ya. Singkatnya saya down, saya marah banget karena merasa dipermainkan. Untuk ke rumahnya? Sorry la ya, emangnya saya pengemis? Bukankah dia yang pelayan bagi masyarakatnya?

Sehabis Maghrib, saya pun coba menghubungi panitia, dan katanya bisa minta tandatangan ke RW atau RT. La dalah, tahu gitu nggak usahlah saya ketemu Bapak Mengenaskan itu. Pak RW rumahnya di depan rumahku lo. Akhirnya menemui Pak Rw, dan beliau ternyata lagi di luar kota, ya Allah down lagi. Kesempatan terakhir adalah ke Pak RT! Bismillah deh... alhamdulillah Pak RT ada dan tuk tuk! beres tuh distempel. Masya Allah, sungguh perjuangan yang menyedot energi banget gaess.  

TRANSIT TASIKMALAYA DAN PERJALANAN MENUJU JAKARTA

Saya berangkat duluan menuju Tasikmalaya pakai kereta api. Di rumah Kakak, saya menitipkan adik Azni. Saya pun janjian dengan Kang Iwok Abqary di stasiun untuk keberangkatan pagi-pagi menuju Jakarta. Menurut panitia sih, transport saya hanya dihitung dari Tasikmlaya saja karena saya transit, kalau mau diganti full harus berangkat dari Mojokerto. Padahal yang lebih mahal justru dari Mojokerto ke Tasikny lo. Tapi sekali lagi saya mengikhlaskan semuanya. Ini adalah tentang membuat buku anak yang baik, dan pasti saya pun akan mendapat banyak ilmu dan pengalaman, so sebetulnya bayar pun nggak masalah. 

Selama perjalanan, saya tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengorek berbagai informasi kepenulisan dari Kang Iwok. Tahulah, beliau salah satu penulis anak yang tak diragukan lagi kemampuan dan pengalamannya. Kang Iwok sosok yang sangat baik, sayang keluarga dan sayang kucing-kucingnya hihi. Dan Kang Iwok pun sangat terbuka  menceritakan segala pengalamannya kepada saya yang masih harus banyak belajar. 


Duo Penulis keren (Dok. Yeti Nurmayati)

Sampailah kami di statsiun Bandung, dengan bantuan Kang Iwok saya pun dibelikan tiket menuju Jakarta. Kami kebetulan beda gerbong, dan tak terduga saya duduk bersama seorang perempuan yang terdengar hebat. Dia adalah seorang dosen yang katanya sering ke luar negeri. Dia juga menceritakan tentang suaminya, anak hingga pekerjaannya sebagai sekretaris seorang boss besar. Selalu ada pelajaran yang saya ambil daris ebuah percakapan. Dari Ibu yang ternyata bergelar Doktor, saya mendapat banyak informasi tentang sekolah anak-anak, tentang banyak hal deh. Walau pun kadang dia sedikit sombong. Apalagi dia tahu saya seorang ibu rumah tangga biasa. hehe... Saya sih santai saja, berusaha jadi pendnegar yang baik. Tak terasa sampai juga di Jakarta, eh ternyata satu kereta juga sama Kang Ali Muakhir. Uwoow kan, saya langsung minta foto dong ehehe.. 


Bersama Kang Ali Muakhir
(Dok. Yeti Nurmayati)

Sesampainya di hotel, kami dipersilakan untuk registrasi. Heboh banget lo, soalnya biasanya hanya bertegur sapa lewat dunia maya, akhirnya dipertemukan langsung. Panitia sudah membuat daftar teman sekamar yang akan jadi teman tidur selama tiga malam di hotel tersebut. Saya tenyata dipasangkan dengan Ibu Ana Widyastuti, seorang kepala sekolah seklaigus dosen di Depok. Beliau sosok yang hebat, inspiratif dan sangat bersemangat belajar walaupun usianya tak sudah tak lagi muda (sama dengan saya). Bu Ana ini saat acara memakai alat bantu jalan, karena katanya pasca kecelakaan dan belum sembuh total. Masya Allah, saya sangat terinspirasi oleh semangat belajarnya. Bu Ana juga adalah seorang penulis buku anak yang lebih banyak membuat buku aktivitas. Dari beliau, saya banyak mendapat ilmu. 


