Minggu, 29 September 2019

Meraih Keberkahan dari Kesungguhan Menerapkan Proyek Literasi Dalam Keluarga



Azni dan teman mainnya sedang membaca buku setiap sore
(Dok. Pribadi)

            Kata siapa melaksanakan proyek literasi dalam keluarga itu sulit? Ternyata jika kita melakukannya dengan sungguh-sungguh sangat ada hasilnya lo, Bunda. Semua tergantung dari kesungguhan dan niat juga komitmen kita orang tua sebagai pembuat keputusan di rumah.

Tujuan literasi secara umum adalah membentuk anak atau orang memiliki kecakapan hidup dan mampu bersaing atau bersanding dengan orang atau bangsa lain. Ada pun enam literasi dasar yang telah disepakati berdasarkan World Economic Forum tahun 2015 yaitu : literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial dan literasi budaya dan kewargaan. Namun untuk membentuk budaya literasi bangsa, gerbang utamanya adalah meningkatkan minat membaca pada anak. Seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa minat membaca buku pada anak Indonesia sangatlah rendah.

Berbagai upaya berusaha dilakukan pemerintah untuk membudayakan membaca buku pada anak. Namun saya meyakini jika tidak ada dukungan dari keluarga, upaya itu akan sia-sia saja. Keluarga sebagai lingkungan terdekat dengan anak, harus berperan aktif membentuk anak yang suka membaca buku. Jika pemerintah dan keluarga sudah kompak, saya yakin upaya membudayakan membaca buku akan berhasil.

Upaya membiasakan budaya literasi tentu saja adalah tugas bersama. Orang tua sudah seharusnya mengambil peranan penting ketika anak dalam masa pengasuhannya di rumah dan bahkan ketika pun sudah bersekolah. Orang tua terutama ibu adalah kunci dari keberhasilan pembiasaan budaya literasi di lingkungan keluarga.

        Membudayakan membaca buku pada anak memang tak semudah membalikan tangan. Apalagi saat ini kita berlomba dengan kecanggihan gagdet. Tetapi juga bukan tidak bisa. Tentu saja kita bisa melakukannya dengan niat yang kuat, komitmen dan berkesinambungan.

KISAH SAYA DENGAN GADGET

            Saya seorang ibu dari dua anak. Anak pertama laki-laki sekarang kelas satu SMP dan yang kedua perempuan kelas satu SD bernama Azni. Dulu, saya adalah ibu yang tidak suka membaca buku bahkan tak terpikir sedikit pun untuk menyediakan buku untuk anak-anak. Saya yang terlahir dari keluarga sederhana tak terbiasa memiliki buku bacaan di rumah. Saat itu anak saya masih kecil. Kedua-duanya sangat suka main game di smartphone dan menonton televisi. Mereka diberi fasilitas, karena menurut kami saat itu anak-anak juga harus melek teknologi. Sebuah pemikiran yang ternyata menjadi bumerang sendiri di kemudian hari.

            Waktu terus berlalu, saya kemudian mengikuti berbagai seminar parenting. Saya juga banyak membaca buku dan internet. Dari situ pemikiran saya mulai terbuka. Ketika ada sebuah fakta menarik yang menyebutkan bahwa tingkat membaca orang Indonesia berada di level kedua dari bawah, saya serasa ditimpuk. Lalu ketika menyaksikan banyak tokoh dunia menjadi sukses, semuanya berkat kesukaannya pada buku. Disitulah saya merasa bersalah membiarkan anak saya tenggelam dalam keasyikan dunia maya. Mau jadi apa anak saya kelak?

            Sebuah catatan dari Jane M. Healy, Ph.D seorang psikolog pendidikan, tentang efek tayangan televisi kembali menyentak sanubari saya. Pernyataan dia dilansir di APP News, majalah resmi American Academy of Pediatrics. Healy menyebutkan, “higher level of television viewing correalted with lowered academy performance, especially reading scores.” Sederhananya, kuatnya anak melihat televisi berhubungan dengan kemerosotan prestasi akademik khususnya nilai membaca. Anak yang terlanjur suka menonton televisi, akan menyebabkan malas berpikir karena otaknya terbiasa dalam kondisi istirahat.

            Puncaknya, saya melihat anak saya terutama si bungsu mengalami masalah dalam perkembangan sosialnya. Dia kurang bisa bersosialisasi. Dia juga tak percaya diri, pemalu, dan sulit bicara panjang. Disitulah saya yang berdalih resign kerja hanya demi untuk fokus merawat anak merasa gagal.

