Senin, 09 Januari 2017

ADA APA DENGAN MINAT MEMBACA MASYARAKAT INDONESIA?




Hai guys kali ini saya akan bahas materi penting banget nih, lebih penting dari berita naiknya harga BBM dan juga harga sembako yang lagi jadi bahan pembicaraan masyarakat Indonesia. Yah aku akan bahas materi ini setahu saya aja ya, karena sebetulnya saya tahu ada yang lebih kompeten menuliskan masalah ini. saya hanya merasa gemes aja kali lihat hasil survey yang dilakukan UNESCO yang melangsir bahwa negara kita tercinta Indonesia berada di posisi 60 dari 61 Negara yang disurvei dalam hal tingkat literasinya. Fiiuuuhh….maak…kedua terendah! Kakocok kalau bahasa Sunda mah. 

Bangga ya….hehe…berita lanjutannya menyebutkan bahwa dari 1000 anak di Indonesia hanya satu yang mampu menyelesaikan 1 buku dalam satu  tahun. Wow sungguh nilai yang sangat kecil jika dibandingkan dengan jumlah penduduknya yang ratusan juta. PR banget nih buat siapa coba? Pemerintah bukan ya..? menurut saya bukan. PR ini berlaku untuk semua orang yang tinggal di Indonesia, apalagi yang memiliki anak kecil sebagai generasi penerus bangsa. Memang masalah rendahnya minat baca ini tidak semendesak masalah pangan atau energi akan tetapi bagaimana kita mempersiapkan masa depan bangsa ini jika tingkat literasi sebegitu rendahnya?
Kenapa sih orang Indonesia malas membaca?
Karena minat membacanya rendah. Trus kenapa minat baca orang Indonesia rendah? Jawabannya karena tidak diperkenalkan dengan buku sejak kecil.
Lah ngapain anak kecil daiajarkan membaca?
Waduh bukan diajarkan membaca guys, tetapi diperkenalkan dengan buku supaya minat bacanya tumbuh dan menempel selamanya hingga dewasa nanti. Mari kita bandingkan anak yang mempunyai minat baca meski belum bisa baca dengan anak yang pinter membaca buku tetapi tidak memiliki minat membaca. Sok kamu mau pilih yang mana? Kalo aku sih pilih yang memiliki minat membaca meskipun belum bisa baca, karena seiring dengan waktu anak dengan minat membaca tinggi akan segera bisa membaca buku karena kegigihannya ingin tau isi buku. Sedangkan anak yang sudah pinter baca tetapi minatnya tidak ada ya gak bakalan ngelirik-ngelirik tuh sama buku. Maka dari itu yang harus ditanamkan itu minat baca nya bukan pinter baca nya.
Tetapi kenyatannya mari kita perhatikan, pada umumnya masyarakat Indonesia terutama ibu-ibu berbondong-bondong berusaha membuat anaknya pinter membaca sejak usia dini, aku tau betul bagaimana ekspresi wajah bangganya ibu jika menceritakan bahwa anaknya yang masih usia 5 tahun udah pinter membaca. Memang membanggakan ya tetapi coba liat lagi minat bacanya ada nggak? Jika minatnya gak ada ya percuma juga pinter baca, tetep akan malas membaca.
Lalu bagaimana dengan kebijakan pemerintah yang memutuskan bahwa anak dibawah 7 tahun tidak boleh diajarkan membaca buku?
Menurut saya kebijakan ini sangat betul sekali diterapkan di Indonesia mengingat kebiasaan masyarakat Indonesia yang seolah “memaksa” anak untuk belajar membaca di usia dini. Baik guru maupun orang tua di Indonesia sebagian besarnya belum memahami bagaimana memberikan pengalaman pramembaca yang melekat dalam sanubari anak. Apaan sih pengalaman pra membaca?
Pengalaman pra membaca (prereading experience) adalah kegiatan memperkenalkan buku kepada anak sejak anak baru lahir ke dunia ini dengan cara yang menyenangkan tanpa sengaja (formal).  Menurut Paul C Burns dan kawan-kawan dalam bukunya yang berjudul Teaching Reading in Today’s Elementary Schools, kesiapan membaca buku bagi anak dapat dirangsang dengan memberikan pengalaman pramembaca (prereading experience). Kita mengenalkan satu atau lebih bagian membaca kepada anak sehingga timbul ketertarikan yang kuat untuk “membaca”. Benar sekali kata Burns dan dan kawan-kawan, sebaiknya anak-anak diperkenalkan buku sejak usia dini. Akan tetapi perlu difahami bukan diajarkan membaca secara formal ya ayah bunda tetapi harus distimulasi minat bacanya sesuai dengan usia anak. Ada banyak kegiatan yang dapat menstimulasi minat membaca anak sejak dini, seperti kegiatan mendongeng sejak anak baru lahir, meningkatkan kegairahan membaca anak ketika usia 2 tahun, bermain sambil belajar dan lain-lain. Yang pasti dalam prosesnya harus benar-benar di dukung oleh faktor-faktor yang ada di lingkungan terdekat anak yaitu keluarga. Faktor-faktor apa sih yang mempengaruhi tumbuhnya minat baca pada anak? Bahasan ini akan saya ulas di sarapan kata berikutnya.
Lantas kenapa sih kita harus gemar membaca?
Perlu diketahui guys, banyak banget manfaat membaca itu lo..kalau harus ditulis semua bisa panjang kali lebar kali tinggi hehe….saya sebutkan 2 saja ya, yang pertama pastinya dengan gemar membaca dapat menambah wawasan, betul kan hehe. Buku adalah gudangnya ilmu, segala hal dapat didapati dari buku. buku juga jendela dunia, kita dapat menonghol (bahasa apa nih) ke dunia lain bahkan ke luar negeri tanpa kita berangkat atau datang kesana. Yang kedua sebagai sarana hiburan, nah ini sangat penting nih bagi yang sedang gundah gulana mungkin akan terhibur dengan membaca buku bahkan in sha Alloh selalu ada solusi dari segala permasalahan jika kita mau mencari tahu dan belajar.
Bagaimana jika tidak gemar membaca buku?
Jawabannya ya harus gemar. Khususnya umat Islam nih, masih ingat dengan surat pertama yang diturunkan kepada Nabi Mhammaad SAW ayat pertama? Iqra bishmirobbikal ladzii khalaq..Perintah membaca ini sudah jelas disampaikan Allah SWT sejak petama Nabi Muhammad menerima wahyu. Lantas kenapa kita tidak mengikuti apa yang sudah jelas perintahnya? Yang jelas jika Negara ini benar-benar minus membaca, kita tunggu saja kehancurannya. Seperti sebuah quote yang diungkapkan Milan Kundera seorang penulis berkebangsaan Ceko,
“Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya; maka pastilah bangsa itu akan musnah”
Innalilahi
Semoga kita dan generasi bangsa ini mulai melek membaca buku. Aamiin..
Semangat membuat perubahan ke arah yang lebih baik, semangat menciptakan peradaban yang cinta baca buku.
9 Januari 2017

Artikel Terkait

adalah seorang Ibu dari dua anak hebat dan Penulis Buku. Bisa dihubungi di Facebook atau email yetinurma82@gmail.com


EmoticonEmoticon