Bersama Bu Ana Widyastuti (Dok. Yeti Nurmayati)

Selama tidur dengan Bu Ana, saya selalu happy. Kami tidak jaim, kami apa adanya. Dan, dia sosok yang lucu, jadinya kita banyak ketawa-ketiwi. Pokoknya selama dua hari saja, kami sudah sangat akrab dan kompak. Bahkan di malam terakhir kami berencana nonton film Avenggers : Endgame kalau tidak salah. Sayangnya, saya harus pulang duluan karena sesuatu hal (nanti akan saya ceritakan di tulisan berikutnya). Saya bahkan tidak sempat mengucapkan kata perpisahan karena tidak smepat ketemu ketika saya mau pulang duluan. 

Itulah sekelumit cerita perjalanan saya menuju pertemuan penulis GLN 2019. Tentu saja banyak hikmah di dalamnya yang memberikan pelajaran berharga bagi saya. Tunggu cerita lainnya ya. 







Minggu, 29 September 2019

Meraih Keberkahan dari Kesungguhan Menerapkan Proyek Literasi Dalam Keluarga



Azni dan teman mainnya sedang membaca buku setiap sore
(Dok. Pribadi)

            Kata siapa melaksanakan proyek literasi dalam keluarga itu sulit? Ternyata jika kita melakukannya dengan sungguh-sungguh sangat ada hasilnya lo, Bunda. Semua tergantung dari kesungguhan dan niat juga komitmen kita orang tua sebagai pembuat keputusan di rumah.

Tujuan literasi secara umum adalah membentuk anak atau orang memiliki kecakapan hidup dan mampu bersaing atau bersanding dengan orang atau bangsa lain. Ada pun enam literasi dasar yang telah disepakati berdasarkan World Economic Forum tahun 2015 yaitu : literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial dan literasi budaya dan kewargaan. Namun untuk membentuk budaya literasi bangsa, gerbang utamanya adalah meningkatkan minat membaca pada anak. Seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa minat membaca buku pada anak Indonesia sangatlah rendah.

Berbagai upaya berusaha dilakukan pemerintah untuk membudayakan membaca buku pada anak. Namun saya meyakini jika tidak ada dukungan dari keluarga, upaya itu akan sia-sia saja. Keluarga sebagai lingkungan terdekat dengan anak, harus berperan aktif membentuk anak yang suka membaca buku. Jika pemerintah dan keluarga sudah kompak, saya yakin upaya membudayakan membaca buku akan berhasil.

Upaya membiasakan budaya literasi tentu saja adalah tugas bersama. Orang tua sudah seharusnya mengambil peranan penting ketika anak dalam masa pengasuhannya di rumah dan bahkan ketika pun sudah bersekolah. Orang tua terutama ibu adalah kunci dari keberhasilan pembiasaan budaya literasi di lingkungan keluarga.

        Membudayakan membaca buku pada anak memang tak semudah membalikan tangan. Apalagi saat ini kita berlomba dengan kecanggihan gagdet. Tetapi juga bukan tidak bisa. Tentu saja kita bisa melakukannya dengan niat yang kuat, komitmen dan berkesinambungan.

KISAH SAYA DENGAN GADGET

            Saya seorang ibu dari dua anak. Anak pertama laki-laki sekarang kelas satu SMP dan yang kedua perempuan kelas satu SD bernama Azni. Dulu, saya adalah ibu yang tidak suka membaca buku bahkan tak terpikir sedikit pun untuk menyediakan buku untuk anak-anak. Saya yang terlahir dari keluarga sederhana tak terbiasa memiliki buku bacaan di rumah. Saat itu anak saya masih kecil. Kedua-duanya sangat suka main game di smartphone dan menonton televisi. Mereka diberi fasilitas, karena menurut kami saat itu anak-anak juga harus melek teknologi. Sebuah pemikiran yang ternyata menjadi bumerang sendiri di kemudian hari.