            Sejak saat itulah saya berpikir bagaimana caranya mengubah kebiasaan tidak baik dalam keluarga. Beruntung, saya kemudian masuk dalam sebuah komunitas penjual buku anak. Di situ, selain ada materi marketing juga sering ada materi parenting. Saya mendapatkan banyak solusi lewat share pengalaman teman-teman. Mulailah saya menyusun proyek literasi keluarga untuk saya, suami dan anak-anak.

Idealnya memang mengenalkan buku jika bisa dilakukan sedini mungkin. Dari buku “Membuat Anak Gila Membaca”, karya Ustad Mohammad Fauzil Adhim (2015), saya mendapatkan banyak ilmu. Seorang anak, sejak dalam kandungan bahkan sudah bisa diceritakan kisah dari buku. Selain bermanfaat untuk perkembangan kecerdasannya, juga membangun keeratan hubungan orang tua dan anak. Jika sejak bayi sudah dekat dengan buku, maka penanaman budaya literasi pada anak akan lebih mudah dilakukan.  

Karena kasus yang saya alami baru sadar ketika anak sudah terbius berbagai game dan televisi, maka tantangan yang dihadapi jauh lebih berat. Tetapi tantangan ke depan pastinya akan jauh lebih dahsyat lagi. Anak akan semakin sulit untuk lepas, karena kita tahu sendiri game dan televisi bersifat adiktif. 

PROYEK LITERASI KELUARGA 

        Saya sadar betul proyek saya itu mungkin akan ditentang bahkan dibenci anak-anak. Sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan lalu diubah pastinya akan menimbulkan pertentangan. Bukan saja kendala dari anak-anak dan suami, namun yang paling berat adalah kendala dari diri sendiri. Saya takut tidak bisa konsisten dan tidak kuat dalam menjalaninya. Tetapi bagaimana pun saya harus berbuat sesuatu. Saya pun mulai mengumpulkan bahan-bahan yang dibutuhkan dari buku, majalah, internet dan lain-lain.

Poin-poin utama yang saya buat adalah mencakup :

1.      Memutus mata rantai pola asuh yang diwariskan dari orang tua dahulu
2.      Membuat komitmen dan  jadwal membaca buku
3.      Menyediakan buku bacaan semenarik gadget
4.      Terus update ilmu dan kreatifitas (alat dan teknik membaca)
5.      Reward dan Punishment

Jadwal Membaca Bulan September 2019
(Dok. Pribadi)
SEMANGAT MEMUTUS MATA RANTAI POLA ASUH DAN KEBIASAAN BAWAAN

       Tak dapat dipungkiri bahwa dalam menjalani kehidupan rumah tangga dan pengasuhan anak, kita akan membawa “warisan” dari orang tua kita. Bagaimana kebiasaan orang tua kita dahulu disadari atau tidak mempengaruhi pola asuh kita pada anak-anak. Saya sejak kecil jarang memiliki buku bacaan. Karena orang tua saya selain memang tak memiliki uang lebih untuk membeli buku, mereka sepertinya juga tidak memprioritaskan hal itu. Dahulu juga tidak mudah menemukan buku anak seperti sekarang, apalagi saya tumbuh di desa.  

       Berbekal ilmu-ilmu yang saya dapatkan, saya sedikit demi sedikit mengubah kebiasaan kami sekeluarga. Budaya warisan orang tua seperti makan sambil menonton televisi, perlahan saya ganti dengan membacakan cerita. Untuk si bungsu yang masih berusia 3,5 tahun penerimaannya lebih mudah. Walau tentu saja tidak langsung menerima (tetap pegang handphone). Tapi bagi si kakak yang saat itu kelas tiga SD agak sulit. Tentu saja saya tidak bisa langsung memaksanya.

          Orang tua adalah suri tauladan bagi anaknya. Oleh karena itu, saya yang lebih sering berada di rumah mulai mengubah kebiasaan sendiri. Beruntung, saya bukan ibu yang sangat cinta drakor atau sinetron atau serial televisi lainnya. Jadi untuk masalah televisi, saya mudah saja meninggalkannya. Saya mulai membatasi menonton televisi juga bagi semuanya. Kebiasaan saya yang baru adalah harus membaca buku bahkan saat anak-anak sedang sibuk dengan smartphonenya.

