Rabu, 16 Oktober 2019

Punya Anak Selalu Ngeselin? Yuk Baca Hasil Parenting Seru Bersama Ustad Naruto

Tags


Dok : Yeti Nurmayati

Siapa yang sudah tahu Ustad Naruto? Cung! Ustad kok kaya tokoh kartun Jepang ya. Hihi.. saya pun baru kenal pas hari itu, Mak. Di acara Parenting di sekolah anak gadis saya, SDIT Permata Mulia Mojokerto. Awalnya saya pun cukup kaget, hah Ustad Naruto? Lalu saya pun cari tahu tentang beliau. Eh ternyata beliau Ustad muda yang cukup terkenal di Surabaya khususnya. Karena beliau memang asalnya dari Surabaya.

MENGENAL USTAD NARUTO

Nama asli Ustad Naruto adalah Marzuki Imron, ST. Beliau adalah lulusan Teknik Mesin ITS Surabaya. Sudah memilik istri dan putri sepertinya (beliau tidak terlalu banyak bicara soal keluarganya). Yang pasti beliau tinggal di Surabaya. 

Kenapa dikenal sebagai Ustad Naruto?

Berdasarkan info yang saya lihat di you tube pada acara Hitam Putih Trans 7, beliau menceritakan asal muasal julukan tersebut ketika ditanya oleh Mas Deddy Corbuzier. Katanya, awalnya karena beliau tahu kalau target dakwahnya adalah anak-anak mahasiswa (muda), maka agar lebih diterima oleh mereka, Ustad memutuskan memakai jaket Naruto. Tak disangka responnya luar biasa, para mahasiswa menjulukinya Ustad Naruto. 

Kenapa Ustad pilih tokoh Naruto bukan Boboi Boy misalnya atau Power Ranger gitu? 


Ustad Naruto memegang Buku Cerita-cerita Sains Terbaik dari hadis Nabi karya saya
(Dok. Yeti Nurmayati)

Karena Ustad memiliki kisah yang cukup mendalam dengan film animasi itu. Dulu, katanya saat beliau masih menjadi mahasiswa pernah berada di titik terendah dalam hidupnya. Saat berada di kamar kost, beliau memutuskan untuk nonton film kartun Naruto secara maraton. Beliau memang penasaran dengan sosok Naruto yang banyak disukai teman-temannya itu. Nah, pada satu scene dimana Naruto yang kadang sok bijak itu berkata soal takdir, kok tetiba omongan itu nancap di hati sang Ustad. 

Singkatnya, beliau mengatakan perkataan Naruto itu lumayan membuatnya bersemangat kembali. Bisa jadi beliau juga berterima kasih  pada film Naruto yang telah membuatnya bangkit dari keterpurukan. Hingga saat ini, Naruto dan Ustad Marzuki Imron tak terpisahkan. La wong putrinya juga namanya Himawari hihi... 

Itulah sekilas mengenal Ustad Naruto yang kubilang sangat energik dan menghibur. 


PARENTING YANG SANGAT EKSPRESIF DAN BERAPI-API 

Kedatangan Ustad Naruto ke Mojokerto itu adalah undangan dari SD dimana anak bungsu saya sekolah. SD tempat anak saya belajar, sengaja mengundang beliau untuk mengisi acara parenting orang tua murid agar lebih paham lagi soal mendidik anak.  

Ketika pertama kali melihat beliau, orangnya seperti pendiam dan saya pikir akan menyampaikan materi dengan biasa saja. Standar dan mungkin membosankan. Tapi, tahu tidak, dugaan saya itu sangat keliru. Ustad Naruto sangat energik layaknya Naruto kalau sedang meneriakan musuh-musuhnya. Lantang, lugas dan penuh hiburan (kadang konyol).

Di luar ekspektasi saya, Ustad Naruto sangatlah ekspresif dan all out! Saya sejak pertama beliau ceramah sudah terhipnotis memperhatikan seluruh ekspresi wajah dan isi materi yang disampaikannya. Sedikit-sedikit tertawa riuh, iya semua terhibur. Tapi jangan salah, materi yang disampaikannya pun amat keren. 