            Waktu terus berlalu, saya kemudian mengikuti berbagai seminar parenting. Saya juga banyak membaca buku dan internet. Dari situ pemikiran saya mulai terbuka. Ketika ada sebuah fakta menarik yang menyebutkan bahwa tingkat membaca orang Indonesia berada di level kedua dari bawah, saya serasa ditimpuk. Lalu ketika menyaksikan banyak tokoh dunia menjadi sukses, semuanya berkat kesukaannya pada buku. Disitulah saya merasa bersalah membiarkan anak saya tenggelam dalam keasyikan dunia maya. Mau jadi apa anak saya kelak?

            Sebuah catatan dari Jane M. Healy, Ph.D seorang psikolog pendidikan, tentang efek tayangan televisi kembali menyentak sanubari saya. Pernyataan dia dilansir di APP News, majalah resmi American Academy of Pediatrics. Healy menyebutkan, “higher level of television viewing correalted with lowered academy performance, especially reading scores.” Sederhananya, kuatnya anak melihat televisi berhubungan dengan kemerosotan prestasi akademik khususnya nilai membaca. Anak yang terlanjur suka menonton televisi, akan menyebabkan malas berpikir karena otaknya terbiasa dalam kondisi istirahat.

            Puncaknya, saya melihat anak saya terutama si bungsu mengalami masalah dalam perkembangan sosialnya. Dia kurang bisa bersosialisasi. Dia juga tak percaya diri, pemalu, dan sulit bicara panjang. Disitulah saya yang berdalih resign kerja hanya demi untuk fokus merawat anak merasa gagal.

            Sejak saat itulah saya berpikir bagaimana caranya mengubah kebiasaan tidak baik dalam keluarga. Beruntung, saya kemudian masuk dalam sebuah komunitas penjual buku anak. Di situ, selain ada materi marketing juga sering ada materi parenting. Saya mendapatkan banyak solusi lewat share pengalaman teman-teman. Mulailah saya menyusun proyek literasi keluarga untuk saya, suami dan anak-anak.

Idealnya memang mengenalkan buku jika bisa dilakukan sedini mungkin. Dari buku “Membuat Anak Gila Membaca”, karya Ustad Mohammad Fauzil Adhim (2015), saya mendapatkan banyak ilmu. Seorang anak, sejak dalam kandungan bahkan sudah bisa diceritakan kisah dari buku. Selain bermanfaat untuk perkembangan kecerdasannya, juga membangun keeratan hubungan orang tua dan anak. Jika sejak bayi sudah dekat dengan buku, maka penanaman budaya literasi pada anak akan lebih mudah dilakukan.  

Karena kasus yang saya alami baru sadar ketika anak sudah terbius berbagai game dan televisi, maka tantangan yang dihadapi jauh lebih berat. Tetapi tantangan ke depan pastinya akan jauh lebih dahsyat lagi. Anak akan semakin sulit untuk lepas, karena kita tahu sendiri game dan televisi bersifat adiktif. 

PROYEK LITERASI KELUARGA 

        Saya sadar betul proyek saya itu mungkin akan ditentang bahkan dibenci anak-anak. Sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan lalu diubah pastinya akan menimbulkan pertentangan. Bukan saja kendala dari anak-anak dan suami, namun yang paling berat adalah kendala dari diri sendiri. Saya takut tidak bisa konsisten dan tidak kuat dalam menjalaninya. Tetapi bagaimana pun saya harus berbuat sesuatu. Saya pun mulai mengumpulkan bahan-bahan yang dibutuhkan dari buku, majalah, internet dan lain-lain.

