Minggu, 19 April 2020

Royalti atau Jual Putus? Lebih Menguntungkan yang Mana ya? Berikut Penjelasannya

Pic by Canva



Halo, selamat pagi…

Siapa yang sudah menikmati lezatnya uang hasil royalti penjualan buku atau jual putus naskah? Ya itulah bagian terlezat dari proses penulisan buku. Hilang sudah rasa lelah karena dikejar deadline, karena revisi ini dan itu, lelah menunggu jadwal terbit, ketika mendapatkan hasil jerih payah dengan jumlah yang lumayan. Banyak lo teman-teman saya terutama penulis buku anak yang mendapatkan penghasilan yang lebih dari cukup dari menulis buku. 

Apa sih royalti? 


Mungkin bagi yang awam ada yang bertanya seperti itu. Royalti itu uang hasil penjualan buku selama kurun waktu tertentu. Jadi, penulis nulis buku, lalu dikirim ke penerbit, kalau acc, maka penerbit akan menerbitkan bukunya. Penulis pastiya akan dibayar dalam bentuk royalti atau beli putus. 

Untuk royalti, biasanya bagian penulis hanya sekitar 5-10 % saja dari harga jual per bukunya. Dibayar enam bulan sekali. Kok kecil ya prosentase untuk penulis? Ya itu memang standarnya untuk penulis di Indonesia. 5% itu untuk penulis buku anak karena harus bekerjasama dengan illustrator yang gambarin buku agar makin keceh dan dibeli ibu-ibu. Walau hanya 5%, tapi jika terjual 10.000 eksempler kan lumayan. Makanya, agar penulis makin semangat dan terus berkarya, belilah bukunya jangan minta ya, walau pun itu temanmu. Karena penulis mendapatkan keuntungannya nggak banyak, apalagi jika tidak ada yang beli, bisa-bisa gigit jari dia.

Baca juga :

Nulis itu jangan hitung-hitungan uangnya, yang penting manfaatnya, Bu. 

Benar banget itu. Tapi tak dipungkiri saya salah satu penulis buku anak yang memang mengharapkan ada penghasilan dari hobi saya itu. Dan menurut saya sah-sah saja, halal. Perkara itu bermanfaat, sudah sangat jelas pasti bermanfaat, Namanya juga buku pastinya ada manfaatnya jika dibaca, kecuali jadi pajangan rak buku saja, sudah pasti hanya bermanfaat sebagai pencitraan doang wkwk. 

Nah, dalam praktik dunia buku dan penerbit, ada dua macam cara pembayaran penerbit terkait naskah penulis yang akan diterbitkan. Ada penerbit yang menggunakan cara pembayaran royalti dan ada pula yang lebih suka dengan sistem beli putus. Apa perbedaannya? Yang mana yang lebih menguntungkan?

1.      Sistem royalti
Seperti yang sudah saya bahas di atas, system pembayaran royalti di lakukan secara berkala, ada yang tiga bulan sekali dan ada yang enam bulan sekali. Tapi yang umum adalah enam bulan sekali. Besarnya tergantung jumlah buku yang terjual di pasaran. 

Dalam praktiknya, ada penerbit yang mengenakan system depe di depan ada yang tidak. Penerbit yang memberikan depe di depan, Ketika enam bulan kemudian (masa pembayaran royalti) besarnya jumlah uang royalty akan dikurangi depe yang sudah diberikan di awal. Keuntungannya bagi penulis adalah, penulis mendapatkan uang depe Ketika buku terbit. Itu sangat menyenangkan bagi saya ketimbang menunggu hingga enam bulan lamanya setelah terbit. Bagi penerbit yang tidak memberlakukan system depe, penulis tinggal tunggu saja selama enam bulan lamanya setelah buku terbit. Selagi menunggu, segeralah nulis lagi dan kirim hingga royaltimu nantinya makin besar karena hasil penjualan dari beberapa buku.


2.      Beli putus
Kalau beli putus, biasanya penerbit membeli naskah kita sekaligus di awal. Berapa pun kelak penjualan bukunya, penulis tidak punya hak apa-apa lagi. Kecuali, penulis mau menjual bukunya. Biasanya, penerbit memberikan diskon khusus penulis 30-40% dari harga buku. Nah, jika kalian pinter marketing atau jualan, tentu akan mendapatkan keuntungan yang lumayan juga. 

Besarnya uang beli putus, tiap penerbit beda-beda. Tergantung penerbitnya. Kalau pengalaman saya, ada penerbit yang memberikan hanya 1,3 juta saja untuk 10 judul cernak (kumpulan cerita), ada juga yang memberikan 1,5 per judul untuk buku berseri (ada 10 judul). Ada juga penerbit yang menghitungnya berdasarkan jumlah karakter/huruf. Semuanya penerbit yang menentukan, jika penulis sepakat, lanjut. Jika tidak, boleh menolak atau nego kok.  Penulis juga memiliki hak sama dengan penerbit jika tidak cocok. 



