Minggu, 06 Oktober 2019

Perjalanan Menuju Pertemuan Penulis Gerakan Literasi Nasional (GLN) Tahun 2019

Tags


Sebagian dari teman-teman penulis dari penjuru tanah air
(Dok. Yeti Nurmayati)

Setelah dinyatakan lolos seleksi, kami yang terdiri dari 96 penulis buku anak dikumpulkan dalam sebuah grup whatshapp. Di sanalah perkenalan dan segala tek tek bengek tentang proses selanjutnya diinfokan. Perasaan saya tentu saja very happy. Serasa mimpi. Serasa telah lulus jadi penulis beneran juga, wahahaha. Apalagi bisa berkenalan dengan para senior di dunia buku anak, seperti : Kang Ali Muakhir, Kang Iwok Abqary, Mbak Tria Ayu, Mbak Widya Ross, Mbak Watiek Ideo, Mbak Nindya Maya, Mas Redy Kuswanto, Mbak Baby Haryani Dewi, Mbak Wylvera, Teh Ary Nilandari dan lain-lain. Pokoknya nama-nama penulis yang selama ini aku baca di cover buku mereka, akan segera saya temui langsung di Jakarta. 

Berdasarkan planning panitia, kami akan dikumpulkan di Hotel Kartika Chandra Jakarta selama tiga malam empat hari. Tepatnya tanggal 24-27 April 2019 (Rabu-Sabtu). Horeee... akhirnya emak bisa piknik juga! Ahaha, kok piknik sih? Belajar keles. 


Tanda Pengenal dan Buku Panduan
(Dok. Yeti Nurmayati)


MENGONDISIKAN ANAK-ANAK

Tanggal telah ada. Emak malah jadi deg-degan, karena tanggal 22 April itu adalah Ujian Nasional anak SD. Kebetulan sulung saya, Kak Aziz memang kelas enam dan akan ikut UN pastinya. Saya coba bicarakan dengan Kakak tentang jadwal keberangkatan Emak. Secara emak kan jauh dari keluarga besar, keluarga perantau. Jika emak pergi, otomatis kakak dengan ayahnya. Nah saat itu, Ayahnya ada acara juga ke Surabaya, meeting kantor. Jadilah emak makin bingung. 

Alhamdulillah si Kakak sendiri akhirnya yang kasih solusi. Di hari pertama, dia akan nginep di rumah temannya. Hari kedua kebetulan papanya pulang. Dia hanya akan menginap semalam saja. Sulung saya ini memang sudah mandiri soal belajar. Jadi saya tak khawatir lagi kalau soal persiapan materinya dia. Oke kakak udah siip. Nah giliran si adik nih. Saat itu adik masih TK B, saya pikir dia lebih baik dititipkan di Tasikmalaya saja di rumah kakak saya. Kebetulan teteh saya mau merawatnya. Soalnya kalau dibawa ke acara, pertama takut mengganggu acara yang formal, kedua takut bosan, ketiga takut kemana-mana dan saya gak bisa konsentrasi menyerap ilmu. 

Alhasil saya berangkat hari Selasa ke Tasikmalaya dulu untuk menitipkan si adik. Oh iya saya kan emang aslinya Tasikmalaya, walaupun tinggal di Mojokerto hehe. 

MENGURUS SURAT PERJALANAN DINAS

Ada cerita seru sekaligus menjengkelkan dalam mengurus surat perjalanan dinas. Surat ini dimaksudkan agar segala bentuk pengeluaran transportasi diganti oleh panitia. Dalam praktinya katanya hanya tinggal minta tanda tangan dan stempel kepala desa dimana penulis tinggal. Oke saya mulai datang ke kantor kepala desa. Pertama kali Pak Lurahnya tidak ada karena saat itu lagi masa-masa Pemilu. Katanya beliau sedang sibuk di lapangan. Oke saya akan kembali besok. 

Besoknya saya kembali lagi ke kantor kepala desa. Ternyata Pak Lurah yang terhormat pun masih tidak ada. Lalu tiba-tiba ketika saya menunggu, ada dua orang mahsiswa sepertinya yang juga mencari Pak Lurah. Seorang Ibu pegawai memberitahu saya untuk ikut rombongan untuk menemui bapak yang terhormat tersebut. Oke saya pun mengikuti mereka. Dan, sampailah kami di tempat usaha Bapak Lurah. Beliau ada, sedang merokok. Setelah antri, saya kebagian terakhir. Saya utarakan maksud dan tujuan saya dan menyerahkan lembaran untuk ditanda tangani. Berbagai pertanyaan pun saya jawab dengan sebaik-baiknya. Walau pun ada beberapa perkataan yang terdengar cukup sinis dilontarkan olehnya yang bicara dengan pegawainya. Saya tahu dari raut wajah keduanya kalau ada gelagat tidak enak, tapi saya abaikan. Entah apa maksud keduanya? Intinya beliau tidak mau menandatangani langsung. 

"Mbak, minta stempel saja dahulu ke kantor kepala desa," katanya. 

Saya yang polos los, menurut. Saya pun balik lagi ke kantor kepala desa untuk minta stempel dulu. Ketika balik lagi ke tempat bapak Lurah tadi, beliau sudah tidak ada lo. Saya tanya ke pegawainya pun tidak ada yang tahu. Lemes deh saat itu juga, padahal berangkat besoknya lo. Nggak ada waktu lagi. 

Lalu saya pun balik ke kantor kepala desa, curhat lah ke sekretaris desa. Beliau menyarankan ke rumahnya saja. Subhanallah, apakah sesusah itu meminta tandatangan seorang kepala desa? Saya menangis karena kesal dan teringat Bapak saya almarhum. Bapak saya menjadi kepala desa selama dua periode dan alhamdulillah beliau seorang yang baik. Beliau tak pernah menyusahkan atau pun menghalangi siapa pun yang ingin berkembang. 