Poin-poin utama yang saya buat adalah mencakup :

1.      Memutus mata rantai pola asuh yang diwariskan dari orang tua dahulu
2.      Membuat komitmen dan  jadwal membaca buku
3.      Menyediakan buku bacaan semenarik gadget
4.      Terus update ilmu dan kreatifitas (alat dan teknik membaca)
5.      Reward dan Punishment

Jadwal Membaca Bulan September 2019
(Dok. Pribadi)
SEMANGAT MEMUTUS MATA RANTAI POLA ASUH DAN KEBIASAAN BAWAAN

       Tak dapat dipungkiri bahwa dalam menjalani kehidupan rumah tangga dan pengasuhan anak, kita akan membawa “warisan” dari orang tua kita. Bagaimana kebiasaan orang tua kita dahulu disadari atau tidak mempengaruhi pola asuh kita pada anak-anak. Saya sejak kecil jarang memiliki buku bacaan. Karena orang tua saya selain memang tak memiliki uang lebih untuk membeli buku, mereka sepertinya juga tidak memprioritaskan hal itu. Dahulu juga tidak mudah menemukan buku anak seperti sekarang, apalagi saya tumbuh di desa.  

       Berbekal ilmu-ilmu yang saya dapatkan, saya sedikit demi sedikit mengubah kebiasaan kami sekeluarga. Budaya warisan orang tua seperti makan sambil menonton televisi, perlahan saya ganti dengan membacakan cerita. Untuk si bungsu yang masih berusia 3,5 tahun penerimaannya lebih mudah. Walau tentu saja tidak langsung menerima (tetap pegang handphone). Tapi bagi si kakak yang saat itu kelas tiga SD agak sulit. Tentu saja saya tidak bisa langsung memaksanya.

          Orang tua adalah suri tauladan bagi anaknya. Oleh karena itu, saya yang lebih sering berada di rumah mulai mengubah kebiasaan sendiri. Beruntung, saya bukan ibu yang sangat cinta drakor atau sinetron atau serial televisi lainnya. Jadi untuk masalah televisi, saya mudah saja meninggalkannya. Saya mulai membatasi menonton televisi juga bagi semuanya. Kebiasaan saya yang baru adalah harus membaca buku bahkan saat anak-anak sedang sibuk dengan smartphonenya.

Permainan Buku oleh Azni
(Dok. Pribadi)

MEMBUAT KOMITMEN DAN JADWAL MEMBACA BUKU

          Pertama kali yang saya lakukan adalah membeli buku dan membuat jadwal baca bersama. Saya pun mengatakan langsung pada kedua anak saya. “Mama telah membeli buku bacaan yang bagus untuk kakak dan adik. Mulai sekarang kita akan memiliki jam khusus untuk membaca ya.” Reaksi si adik cukup antusias, dia memang baru lihat buku yang berbeda dari biasanya. Saya memang membelikan mereka sepaket buku yang beragam bentuk, warna dan gambarnya. Berbeda dengan adik, kakak terkesan cuek dan tidak terpengaruh.

Azni saat masih TK dibiasakan membaca buku sebelum tidur
(Dok. Pribadi)

          Saya pun mengenalkan jadwal membaca buku bersama lengkap dengan manfaat dan rewardnya. Jadwal baca sengaja saya satukan dengan kegiatan belajar / setelah salat Maghrib dan makan, biar sekalian. Biasanya kita akan membahas hasil bacaan semalam setelah selesai salat subuh. Setiap hari Sabtu karena kedua anak saya libur, saya pun membuatkan jadwal kreasi. Bentuk kreasinya bisa membuat kue bersama, praktik sains sederhana, mencampur warna, membuat mainan sederhana dan lain-lain.

Azni dan Kakak membuat slime (hari Sabtu)
(Dok. Pribadi)

MENYEDIAKAN BUKU BACAAN YANG SEMENARIK GADGET

          Saya berpikir bagaimana mengenalkan buku agar semenarik dengan gadget mereka. Beruntung, saat ini buku-buku buatan penerbit Indonesia kian beragam. Jika dahulu untuk mendapatkan buku bagus, harus impor dari luar negeri. Sekarang bermacam buku sudah ada di Indonesia. Bahkan ada buku yang bisa dibaca dengan aplikasi augmented reality (AR), bisa dibaca dengan epen dan lain-lain. Bahkan bentuk buku sekarang sangat menarik. Selain berilutrasi dengan baik juga bentuknya kian variatif. Ada bentuk buku pop up book, ada flip book dan lain sebagainya.