Permainan Buku oleh Azni
(Dok. Pribadi)

MEMBUAT KOMITMEN DAN JADWAL MEMBACA BUKU

          Pertama kali yang saya lakukan adalah membeli buku dan membuat jadwal baca bersama. Saya pun mengatakan langsung pada kedua anak saya. “Mama telah membeli buku bacaan yang bagus untuk kakak dan adik. Mulai sekarang kita akan memiliki jam khusus untuk membaca ya.” Reaksi si adik cukup antusias, dia memang baru lihat buku yang berbeda dari biasanya. Saya memang membelikan mereka sepaket buku yang beragam bentuk, warna dan gambarnya. Berbeda dengan adik, kakak terkesan cuek dan tidak terpengaruh.

Azni saat masih TK dibiasakan membaca buku sebelum tidur
(Dok. Pribadi)

          Saya pun mengenalkan jadwal membaca buku bersama lengkap dengan manfaat dan rewardnya. Jadwal baca sengaja saya satukan dengan kegiatan belajar / setelah salat Maghrib dan makan, biar sekalian. Biasanya kita akan membahas hasil bacaan semalam setelah selesai salat subuh. Setiap hari Sabtu karena kedua anak saya libur, saya pun membuatkan jadwal kreasi. Bentuk kreasinya bisa membuat kue bersama, praktik sains sederhana, mencampur warna, membuat mainan sederhana dan lain-lain.

Azni dan Kakak membuat slime (hari Sabtu)
(Dok. Pribadi)

MENYEDIAKAN BUKU BACAAN YANG SEMENARIK GADGET

          Saya berpikir bagaimana mengenalkan buku agar semenarik dengan gadget mereka. Beruntung, saat ini buku-buku buatan penerbit Indonesia kian beragam. Jika dahulu untuk mendapatkan buku bagus, harus impor dari luar negeri. Sekarang bermacam buku sudah ada di Indonesia. Bahkan ada buku yang bisa dibaca dengan aplikasi augmented reality (AR), bisa dibaca dengan epen dan lain-lain. Bahkan bentuk buku sekarang sangat menarik. Selain berilutrasi dengan baik juga bentuknya kian variatif. Ada bentuk buku pop up book, ada flip book dan lain sebagainya.

         Tantangan untuk menghadirkan buku di keluarga adalah tentu saja soal budget. Saya juga tak bisa memungkiri untuk mendapatkan sepaket buku bagus itu tak murah. Makanya saat itu saya gencar menjadi marketing buku agar bisa mendapat buku dari komisi yang didapat. Ini hanya soal prioritas sebenarnya. Tak harus mahal juga. Jika bisa membeli buku yang terjangkau, dan anaknya sudah suka malah lebih efisien ya.

       Saya berusaha menyediakan buku di semua tempat yang mudah dijangkau anak. Di  kamar tidur, dekat televisi dan di ruang tamu. Anak saya yang bungsu sering memainkan buku menjadi bentuk-bentuk sesuai keinginan dia. Saya sengaja membiarkannya agar dia terbiasa dekat dengan buku.

Koleksi buku kami di dekat televisi
(Dok. Pribadi)

UPDATE ILMU DAN KREATIFITAS

            Selain menyediakan buku-buku menarik di rumah, saya pun harus terus belajar cara membacakan buku (reading aloud) yang mengasyikan bagi anak. Selain itu juga saya sering melakukan berbagai kreatifitas baik dari kertas, cat air maupun biji-bijian dan tepung-tepungan. Saya pun sering membuat kartu-kartu huruf, angka dan lain-lain dari karton untuk sarana pembelajaran anak saya terutama yang bungsu. Menurut saya, ini juga adalah bagian dari membudayakan literasi dalam keluarga.

REWARD DAN PUNISHMENT
           
            Reward ini terkait dengan si kakak. Saya buat perjanjian dengannya, jika sudah selesai baca satu buku, kakak boleh minta makanan apapun yang disukai. Begitu pun dengan adik, saya sering memberinya penghargaan kalau dia sudah melakukan kegiatan sesuai kesepakatan. Penghargaan ini tidak harus selalu mahal ya. Saya juga tak lupa memberikan hukuman terutama untuk kakak. Jika pada jam tersebut tidak baca buku, saya kurangi jatah main handphone-nya (karena kakak belum bisa sepenuhnya lepas dari Hp).