Apa sih kelebihan dan kekurangan dua system pembayaran itu?

Sistem royalti jelas memberikan keuntungan jangka panjang. Artinya sampai kapanpun, jika buku masih ada yang beli, penulis masih dapat keuntungan. Nah, ini yang sering membuat penulis lebih suka memakai sistem royalti. Tapi walau begitu, jangan dikira akan laku terus ya, karena semakin banyak buku baru bermunculan, persaingan pun kian ketat. Faktor lain juga adalah waktu mejeng di toko bukunya kadang hanya sebentar, kecuali untuk buku yang memang best seller sejak awal. Makanya, menurut para senior, 3 bulan pertama sejak buku lahir/terbit, adalah kesempatan penulis untuk mempromosikan bukunya agar hasilnya penjualannya bagus. 

Sebaliknya sistem beli putus ya putus, sudah di awal saja. Jika pun buku laku banyak, penulis tidak mendapatkan apa-apa lagi. Tetapi, pengalaman saya ada penerbit yang memberikan bonus tambahan untuk penulis ketika buku laku 5000 eks lebih dan berlaku kelipatannya.

Bagaimana cara memaksimalkan pendapatan hasil dari penjualan buku?

Ada berbagai tipe penulis buku. Ada yang menyerahkan sepenuhnya penjualan ke toko buku, ada yang berusaha menjualnya bahkan sangat berhasil. Penulis yang menjual bukunya sendiri, setidaknya harus memiliki bekal strategi penjualan terutama lewat online jika ingin maksimal. Semakin banyak buku terjual, semakin besar jumlah royalti yang akan didapatkannya nanti. Makanya jangan bosan lihat teman jualan bukunya ya, mbok yo beli gitu lo biar temannya senang hihi.

Untuk penulis yang takdir bukunya dibeli putus, jangan putus asa, Gaes. Saya tahu rasanya kok. Makanya Ketika bukunya terbit, saya upayakan untuk menjual bukunya, lumayan lo diskonnya gede. Pengalaman saya saat menjual buku paket Masterkids : Meneladani Sifat Dan Karakter Rasulullah, saya bisa menjual puluan paket, bahkan hampir 100 paket. Harga sepaket Masterkids adalah 279.000 diskon penulis 40%. Monggo dihitung sendiri, alhamdulillah bisa buat beli sembako di musim pandemic corona ini hehe. 

Buku paket Masterkids : Meneladani Sifat dan Karakter Rasulullah karya saya

Iya benar, kuncinya tetap ada di penulisnya sendiri. Mau sistem royalti atau beli putus, jika penulisnya pandai menjual atau sudah punya fansbase, pasti akan tetap menguntungkan kok. So, jangan sedih jika mendapatkan takdir naskahnya dibeli putus, tak selamanya mendung itu kelabu, Gaes (hadeuh ini lagu zaman purba wkwk). Yang jelas, selain menulis buku, penulis juga dituntut untuk mampu menjual bukunya jika ingin laris manis. Untuk bisa menjual bukunya, penulis juga harus belajar strategi jualan yang baik. Banyak kok tutorilnya di yutub, di google atau pun di buku-buku panduan/pengalaman sukses orang lain. So, mari terus belajar. Karena kesuksesan katanya tak akan menghianati usaha.  


Ah, saya mah nulis hanya hobi kok, bukan mengincar uangnya. Jadi santai saja mau laku atau enggak. Ya monggo, boleh saja. Nggak ada yang larang. Tapi apa nggak kasihan ke penerbit yang sudah merogoh modal untuk menerbitkan buku kamu? Untuk bayar listrik, bayar editor, bayar layouter, bayar OB, bayar satpam dan karyawan lainnya. Setidaknya bantu dengan mempromosikan bukunya sendiri ya. 

Nah, itu ulasan saya tentang pembayaran royalti atau beli putus berdasarkan pengalaman saya yang masih seuprit ini. Terima kasih sudah membaca, jika ada yang salah, tolong beritahu saya ya. Tetap jaga Kesehatan, tetap di rumah saja, agar penyebaran virus korona tidak perlu menyebar luas lagi. Salam sayang dari kota Mojokerto. 

19 April 2020







Artikel Terkait

adalah seorang Ibu dari dua anak hebat dan Penulis Buku. Bisa dihubungi di Facebook atau email yetinurma82@gmail.com


EmoticonEmoticon