         Tantangan untuk menghadirkan buku di keluarga adalah tentu saja soal budget. Saya juga tak bisa memungkiri untuk mendapatkan sepaket buku bagus itu tak murah. Makanya saat itu saya gencar menjadi marketing buku agar bisa mendapat buku dari komisi yang didapat. Ini hanya soal prioritas sebenarnya. Tak harus mahal juga. Jika bisa membeli buku yang terjangkau, dan anaknya sudah suka malah lebih efisien ya.

       Saya berusaha menyediakan buku di semua tempat yang mudah dijangkau anak. Di  kamar tidur, dekat televisi dan di ruang tamu. Anak saya yang bungsu sering memainkan buku menjadi bentuk-bentuk sesuai keinginan dia. Saya sengaja membiarkannya agar dia terbiasa dekat dengan buku.

Koleksi buku kami di dekat televisi
(Dok. Pribadi)

UPDATE ILMU DAN KREATIFITAS

            Selain menyediakan buku-buku menarik di rumah, saya pun harus terus belajar cara membacakan buku (reading aloud) yang mengasyikan bagi anak. Selain itu juga saya sering melakukan berbagai kreatifitas baik dari kertas, cat air maupun biji-bijian dan tepung-tepungan. Saya pun sering membuat kartu-kartu huruf, angka dan lain-lain dari karton untuk sarana pembelajaran anak saya terutama yang bungsu. Menurut saya, ini juga adalah bagian dari membudayakan literasi dalam keluarga.

REWARD DAN PUNISHMENT
           
            Reward ini terkait dengan si kakak. Saya buat perjanjian dengannya, jika sudah selesai baca satu buku, kakak boleh minta makanan apapun yang disukai. Begitu pun dengan adik, saya sering memberinya penghargaan kalau dia sudah melakukan kegiatan sesuai kesepakatan. Penghargaan ini tidak harus selalu mahal ya. Saya juga tak lupa memberikan hukuman terutama untuk kakak. Jika pada jam tersebut tidak baca buku, saya kurangi jatah main handphone-nya (karena kakak belum bisa sepenuhnya lepas dari Hp).

HAMBATAN-HAMBATAN

            Hambatan dalam pelaksanaan proyek literasi keluarga saya paling berat adalah dari diri saya sendiri. Kemalasan dan capek adalah musuh yang harus dikalahkan. Berat banget pada awalnya, apalagi saya harus mengurus urusan domestik juga. Namun lama kelamaan saya mulai terbiasa. Saya meniatkan semuanya sebagai bentuk rasa syukur dan pengabdian saya sebagai insan yang telah diberikan banyak kebahagiaan oleh-Nya.   

KEBERKAHAN-KEBERKAHAN DARI KESUNGGUHAN

            Benar sekali jika kita bersungguh-sungguh maka akan mendapatkan hasil. Tuhan pun menyuruh hambanya untuk bersungguh-sungguh dalam melakukan kebaikan. Walau pun terseok-seok, proyek literasi keluarga saya bisa dibilang berhasil. Alhamdulillah wa syukurillah, saat ini si bungsu sudah tak pernah memegang handphone, bahkan menonton televisi pun tak pernah. Untuk kakak, saya masih memberinya toleransi, sepanjang dia masih melakukan kesepakatannya. Karena untuk kakak yang sudah kelas satu SMP, terkadang memang membutuhkan smartphone untuk browsing informasi atau membuat konten vlog yang mulai digemarinya.

