Minggu, 08 Juli 2018

3 Hal Krusial Dalam Mengasuh Anak yang Sering Terlupakan Oleh Orang Tua Menurut Pakar Hipnoterapi

Tags


Pic from : Google


Hallo Ayah Bunda,

Ada yang sedang  bermasalah dengan anaknya? Anaknya mudah marah dan tersinggung? Susah dibilangi atau tak menurut? Sulit sekali disuruh apapun, apalagi belajar. Makanpun kadang sulitnya minta ampun, saking asyiknya sama game. Dibilangin marah-marah. Duh ... rasanya pusiang ya Bunda hehe. Kita sebagai orang tua inginnya anak itu penurut, manis, soleh dan tentus aja cerdas.

Apa yang terjadi dengan anaknya Ayah dan Bunda??

Ayah dan Bunda harus ingat bahwa anak adalah hasil dari pengasuhan ayah bunda sendiri. Apa yang ayah bunda katakan, intervensikan dan lakukan semuanya direkam anak. Artinya, apa yang terjadi pada anak sekarang adalah sebagai output dari apa yang ayah bunda inputkan selama ini. Sadar atau tidak sadar, anak-anak mempelajari apa yang ada di sekitarnya. Bagaimana ayah bunda bersikap, berkata-kata, memperlakukannya akan anak oleh hingga menjadi sebuah kesimpulan yang kemudian dia keluarkan dalam bentuk sikap atau perilaku. 

Dengan memahami itu, seharusnya Ayah bunda tahu apa yang menjadi kesalahan dalam pengasuhan anaknya. Dan yang lebih penting mengetahui apa yang harus dilakukan terhadap anaknya.

Ayah, Bunda, anak usia di bawah 12 tahun secara teori masih bisa dibenahi. Artinya apa yang terjadi pada anaknya masih bisa diluruskan. Asalkan konsisten dan ada kemauan yang kuat. Di atas 12 tahun, sudah tidak bisa, sulit merubah apa yang sudah menjadi kemauan dan keyakinannya.

Lalu apa yang harus dilakukan untuk meluruskan perilaku anak dengan tepat? Harus mulai dari mana? Bingung kan?

Jangan bingung ayah, bunda. Ini nih formulanya! Formula WAJIB didapatkan anak dari orang tuanya. Wajib itu jika dikerjakan dapat untung (pahala), jika tidak anda akan merugi.

Menurut Bapak Arisandi, seorang pakar hipnoterapi yang sering menangani berbagai kasus anak yang bermasalah, ada tiga hal krusial yang sering terlewatkan dalam pengasuhan anak. 3 hal ini semestinya sudah anak dapatkan di bawah umur 7 tahun. Dimana fondasi hidup dibentuk di usia itu. Jangan salah, umur 7 tahun ke bawah adalah sebuah usia krusial dimana anak terbentuk karakternya, terbentuk keyakinannya dan terbentuk jiwanya yang akan dia bawa hingga nanti dewasa. Jadi, apa yang dia putuskan di usia dewasa sangat dipengaruhi oleh apa yang anak dapatkan di usia tujuh tahun ke bawah itu.

Itulah mengapa dikatakan bahwa usia balita adalah masa golden age. Itulah mengapa dikatakan bahwa anak itu sebisa mungkin ada dalam pengasuhan orang tuanya, bukan baby sitter atau pembantu. Karena masa-masa itu akan anak bawa hingga nanti dewasa. Jika anak merasa terluka di usia itu, maka dewasanya akan dipastikan menjadi pribadi yang sadar atau tidak akan melampiaskan lukanya. Maka, jangan heran banyak kasus fatherless, karena si ayah tidak tahu /tidak mengerti bagaimana memperlakukan anaknya. Si ayah juga tidak memiliki cinta yang tidak tebentuk dari kecil.

Jika anak merasa ketakutan ketika kecil, maka besarnya akan tidak percaya diri dan tak menghargai orang tuanya. Jadi, apa yang terjadi pada anak ayah bunda saat ini adalah akibat dari apa yang ayah bunda lakukan di waktu kecil. Setuju?

Nah 3 formul tadi adalah:

1. Rasa Aman.

Sudahkah ayah bunda memenuhi kebutuhan anak pertama ini? Anak akan merasa aman ketika dekat dengan orang tuanya, setuju? Anak merasa aman dalam pelukan bunda, dalam pelukan ayah. Anak merasa aman dalam keluarga yang mau mendengar dan menerima dia apa adanya.