Kesimpulan saya, Ustad Naruto adalah salah satu ustad muda yang unik. Beliau memilih untuk akrab di berbagai kalangan dengan caranya. Bagi saya ini sangat luar biasa keren. Sebuah inovasi seorang Ustad merangkul umatnya. Tapi ada yang lebih keren lagi dari itu, beliau bukan ustad sembarang ustad. Beliau Ustad yang peduli urusan parenting. Iya, seperti yang saya tulis di awal, beliau di undang untuk acara parenting bukan hanya sekedar ceramah. Ilmu parentingnya pun mantap dan sangat cocok untuk keadaan orang tua zaman now


Ibu-Ibu Komite dan Perwakilan kelas foto bareng Ustad Naruto
(Dok. Yeti Nurmayati)

ISI MATERI YANG DISAMPAIKAN GURIH, RENYAH DAN BERBOBOT

Bicara isi materi yang disampaikan, saya kebetulan menuliskan poin pentingnya saja. Ustad Naruto menyampaikan materi mengenai cara mendidik anak yang baik sesuai dengan fitrahnya. Cara mendidik anak di keluarga, karena memang keluarga adalah lingkungan pertama dan utama bagi pertumbuhan anak. 

Setidaknya, ada tiga poin penting yang wajib dilakukan orang tua agar anaknya sukses menjadi insan mulia, berakhlak baik dan berkarakter. Apa saja poin penting itu? Yuk kita bahas satu per satu. 

1. Berbicara pada anak sesuai dengan usianya

Ini sangat penting dan menentukan apakah ilmu yang akan kita sampaikan akan diterima dengan baik oleh anak atau malah sebaliknya. Bicara dengan anak juga ada ilmunya lo, Ayah Bunda. Dan, kita sebagai orang tua harus paham itu agar tercapai apa yang menjadi tujuan kita. Ketika bicara dengan anak balita tidak mungkin kan kita mengajaknya diskusi? Yang ada anak malah bingung. 

Berdasarkan ilmu yang disampaikan oleh Ustad Naruto, ada tiga bahasa yang dapat dipakai orang tua dalam menyampaikan nilai-nilai kebaikan pada anak berdasarkan usia mereka. Apa saja ya? Yuk simak.

a. 0-7 tahun : Bahasa Cerita/Dongeng

Anak usia ini memang paling suka dibilangin dengan cara bercerita atau mendongeng. Ayah atau Bunda bisa membuat dongengnya sendiri dengan nilai-nilai kebaikan yang telah disiapkan, atau bisa menyontek dari buku atau bahkan bisa sambil membacakan buku (jujur saja, bagian ini saya tambahkan ya, maklum saya kan penulis buku anak hihi). 

Anak usia ini akan mudah menerima nilai-nilai kebaikan dari menyimak cerita. Apalagi jika Ayah dan bundanya hebat dalam bercerita. Anak-anak pasti happy dan di alam bawah sadarnya akan tertanam nilai-nilai kebaikan itu. Ciptakan suasana menyenangkan setiap kali ayah bunda bercerita atau membacakan buku, bacakan dengan ekspresif, insya Allah anak-anak akan ketagihan.

b. 8-14 tahun : Bahasa contoh

Nah di masa menuju remaja, seorang anak butuh contoh. Bukan lagi cerita apalagi dongeng. Tapi real, contoh yang nyata. Di uisa ini ayah bunda wajib menyontohkan perilaku yang ingin anak tiru. Tidak perlu banyak bicara, apalagi teriak, cukup perlihatkan jadi seorang muslim/muslimah yang baik itu seperti apa. Ketika ayah menginginkan anaknya salat di Masjid, ketika terdengar azan, Ayah langsung ambil air wudu, lalu pakai sarung, koko plus kopiyah dan gandeng anaknya menuju masjid. 

Di sinilah dibutuhkan peran kedua orang tua yang selalu konsisten. 


c. 14-selamanya : Bahasa Diskusi

Setelah dewasa, anak akan tetap membutuhkan orang tua. Jika ternyata anak melakukan kesalahan, bicarakan dengan cara diskusi. Ajak anak diskusi dengan santai dan jadilah temannya yang mengasyikan. 