Azni dan temannya Widya yang sedang membaca dan memainkan buku.
(Dok. Pribadi)

           
Keberkahan tak terkira yang begitu membuat saya selalu bertakbir adalah si adik yang dulu dilabeli anak kuper, kini jadi anak berani, banyak teman dan cerdas. Dia juga bisa membaca buku sejak sebelum masuk SD dengan mudah. Bukan itu saja, setiap melihat buku, wajahnya akan semringah. Hilang rasanya rasa lelah saat saya harus extra memperhatikan dia. Saya setiap waktu membacakan buku, memberianya kesempatan menyimpulkan cerita, melakukan berbagai kreatifitas bersama, bermain bersama. Saya pun mendatangkan temannya ke rumah untuk sama-sama bermain. Bukan itu saja, saya ikut ke sekolahnya. Berkenalan dengan teman-teman barunya, hingga dia mulai percaya diri. Alhamdulillah, saya sering diberi kesempatan untuk membacakan buku bagi anak-anak PG dan TK di sana.

Kegiatan Mama membacakan buku di SDN Kranggan Mojokerto
(Dok. Pribadi)

            Keberkahan kedua adalah si Kakak. Masya Allah si kakak luar biasa. Dia yang dulu dilabeli tetangga sebagai anak gila game menjelma menjadi anak yang berprestasi dan berkarya. Kakak banyak mendapat piala dalam lomba-lomba tingkat kota, provinsi maupun nasional. Kakak juga sudah memiliki buku sendiri. Dia ikut menulis cerita pendek dalam dua buku antologi bersama teman-temannya.

            Keberkahan paling tak terduga adalah saya menjelma menjadi penulis buku anak. Allah memang sebaik-baiknya pembuat skenario. Dari kebiasaan saya membacakan buku pada anak, saya menjelma menjadi penulis buku anak. Beberapa buku anak saya sudah terbit di beberapa penerbit nasional maupun indie. Saya juga terpilih menjadi salah satu penulis buku anak dalam ajang Gerakan Literasi Nasional yang diselenggarakan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2019 ini.

       Saya setuju dengan pepatah Arab ini : man jadda wajada. Siapa pun yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil. Atas izin Allah, proyek saya itu cukup berhasil setidaknya menurut saya. Walau pun hingga kini masih terus memperbaiki dan berusaha konsisten. Saat ini saya berusaha memberikan contoh dengan terjun langsung menjadi bagian pejuang literasi. Saya membaca buku, menulis dan membacakan buku bagi anak saya maupun anak tetangga saya. Kedepannya saya memiliki impian untuk meluncurkan program "Membacakan Buku Gratis Bagi TK-TK di Mojokerto". Semoga terwujud, aamiin. 

             Semoga secuil pengalaman saya ini dapat melecut semangat dan bermanfaat bagi siapa pun yang membacanya. Mari kita bantu upaya pemerintah menggalakkan literasi bangsa dengan upaya kita dari rumah. Semoga segala upaya yang tengah kita lakukan bersama nantinya akan menghasilkan generasi Indonesia berkualitas dan berakhlak baik. Aamiin.
           


Jumat, 20 September 2019

Ini Dia Tujuh Duka Penulis Pemula Saat Berjuang Menembus Penerbit Mayor




Hai hai, selamat malam. Tulisan ini sih sebetulnya hanya pengalaman saya saja saat berjuang (ish gaya ya) menaklukan si Dia (eh maksudnya penerbit). Jadi tidak bisa digeneralisasikan untuk semua orang ya. Ada penulis yang lebih mudah jalannya mungkin, ada juga yang bahkan lebih sulit dari cerita saya ini. Dan, saya lebih fokus mengirimkan naskah anak ya. 

Baca juga : 30 Penerbit Mayor yang Menerima Naskah Anak

Kenapa sih harus penerbit mayor?