HAMBATAN-HAMBATAN

            Hambatan dalam pelaksanaan proyek literasi keluarga saya paling berat adalah dari diri saya sendiri. Kemalasan dan capek adalah musuh yang harus dikalahkan. Berat banget pada awalnya, apalagi saya harus mengurus urusan domestik juga. Namun lama kelamaan saya mulai terbiasa. Saya meniatkan semuanya sebagai bentuk rasa syukur dan pengabdian saya sebagai insan yang telah diberikan banyak kebahagiaan oleh-Nya.   

KEBERKAHAN-KEBERKAHAN DARI KESUNGGUHAN

            Benar sekali jika kita bersungguh-sungguh maka akan mendapatkan hasil. Tuhan pun menyuruh hambanya untuk bersungguh-sungguh dalam melakukan kebaikan. Walau pun terseok-seok, proyek literasi keluarga saya bisa dibilang berhasil. Alhamdulillah wa syukurillah, saat ini si bungsu sudah tak pernah memegang handphone, bahkan menonton televisi pun tak pernah. Untuk kakak, saya masih memberinya toleransi, sepanjang dia masih melakukan kesepakatannya. Karena untuk kakak yang sudah kelas satu SMP, terkadang memang membutuhkan smartphone untuk browsing informasi atau membuat konten vlog yang mulai digemarinya.

Azni dan temannya Widya yang sedang membaca dan memainkan buku.
(Dok. Pribadi)

           
Keberkahan tak terkira yang begitu membuat saya selalu bertakbir adalah si adik yang dulu dilabeli anak kuper, kini jadi anak berani, banyak teman dan cerdas. Dia juga bisa membaca buku sejak sebelum masuk SD dengan mudah. Bukan itu saja, setiap melihat buku, wajahnya akan semringah. Hilang rasanya rasa lelah saat saya harus extra memperhatikan dia. Saya setiap waktu membacakan buku, memberianya kesempatan menyimpulkan cerita, melakukan berbagai kreatifitas bersama, bermain bersama. Saya pun mendatangkan temannya ke rumah untuk sama-sama bermain. Bukan itu saja, saya ikut ke sekolahnya. Berkenalan dengan teman-teman barunya, hingga dia mulai percaya diri. Alhamdulillah, saya sering diberi kesempatan untuk membacakan buku bagi anak-anak PG dan TK di sana.

Kegiatan Mama membacakan buku di SDN Kranggan Mojokerto
(Dok. Pribadi)

            Keberkahan kedua adalah si Kakak. Masya Allah si kakak luar biasa. Dia yang dulu dilabeli tetangga sebagai anak gila game menjelma menjadi anak yang berprestasi dan berkarya. Kakak banyak mendapat piala dalam lomba-lomba tingkat kota, provinsi maupun nasional. Kakak juga sudah memiliki buku sendiri. Dia ikut menulis cerita pendek dalam dua buku antologi bersama teman-temannya.

            Keberkahan paling tak terduga adalah saya menjelma menjadi penulis buku anak. Allah memang sebaik-baiknya pembuat skenario. Dari kebiasaan saya membacakan buku pada anak, saya menjelma menjadi penulis buku anak. Beberapa buku anak saya sudah terbit di beberapa penerbit nasional maupun indie. Saya juga terpilih menjadi salah satu penulis buku anak dalam ajang Gerakan Literasi Nasional yang diselenggarakan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2019 ini.

       Saya setuju dengan pepatah Arab ini : man jadda wajada. Siapa pun yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil. Atas izin Allah, proyek saya itu cukup berhasil setidaknya menurut saya. Walau pun hingga kini masih terus memperbaiki dan berusaha konsisten. Saat ini saya berusaha memberikan contoh dengan terjun langsung menjadi bagian pejuang literasi. Saya membaca buku, menulis dan membacakan buku bagi anak saya maupun anak tetangga saya. Kedepannya saya memiliki impian untuk meluncurkan program "Membacakan Buku Gratis Bagi TK-TK di Mojokerto". Semoga terwujud, aamiin. 

             Semoga secuil pengalaman saya ini dapat melecut semangat dan bermanfaat bagi siapa pun yang membacanya. Mari kita bantu upaya pemerintah menggalakkan literasi bangsa dengan upaya kita dari rumah. Semoga segala upaya yang tengah kita lakukan bersama nantinya akan menghasilkan generasi Indonesia berkualitas dan berakhlak baik. Aamiin.
           


Artikel Terkait

adalah seorang Ibu dari dua anak hebat dan Penulis Buku. Bisa dihubungi di Facebook atau email yetinurma82@gmail.com


EmoticonEmoticon