2. Jangan Memaksakan Keinginan Anak

Nomor dua setelah bahasa yang sesuai dengan usia anak, adalah jangan pernah memaksakan kehendak orang tua. Biarkan akan memiliki hobi, memiliki kesenangannya sendiri selama itu positif. Biarkan anak dengan pilihan hidupnya, jangan memaksakan hidup anaknya. Seorang anak yang terpaksa mengikuti kehendak orang tua sudah pasti bakalan tidak bahagia alias tersiksa batinnya. Dan, bisa jadi suatu hari dia akan membenci orang tuanya. 

3. Doa yang tak pernah putus

Menjadi orang tua sejatinya adalah memperbaiki kualitas hidup sendiri. Jika Ayah Bunda menginginkan anaknya soleh solehah, maka Ayah Bunda dulu harus soleh solehah. Jika menginginkan anak laki-lakinya lembut dan menghormati perempuan, maka ayah harus menyontohkannya pada Bunda. Jika ingin anak perempuannya jadi istri yang baik, maka bunda harus menyontohkan jadi istri yang baik. Dan lain-lain. 

Berat? Sangat. 

Karena kebanyakan dari kita adalah ingin anaknya soleh solehah, tapi dirinya tak mau belajar. Tidak mau memperbaiki diri, tak mementingkan ilmu agama, apalagi ilmu parenting. Hanya dengan bisa memiliki anak, dipikir sudah cukup dibilang jadi orang tua. Tidak. Bayangkan saja, Anda dititipi seorang anak oleh Allah untuk dibimbing dan dididik sebaik-baiknya. Dan, kelak Anda akan dimintai pertanggungjawabannya. Apa yang sudah Anda lakukan untuk anak Anda? 

Apa cukup hanya dengan memberinya uang? No. 

Anak bisa tumbuh badannya dengan uang, tapi hatinya kosong. Anak tidak bahagia, anak mungkin akan mencari figur orang lain yang bisa jadi malah dari orang yang tidak bertanggungjawab. Kehangatan dalam keluarga sangat berdampak pada prestasi, kecerdasan emosi dan ketahanan mental anak. 

"Ah urusan anak mah biar ibunya saja yang pegang, aku kan kerja," kata Ayah. 

Tidak bisa begitu, Ayah. Itu artinya Anda tidak bertanggungjawab. Seorang Ayah tugasnya bukan hanya mencari nafkah, tapi lebih dari itu. Tahu tidak, Indonesia ini sedang krisis ayah lo. Peran ayah dalam keluarga Indonesia itu minim. Sehingga bermunculan anak-anak yang lebay, anak cowok yang kecewek-cewekan, dan kasus lainnya. Bukan itu saja, ada banyak anak perempuan yang mencari pengganti ayahnya di luar. Naudzubillah

Ayah lebih suka sibuk mencari uang dan kerja, dari pada bermain dan menemani anak. Ayah tak pernah mau tahu urusan anak dan rumah tangga. Padahal, apa artinya uang jika anaknya rusak? Betul kan? Iya siapa pun tahu uang juga penting, tapi Ayah juga memiliki keawjiban lain yang juga penting, yaitu mendidik anak!

Terkadang, Ayah ada di rumah pun hanya raganya saja, jiwanya tidak ada. Padahal, ayah seharusnya menjadi panutan bagi anak-anaknya. Ayah juga yang memimpin berjalannya rumah tangga. 


Keluarga yang kuat berasal dari ayah yang peduli dan hangat. 

Wah, jadi kepanjangan ceritanya. 

Itulah sekelumit ilmu yang saya dapatkan dari acara parenting bersama Ustad Naruto di SDIT Permata Mulia. Sungguh ilmu yang sangat bagus dan cocok untuk fenomena saat ini. Sebuah pertemuan yang bagi saya sangat berkesan, karena saya pun cukup hapal tokoh-tokoh film Naruto. Kebetulan anak saya yang besar juga ngefans sama Naruto. 

Mohon maaf jika ada salah-salah, semoga tulisan ini bermanfaat bagi siapa pun yang membacanya. AAmiin 








Artikel Terkait

adalah seorang Ibu dari dua anak hebat dan Penulis Buku. Bisa dihubungi di Facebook atau email yetinurma82@gmail.com


EmoticonEmoticon