Bagi saya, mengajukan naskah ke penerbit mayor adalah tantangan. Sebuah tantangan yang harus saya taklukan. Penerbit mayor pasti memiliki standar naskah yang menurut mereka bagus. Mereka juga tak sembarangan menerima naskah yang masuk, artinya saya harus berkompetisi dengan penulis seluruh Indonesia. Karena itu, saya kudu bisa memenuhi standar itu. Saya kudu bisa membuat naskah yang unik, yang bisa membuat penerbit tertarik. Itulah muara akhir dari pembelajaran menulis saya selama ini. Artinya, jika di penerbit mayor tulisan saya sudah oke, berarti tulisan saya sudah mulai berkembang. 

Tetapi bukan berarti menerbitkan di penerbit indie tidak bagus, tetap bagus. Hanya saja kurang ada tantangannya menurut saya. 

Menerbitkan buku ternyata tidak mudah dan murah lo. Apalagi naskah cerita anak yang memerlukan waktu lebih lama, karena harus digambar dulu /ilustrasi. Di penerbit mayor, biasanya mereka mencetak buku sekitar 1500-2000 eksempler sekali cetak. Cetak banyak pastinya membutuhkan banyak biaya dong. Makanya mereka harus yakin dulu dengan naskah yang akan diterbitkan. Biasanya mereka melakukan survey pasar dan melihat peluang. Pokoknya pertimbangannnya kudu banyak, karena kan biayanya tidak murah. 

Mengirimkan naskah juga memerlukan kesabaran tingkat tinggi lo. Ada saja yang membuat kita kesal, sedih dan down. Nah, saya akan berbagi pengalaman khususnya yang Sangat Indah (Baca : kurang menyenangkan) saat mengirimkan naskah kepada penerbit nasional tentunya. Karena seorang penulis baik akan siap menerima pujian dan kesenangan, juga harus siap dengan segala kegagalan atau kedukaannya. Kuy ah cekidot!

1. Kirim naskah, No respon 

Ini pengalaman yang paling getir sih menurut saya hihi... Karena bagi saya lebih baik ditolak dengan tegas, daripada tidak dibalas sama sekali. Yah tapi mungkin kembali lagi ke kesibukan pihak penerbit. Saya akan selalu berpositif thinking, apa pun itu. Hingga 3 kali saya tanyakan pun tak sekalipun mereka membalas. Hingga saya pun menarik naskah saya. 

Kenapa bisa seperti itu?

Menurut saya, ada banyak alasan. Misalnya : mereka sudah tak suka tema yang saya ajukan sejak pertama kali baca (muak mungkin naskah tema gitu-gitu saja hihihi). Bisa jadi juga ajuan saya kurang lengkap (karena setiap penerbit memiliki standar konsep ajuan) mungkin saya belum tahu itu. Bisa juga sih karena saya kurang dikenal (penulis baru), hingga ada sedikit kekhawatiran untuk menerbitkan. Normal saja sih jika mereka lebih nyaman bekerjasama dengan penulis andalan mereka. Itu sih prediksi saya.

2. Kirim naskah, suruh ubah format, ujung-ujungnya ditolak juga.

Nah ini menohok juga guys haha... saya pernah mengirimkan naskah format kumpulan cerpen, disuruhlah ganti format jadi picture book berseri. Artinya apa coba? Ya nulis lagi dari awal dengan format beda guys! Ditambah lagi dengan deadline lo. Apa nggak bikin saya ketar ketir dan stress coba. 

Pas sudah kelar, kirimlah tuh naskah. Nunggu lagi sebulanan barulah ada jawaban kalau naskah saya temanya sudah umum. Sudah banyak yang buat, eksekusi juga biasa katanya. Jadi penerbit tidak bersedia menerbitkan naskah saya. Menghadapi yang begini saya hanya bisa mendoakan mereka dan berucap laahaula wala quwwata illa billah. 

Kenapa bisa demikian?

Menurut saya format baru yang saya buat tidak memuaskan penerbit. Mungkin juga ada penulis lain yang mengajukan naskah tema sama namun eksekusinya keren, atau bisa juga penulis itu lebih dikenal (penulis senior). Yang jelas penulis senior sudah memiliki banyak penggemar pastinya, sehingga penerbit pun tak segan menerima naskahnya walau pun tak selalu begitu. Sekali lagi ini hanya pendapat pribadi saya ya. 