Contoh : ketika kecil, anak tidak mau ditinggal ayahnya bekerja. Lalu ayah melakukan hal yang menurut ayah paling baik. Ayah pergi pelan-pelan ketika si anak sedang asyik nonton televisi. Nah, dari kasus ini pun akan terbentuk rasa ketakutan anak. Takut ditinggal orang tua, gelisah, was-was hingga emosinya terbentuk dengan rasa ketakutan dan gelisah. Bisa dipastikan nanti dewasanya anak akan mengalami ketakutan dan ketidakmampuan memutuskan sesuatu. Takut salah, takut begini, yakut begitu dan lain-lain.

2. Kebutuhan untuk dicintai dan disayangi

Anak merasa disayangi dengan disentuh atau dipeluk. Anak merasa berharga ketika ayah bunda menerima apa adanya. Tidak banyak tuntutan dan selalu mencintainya apapun yang terjadi. Banyak kasus anak yang merasa tak dicintai karena ayah bundanya sibuk bekerja. Banyak kasus anak yang merasa tak disayangi karena ayah bundanya tak pandai menanamkan rasa cinta itu. Banyak pula anak yang merasa tak berharga karena ayah bundanya tak pernah memuji. Anak sedih, anak kecewa, parahnya orang tua tidak pernah tahu. Apalagi jika dalam keluarga ayah bunadanya sering bertengkar, sering teriak dan menyakiti, sudah pasti anak tak akan memiliki rasa cinta dan sayang hingga nanti dewasa. Yang ada dalam hatinya hanya luka.

3. Otorisasi /kekuasaan

Pernahkah ayah bunda memaksakan kehendak ayah bunda pada anak? Anak ingin memakai baju A, ayah larang. Anak ingin memakai sepatu B, bunda larang. Anak ingin ini tidak boleh, melakukan itu tidak boleh. Ayah, Bunda, setiap anak yang sudah memiliki keinginan pasti akan memilih sesuatu berdasarkan kesukaannya. Disini diperlukan kebijaksanaan ayah bunda untuk menerima pendapat atau keinginannya. Memang tidak semua keinginan anak baik, tetapi kita sebagai orang tua juga setidaknya memberikan beberapa kali kesempatan padanya untuk memilih.

Apalagi jika anak sudah usia SD, berilah dia kekuasaannya. Biarkan dia mendapatkan pengalaman dari apa yang telah menjadi keputusannya. Dan dari itu, dia belajar. Ketika ayah bunda tak pernah memberinya kekuasaan pada dirinya, bisa dipastikan dewasanya dia akan tergantung pada orang lain yaitu mungkin ayah atau ibu. Anak lelaki nantinya akan menjadi kepala keluarga, masa iya apa-apa harus tanya dulu ayah bunda? Apa tak merepotkan ayah bunda juga? Itu sama dengan menumpuk masalah, bunda. Banyak kasus seperti ini yang asal muasalnya akibat dari pengasuhan yang slah saat kecil. Hingga anaknya tak bisa menjadi orang tua yang demokratis juga bagi anaknya kelak. 

Ya, rantai kesalahan pengasuhan itu akan terus diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya. Tak akan ada perubahan selama belum ada satu generasi yang mengubahnya. Selama ini pengasuhan didasarkan pada apa yang didapat dari orang tua kita, tetapi sebetulnya jika kita mau belajar, kita bisa mengubah rantai itu. Kuncinya mau belajar dan konsisten melakukannya. 

Ingat ayah bunda, anak adalah titipan Tuhan dan akan diminta petanggungjawabannya kelak. Seorang perempuan dan laki-laki yang memutuskan menikah dan otimatis punya anak, maka dia mau tidak mau harus belajar ilmu untuk memahami anak. Bukan soal materi semata, asal makan mah, monyet juga bisa. Manusia dengan 1 triliun sel otak, sangat mungkin melakukan banyak hal. Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari karena telah menyia-nyiakan kesempatan ayah bunda dalam mengasuh anaknya.

Nah, jika merasa anaknya sudah terlanjur selalu membantah, tak mendengar nasihat bunda, mudah marah dan tersingggung, maka saatnya ayah bunda introspeksi diri. Anak tidak pernah salah. Selama masih di bawah 12 tahun, masih bisa diluruskan, kejar ketertinggalan 3 formula tadi dan lakukan dengan konsisten. Segala usaha yang maksimal pasti akan mendapatkan hasil.

Semoga kita menjadi orang tua yang bijaksana dan mau belajar aamiin.

(Dituturkan berdasarkan seminar parenting bersama pakar hipnoterapi, Bapak Arisandhi)


Artikel Terkait

adalah seorang Ibu dari dua anak hebat dan Penulis Buku. Bisa dihubungi di Facebook atau email yetinurma82@gmail.com


EmoticonEmoticon