Ada seorang teman mengatakan, mungkin karena saya tak memberinya uang. Lah kalau soal itu, saya mau saja memberikan asal ditandatangani dulu la ya. Singkatnya saya down, saya marah banget karena merasa dipermainkan. Untuk ke rumahnya? Sorry la ya, emangnya saya pengemis? Bukankah dia yang pelayan bagi masyarakatnya?

Sehabis Maghrib, saya pun coba menghubungi panitia, dan katanya bisa minta tandatangan ke RW atau RT. La dalah, tahu gitu nggak usahlah saya ketemu Bapak Mengenaskan itu. Pak RW rumahnya di depan rumahku lo. Akhirnya menemui Pak Rw, dan beliau ternyata lagi di luar kota, ya Allah down lagi. Kesempatan terakhir adalah ke Pak RT! Bismillah deh... alhamdulillah Pak RT ada dan tuk tuk! beres tuh distempel. Masya Allah, sungguh perjuangan yang menyedot energi banget gaess.  

TRANSIT TASIKMALAYA DAN PERJALANAN MENUJU JAKARTA

Saya berangkat duluan menuju Tasikmalaya pakai kereta api. Di rumah Kakak, saya menitipkan adik Azni. Saya pun janjian dengan Kang Iwok Abqary di stasiun untuk keberangkatan pagi-pagi menuju Jakarta. Menurut panitia sih, transport saya hanya dihitung dari Tasikmlaya saja karena saya transit, kalau mau diganti full harus berangkat dari Mojokerto. Padahal yang lebih mahal justru dari Mojokerto ke Tasikny lo. Tapi sekali lagi saya mengikhlaskan semuanya. Ini adalah tentang membuat buku anak yang baik, dan pasti saya pun akan mendapat banyak ilmu dan pengalaman, so sebetulnya bayar pun nggak masalah. 

Selama perjalanan, saya tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengorek berbagai informasi kepenulisan dari Kang Iwok. Tahulah, beliau salah satu penulis anak yang tak diragukan lagi kemampuan dan pengalamannya. Kang Iwok sosok yang sangat baik, sayang keluarga dan sayang kucing-kucingnya hihi. Dan Kang Iwok pun sangat terbuka  menceritakan segala pengalamannya kepada saya yang masih harus banyak belajar. 


Duo Penulis keren (Dok. Yeti Nurmayati)

Sampailah kami di statsiun Bandung, dengan bantuan Kang Iwok saya pun dibelikan tiket menuju Jakarta. Kami kebetulan beda gerbong, dan tak terduga saya duduk bersama seorang perempuan yang terdengar hebat. Dia adalah seorang dosen yang katanya sering ke luar negeri. Dia juga menceritakan tentang suaminya, anak hingga pekerjaannya sebagai sekretaris seorang boss besar. Selalu ada pelajaran yang saya ambil daris ebuah percakapan. Dari Ibu yang ternyata bergelar Doktor, saya mendapat banyak informasi tentang sekolah anak-anak, tentang banyak hal deh. Walau pun kadang dia sedikit sombong. Apalagi dia tahu saya seorang ibu rumah tangga biasa. hehe... Saya sih santai saja, berusaha jadi pendnegar yang baik. Tak terasa sampai juga di Jakarta, eh ternyata satu kereta juga sama Kang Ali Muakhir. Uwoow kan, saya langsung minta foto dong ehehe.. 


Bersama Kang Ali Muakhir
(Dok. Yeti Nurmayati)

Sesampainya di hotel, kami dipersilakan untuk registrasi. Heboh banget lo, soalnya biasanya hanya bertegur sapa lewat dunia maya, akhirnya dipertemukan langsung. Panitia sudah membuat daftar teman sekamar yang akan jadi teman tidur selama tiga malam di hotel tersebut. Saya tenyata dipasangkan dengan Ibu Ana Widyastuti, seorang kepala sekolah seklaigus dosen di Depok. Beliau sosok yang hebat, inspiratif dan sangat bersemangat belajar walaupun usianya tak sudah tak lagi muda (sama dengan saya). Bu Ana ini saat acara memakai alat bantu jalan, karena katanya pasca kecelakaan dan belum sembuh total. Masya Allah, saya sangat terinspirasi oleh semangat belajarnya. Bu Ana juga adalah seorang penulis buku anak yang lebih banyak membuat buku aktivitas. Dari beliau, saya banyak mendapat ilmu. 


Bersama Bu Ana Widyastuti (Dok. Yeti Nurmayati)

Selama tidur dengan Bu Ana, saya selalu happy. Kami tidak jaim, kami apa adanya. Dan, dia sosok yang lucu, jadinya kita banyak ketawa-ketiwi. Pokoknya selama dua hari saja, kami sudah sangat akrab dan kompak. Bahkan di malam terakhir kami berencana nonton film Avenggers : Endgame kalau tidak salah. Sayangnya, saya harus pulang duluan karena sesuatu hal (nanti akan saya ceritakan di tulisan berikutnya). Saya bahkan tidak sempat mengucapkan kata perpisahan karena tidak smepat ketemu ketika saya mau pulang duluan. 

Itulah sekelumit cerita perjalanan saya menuju pertemuan penulis GLN 2019. Tentu saja banyak hikmah di dalamnya yang memberikan pelajaran berharga bagi saya. Tunggu cerita lainnya ya. 







Artikel Terkait

adalah seorang Ibu dari dua anak hebat dan Penulis Buku. Bisa dihubungi di Facebook atau email yetinurma82@gmail.com


EmoticonEmoticon