3. Kirim, disuruh nunggu hingga 8 bulan, ditolak juga akhirnya hehe

Ini juga cukup menghancurkan mood hahaha... bagaimana tidak? Diberikan harapan palsu coba, siapa yang tahan? hihi.. 

Awalnya disuruh nunggu, lalu disuruh nunggu lagi, dan lagi. Hingga akhirnya mereka menyatakan kalau mereka tidak sedang membutuhkan tema itu. Yah, resiko la ya. Haha... Tapi mbok yo terima aja lo mas, mbak. Biar saya senang gitu. 

4. Kirim, Naskah ACC, Terbitnya yang Lama

Ini sebetulnya sudah sangat mendig banget. Alhamdulillah naksah di acc dan diproses hingga siap terbit, namun tidak jadi diterbitkan dalam waktu yang dekat. Alasannya sih, menunggu momentum yang tepat. Ya, kembali lagi memang penerbit kan nyari profit, makanya segala sesuatu perlu dipikirkan matang-matang. Untuk kejadian seperti ini sih kita sebagai penulis hanya perlu bersabar. Iya, menjadi seorang penulis artinya harus berteman dengan kesabaran. 

5. Kirim Naskah, Ternyata Ketlisut!

Nah ini kadang bikin gemes juga sih hihihi... bagaimana tidak? Kita udah menyangkanya naskah kita udah direview, eh ternyata dibaca pun belum. Ini pernah kejadian dua kali pada saya. Kirim naskah, setelah 3 bulan saya tanyakan ternyata Editor nggak tahu kalau saya kirim naskah itu. Alhasil saya disuruh nunggu dua bulan lagi. Ini juga ujian kesabaran. 

6. Maaf Kami Sedang Tidak Menerima Naskah

Biasanya saya kalau mau mengirimkan naskah ke penerbit yang belum pernah saya kirimi akan tanya dulu ke admin yang pegang akun medsosnya. Entah itu instagram atau facebook. Dan ada beberapa admin yang paham benar keadaan penerbitnya. Dia langsung bisa menolak naskah dengan halus. "Maaf untuk saat ini kami sedang tidak menerima naskah baru." begitu katanya. Admin seperti ini sebetulnya sangat membantu, artinya kita tidak perlu nunggu berapa bulan untuk mengetahui kabar naskah. 



7. Editornya Resign

Saya mengalami ini dua kali di penerbit berbeda. Yang pertama, naskah saya sepertinya disukai oleh Editor tersebut, namun beberapa bulan kemudian resign. Dan, karena komunikasi hanya lewat email, akhirnya tidak jelas dan saya tarik naskahnya. Lalu ada lagi nih baru-baru ini. Naskah saya dilimpahkan karena Editor sakit dan memutuskan resign. Begitu saya email editor yang baru, tak ada respon (tapi masih optimis, mungkin nanti akan dibalas). Semoga ya. 

Nah itu dia tujuh duka penulis pemula saat berjuang menembus penerbit mayor versi saya. Pure itu mah catatan saya, dan tak bisa disamakan dengan kisah siapa pun. Ini hanya bagian kecil kisah dari perjalanan saya sebagai penulis pemula, bagian besarnya tentu saja lebih banyak sukanya. Jadi jangan takut gagal, coba lagi dan lagi. Semakin ditolak, harus semakin semangat dan semakin banyak kirim. Saya pernah ditolak tiga kali berturut-turut oleh penerbit besar, alhamdulillah di naskah keempat akhirnya diterima. 

Perbanyak baca, perbanyak informasi, dan bergaullah dalam lingkungan yang positif. Jangan lupa juga minta doa suami jika emak seperti saya, minta doa orang tua terutama ibu, dan tetap laksanakan pekerjaan utama sebagai ibu dan istri di rumah dengan sebaik-baiknya. Semoga Allah memudahkan usaha kita semuanya, aamiin. 

Mojokerto, 20 September 2019